Mabur.co – Masyarakat masih belum banyak yang mengetahui, bahwa tanaman dari pohon joho bermanfaat sebagai pewarna batik alami, dan bisa bertahan hingga ratusan tahun lamanya. Termasuk di kalangan pembatik sekalipun.
Sanggar Wani Migunani, yang terletak di Ambarbinangun, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, menjadi salah satu pihak yang berhasil menemukan cara membudidayakan pohon joho, setelah konsisten melakukan riset dan uji coba sejak 2020 lalu.
Kini, mereka telah berhasil menanam ribuan polybag tanaman joho, yang siap dibagikan kepada para pembatik di wilayah DIY, maupun masyarakat umum yang membutuhkan tanaman ini sebagai bahan utama pewarna batik.
Menghasilkan Batik Berkualitas Tinggi
Ketua Sanggar Wani Migunani, Awit Radiani, menjelaskan secara gamblang bagaimana tanaman joho tersebut sangat berkhasiat sebagai penghasil warna alami batik, serta mampu menghasilkan batik berkualitas tinggi dan awet hingga ratusan tahun.
“.Jadi kalau (budidaya pohon) joho ini, sekilo bahan itu bisa dipakai untuk tiga lembar kain (besar) aja. Dan kebun ini (Wani Migunani) adalah semacam laboratorium kita untuk menyimpan hasil baru yang kita ambil dari pohon joho di Gunungkidul dan juga di Bantul. Jadi kita di sini (Kebun Wani Migunani) banyak nanam tanaman yang untuk batik kayak lerak, terus Jati Afrika, dan lain-lain.
Setelah hampir setahun kita di sini (Kebun Wani Migunani), kita udah bisa numbuhin lumayan banyak. Walaupun ada juga satu-dua yang bijinya mati atau busuk ketika ditanam, itu udah biasa di sini. Karena si joho ini kalau ditanam tanpa perlakuan khusus, dia nggak akan mau tumbuh. Nah setelah kita kasih perlakuan khusus, misalnya cangkangnya dibuka dulu, terus kita kasih macam-macam obat, gitu ya. Ada ZPT, anti-jamur, dan segala macemnya, akhirnya dia mulai berangsur-angsur tumbuh dalam jumlah yang lebih banyak.
Beberapa orang itu ada juga yang sudah punya pohonnya (joho), tapi dia tidak bisa menumbuhkan. Sementara kita yang tidak punya pohonnya malah sudah bisa menumbuhkan sampai segini banyak,” ungkap Awit Radiani, beberapa waktu lalu.
Kombinasi Kaya Warna

Dengan teknik tersebut, para pembatik dapat menciptakan kombinasi palet warna yang beragam, hanya dari satu sumber bahan alami, yakni pohon joho.
“Jadi dia (tanaman dari pohon joho) ini bisa jadi (menghasilkan warna) hitam. Warna aslinya sendiri begitu direbus, atau diambil ekstraknya begitu, itu warna aslinya adalah kuning kecoklatan. Terus ketika nanti difiksasi kan bisa dikasih tambahan kapur, dikasih tunjung, atau dikasih tawas, maka warnanya akan berubah lagi.
Kalau dikasih tawas akan sesuai warna aslinya, kalau dikasih tunjung nanti akan jadi abu-abu sampai hitam. Nah kalau dikasih kapur bakalan jadi coklat kemerahan. Jadi setiap pewarna alam itu bisa (berubah) menjadi banyak warna,” tambah Awit.
Pertahankan Pewarna Alami dari Pohon
Dengan status Yogyakarta sebagai kota batik, Awit sangat menyayangkan apabila bahan pewarna alami dari sumber daya alam seperti pohon joho harus punah atau ditebang begitu saja oleh masyarakat ataupun pemerintah.
Karena batik tidak hanya soal kain serta motifnya saja, melainkan juga dari mana ukiran motif tersebut berasal. Apakah dari bahan pewarna alami seperti pohon joho, atau dari pewarna sintetis (kimiawi), seperti yang selama ini beredar di kalangan masyarakat, termasuk bagi para pembatik sekalipun.
Sehingga yang perlu dilestarikan tidak hanya kain dan motif batik saja, tapi juga bahan pewarna alaminya, yang kini sudah semakin langka, dan sulit ditemui di berbagai tempat. (*)
