Mabur.co – Pertandingan final Piala Dunia di MetLife Stadium, Amerika Serikat, Senin (20/07/2026) dini hari menjadi sebuah kisah luar biasa indah bagi Ferran Torres García.
Gol pada menit ke-106 babak perpanjangan waktu tak hanya memastikan kemenangan 1-0 atas juara bertahan Argentina, tapi juga berhasil membawa negara Spanyol menjadi juara Piala Dunia untuk kedua kali.
Masuk sebagai pemain pengganti, Torres memanfaatkan sundulan Nico Williams sebelum melepaskan penyelesaian yang tak mampu dihentikan kiper Argentina.
Gol tersebut sekaligus mengantarkan La Furia Roja meraih gelar Piala Dunia kedua sepanjang sejarah setelah penantian selama 16 tahun sejak sukses di Afrika Selatan pada 2010.
Malam Bersejarah
Bagi Ferran Torres, malam bersejarah di MetLife Stadium menjadi puncak dari perjalanan panjang karir sepakbola yang hanya dimulai di pekarangan rumah sederhana sebagaimana anak-anak kecil lain di dunia.
Dalam wawancara bersama Panenka yang dikutip Journalarta, Senin (20/7/2026), Torres mengenang masa kecil di Foios, sebuah desa kecil di wilayah utara Valencia yang dikelilingi hamparan kebun. Berbeda dengan anak-anak lain yang sering bermain di jalanan, Ferran lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
“Untungnya kami tinggal di rumah yang memiliki lantai dasar. Di sana saya memasang gawang kecil, lalu bermain sepak bola dengan anjing-anjing saya yang bertindak sebagai pemain bertahan,” kenangnya.
Bahkan, salah satu anjingnya memiliki kebiasaan mencuri bola setiap kali Ferran berlatih. Menurutnya, hal itu justru membuat latihannya semakin menantang.
BBC Sport menyebut kedua anjing kesayangan Ferran bernama Lluna, seekor anjing serigala Cekoslowakia, dan Mini, seekor Podenco Andalusia.
Hubungan Ferran dengan kedua hewan peliharaannya sangat dekat. Dalam wawancara yang sama, ia mengaku tidak bisa membayangkan hidup tanpa mereka.
“Bagi saya dan saudara perempuan saya, mereka adalah segalanya. Kami tidak bisa hidup tanpa anjing,” katanya.
Kedekatan Ferran dengan keluarganya juga menjadi fondasi penting dalam perjalanan kariernya. Kakak perempuannya, Arantxa Torres, hingga kini masih menjadi salah satu sosok yang paling dipercaya di luar dunia sepak bola.
Jauh sebelum mengenakan seragam Timnas Spanyol, Ferran sempat mencicipi futsal selama satu musim di Escuelas Profesionales Luis Amigó (EPLA). Pengalaman singkat itu justru membentuk teknik dasar yang kelak menjadi salah satu keunggulannya.
“Hanya satu tahun bermain futsal, tetapi saya belajar banyak karena permainannya sangat berbeda dengan sepak bola lapangan,” ungkapnya.
Bakat Ditemukan Godella
Menurut Mundo Deportivo, bakat Ferran pertama kali ditemukan oleh seorang pelatih di EPLA, Godella. Dari sanalah ia mendapat kesempatan mengikuti seleksi akademi Valencia ketika baru berusia tujuh tahun.
Kesempatan itu menjadi titik balik hidupnya. Setelah menjalani pertandingan uji coba, Valencia langsung memutuskan merekrut bocah asal Foios tersebut ke akademinya.
Ada cerita menarik dari masa kecil Ferran. Sang ibu membelikannya sepatu sepak bola pertama di sebuah toko olahraga di Torrent. Karena begitu bangga memiliki sepatu baru, Ferran bahkan memakainya ke sekolah.
“Saya malah memulai sebuah tren,” ujarnya sambil tertawa.
Dari akademi Valencia, perkembangan Ferran berlangsung sangat cepat. Ia menembus tim utama pada 2017 dan mencatat sejarah sebagai pemain pertama yang lahir pada tahun 2000-an yang tampil di La Liga. Bersama Valencia, ia membantu klub meraih gelar Copa del Rey musim 2018–2019.
Performa impresifnya menarik perhatian pelatih Manchester City saat itu, Pep Guardiola, yang memboyongnya ke Liga Inggris pada 2020.
Bersama The Citizens, Ferran merasakan gelar Premier League dan Piala Liga Inggris sebelum kembali ke Spanyol dengan bergabung bersama FC Barcelona pada Januari 2022.
Di Barcelona, karier Ferran sempat mengalami pasang surut. Ia beberapa kali mendapat kritik karena penyelesaian akhirnya yang dianggap kurang konsisten.
Namun, musim 2025–2026 menjadi titik kebangkitan. Ia tampil tajam dengan mencetak 16 gol di La Liga, sekaligus membantu Barcelona bersaing di papan atas kompetisi.
Puncaknya terjadi di Piala Dunia 2026. Meski tak selalu menjadi starter, Ferran membuktikan dirinya mampu menjadi pembeda di saat yang paling menentukan.
Golnya ke gawang Argentina tidak hanya mengakhiri perlawanan juara bertahan, tetapi juga mengukuhkan namanya sebagai pahlawan baru sepak bola Spanyol.
Berkat kecemerlangannya itu, kini nama Ferran Torres akan selalu terpatri di hati setiap pecinta sepak bola, khususnya bagi publik Spanyol sebagai pahlawan dalam sejarah ajang Final Piala Dunia.
