Ini Asal-Usul dan Kontroversi Gus Miftah, Benarkah Terima Rp100 Juta Hasil Korupsi?

4 Min Read
Man wearing a black songkok, sunglasses, and a light blue traditional outfit with patterned trim, seated indoors.
Gus Miftah (Foto IG:@gusmiftah)

Mabur.co – Nama pendakwah Miftah Maulana Habiburrahman atau yang lebih dikenal sebagai Gus Miftah kembali menjadi sorotan publik. 

Hal itu setelah Gus Miftah disebut menerima aliran dana sebesar Rp100 juta dari terpidana kasus korupsi DJKA, Dheky Martin, dalam sidang lanjutan kasus korupsi proyek DJKA Kementerian Perhubungan di Pengadilan Tipikor Semarang.

Disebut dalam Persidangan

Munculnya fakta persidangan tentang nama Gus Miftah sebagai penerima aliran dana proyek pembangunan Jalur Ganda Kereta Api Solo–Semarang (JGSS) Fase 1 itu pun membuat heboh netizen di dunia maya.

Terlebih selama ini Gus Miftah memang dikenal sebagai sosok pendakwah yang kerap melakukan tindakan atau melontarkan pernyataan kontroversial sehingga kerap memancing perdebatan publik.

Salah satu kontroversi yang paling ramai adalah saat video dirinya dianggap merendahkan seorang pedagang es teh dalam sebuah acara viral di media sosial. Peristiwa itu menuai kritik luas dan membuat Gus Miftah akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

Sosok Penuh Polemik

Ia juga pernah menuai polemik setelah memberikan ceramah di sebuah gereja yang memicu beragam tanggapan dari masyarakat.

Kontroversi lainnya muncul ketika potongan ceramahnya yang membandingkan suara pengeras suara masjid dengan suara musik dangdut kembali viral. Ucapan tersebut memancing perdebatan di ruang publik karena dianggap menyinggung sebagian kalangan.

Selain itu salah satu kontroversi yang juga menimbulkan perdebatan adalah terkait asal-usul Gus Miftah itu sendiri sehingga ia pantas disebut Gus yakni sebutan bagi anak seorang kiai yang memiliki pondok pesantren. 

Dalam berbagai ceramah Gus Miftah sendiri mengklaim dirinya merupakan keturunan ke-9 ulama besar dari Ponorogo, Syaikh Hasan Besari atau Kiai Ageng Hasan Besari.

Hal tersebut juga pernah diamini Ketua PBNU Bidang Keagamaan, KH Ahmad Fahrur Rozi.

Dikutip Detik, KH Ahmad Fahrur Rozi menegaskan Gus Miftah merupakan keturunan Syaikh Hasan Besari sehingga layak menyandang gelar Gus.

Namun sejumlah sumber lain menyebut bahwa Gus Miftah sebenarnya berasal dari keluarga sederhana di Desa Adi Luhur, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur.

Ayahnya merupakan seorang petani, sedangkan sang ibu berjualan sayur untuk membantu perekonomian keluarga. Hal itu pernah diungkapkan adik Gus Miftah sendiri yang bernama Miftahul Khoiron.

Meski hidup sederhana, ayah Gus Miftah sebagaimana dikutip Suara.com dikenal sebagai tokoh agama di kampungnya.

Warga setempat kerap memanggilnya “kiai” karena menjadi sesepuh desa, mendirikan musala pertama di wilayah tersebut, serta membina ratusan jemaah pengajian dan kelompok yasinan.

Fakta lain tersebut juga diamini seorang Perangkat Desa Mojorejo, Muhammad Nur Hasyim. Sebagaimana dikutip Suara.com, Hasyim mengatakan, nama asli ayah Gus Miftah adalah Turut yang juga dikenal dengan Murodi.

Ia merupakan warga asli Dusun Bantengan, Desa Mojorejo, Kecamatan Jetis, Ponorogo. Namun setelah mondok, ia dan keluarganya lalu transmigrasi ke Lampung.

Nur Hasyim menjelaskan Gus Miftah bukan keturunan Kiai Hasan Besari atau Kiai Ageng Muhammad Besari. 

Nur Hasyim meyakini bahwa Gus Miftah lahir di Lampung, sebagai anak ketiga dari lima bersaudara. Meski memiliki darah Ponorogo, Gus Miftah tidak tumbuh besar di daerah tersebut.

Terlepas dari kebenaran asal-usulnya Gus Miftah saat ini tinggal di Sleman Yogyakarta dan mempunyai pondok pesantren bernama Ora Aji yang berada di Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman

Meski merupakan pendakwah, Gus Miftah dikenal sebagai pendukung Presiden Prabowo Subianto. Dalam beberapa kali kesempatan Prabowo bahkan sempat berkunjung ke Ponpes Ora Aji untuk bertemu langsung dengan Gus Miftah. 

Di kompleks Ponpes Ora Aji Gus Miftah ini juga nampak berdiri sebuah gedung megah bertingkat yang dibangun untuk asrama para santri. Dimana pada gedung tersebut nampak logo Kementerian PUPR RI.

TAGGED:
Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar