Bale Agung Kulon Progo, Saksi Bersejarah Satukan Dua Kabupaten di Sisi Barat Yogyakarta 

4 Min Read
White building with a red-tiled roof and blue shutters, people gathered outside in a paved courtyard with trees nearby.
Bale Agung Kulon Progo di Kompleks Pemerintahan Kabupaten Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Sebuah bangunan tua bergaya Indis nampak berdiri megah di kawasan kompleks Pemerintah Kabupaten Kulon Progo.

Terletak tak jauh dari pintu gerbang sisi barat, bangunan ini sering dianggap sebagai bangunan paling ikonik di Kulon Progo. 

Itulah Bale Agung Kulon Progo yang menjadi saksi bisu penyatuan Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Adikarto sekaligus tonggak lahirnya Kabupaten Kulon Progo yang dikenal saat ini.

Bangunan Ikonik Cagar Budaya

Berkat arsitektur dan nilai sejarahnya yang sangat penting, Bale Agung kini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya yang ada di Kabupaten Kulon Progo.

Dikutip mabur.co berdasarkan keterangan yang ada di bangunan tersebut, Rabu (15/7/2026), Bale Agung didirikan pada tahun 1918.

Hal itu bisa dilihat dari prasasti atau tetenger yang menempel di sisi kiri pintu utama bangunan dengan tulisan “Bale Agoeng 1918”. 

Front view of a white Balinese community hall labeled 'Bale Agung' with a red tile roof; people stand and sit outside near a 'Steril Area' sign on a sunny day.
Bale Agung Kulon Progo di Kompleks Pemerintahan Kabupaten Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Selain angka tahun, terdapat pula prasasti beraksara Jawa di sisi kanan pintu masuk. Tetenger itu merupakan sengkalan atau penanda tahun berdirinya bangunan yang berbunyi “Bale Agoeng Ngesti Prayogi Samadyaning Siniwi.”  

Keberadaan kedua prasasti yang dibuat menggunakan batu marmer tersebut masih bisa dilihat hingga saat ini. 

Gaya Arsitektur Sangat Unik

Tak seperti bangunan lain di kompleks Pemerintahan Kabupaten Kulon Progo, Bale Agung memiliki gaya arsitektur sangat unik. Bangunan tersebut dibangun dengan gaya Indis atau perpaduan arsitektur Eropa serta gaya tradisional Jawa. 

Bangunan tunggal berbentuk kotak atau persegi ini dibuat menyolok dengan tinggi mencapai hampir 10 meter. Dindingnya terbuat dari bata tebal yang diplester khas bangunan di era kolonial. 

Genteng dimanfaatkan di bagian atap yang berbentuk limasan. Sedangkan bagian langit-langit menggunakan papan kayu jati yang dipasang rapi memanjang.

Corner of a building with a tiled sloped roof, exposed light bulb, and decorative block wall against a clear blue sky.
Atap bangunan Bale Agung Kulon Progo di Kompleks Pemerintahan Kabupaten Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Pada sisi timur, selatan, dan barat bangunan, masing-masing terdapat satu buah pintu utama serta tiga jendela. Sepeti halnya bangunan era kolonial lainnya, jendela dan pintu bangunan ini dibuat berukuran besar dengan model kepyak.

Di atas jendela juga terdapat kanopi serta rooster sebagai ventilasi udara alami.

Sementara itu, sisi utara bangunan hanya memiliki satu pintu tanpa jendela. Di setiap pintu juga terdapat tiga anak tangga sebagai akses menuju ruang utama.

Lantai bangunan Bale Agung ini nampak dibuat menggunakan tegel abu-abu berukuran 20×20 sentimeter yang menjadi ciri bangunan era awal abad ke-20.

Weathered stone plaque with faded Armenian inscription mounted on a blue wall.
Prasasti aksara Jawa yang terdapat di Bale Agung Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Meski masih mempertahankan bentuk utamanya, Bale Agung tidak luput dari perubahan fisik akibat renovasi yang dilakukan pada masa-masa sebelumnya.

Dikutip situs resmi Dinas Kebudayaan DIY, beberapa perubahan tersebut antara lain hilangnya ventilasi rooster di atas jendela, hilangnya pilaster di kanan dan kiri pintu utama, perubahan sistem bukaan jendela, hingga hilangnya talang air yang dahulu mengelilingi tepian atap.

Selain itu, bagian dinding batur yang semula menggunakan batu andesit ekspos saat ini juga telah diplester sehingga mengubah tampilan asli bangunan.

Weathered rectangular plaque embedded in a blue wall, with raised letters that appear to read 'BALE AGENG' and the year '1918' in the lower portion.
Prasasti yang terdapat di Bale Agung Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Sebagai salah satu bangunan cagar budaya di Kulon Progo, Bale Agung bukan hanya memiliki nilai arsitektur, tetapi juga menjadi simbol perjalanan sejarah pemerintahan Kabupaten Bumi Binangun.

Bangunan ini mengingatkan masyarakat akan proses panjang terbentuknya Kabupaten Kulon Progo melalui penyatuan dua wilayah administratif pada awal dekade 1950-an.

Meski telah berusia lebih dari satu abad, Bale Agung tetap berdiri kokoh hingga saat ini. Bangunan ini juga masih kerap digunakan untuk berbagai kegiatan pertemuan atau rapat. Termasuk menjadi titik awal lokasi dimulainya Tradisi Jamasan Pusaka Agung yang digelar rutin setiap tahun. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar