Mengulik Sejarah Perkenalan VAR di Piala Dunia 2018

7 Min Read
Football referee in a red shirt with a headset stands by a large video monitor on the sideline during a match.
Wasit Antonio Mateu meninjau situasi pertandingan melalui layar VAR (Video Assistant Referee) pada Piala Dunia 2018. (Foto: Getty Images)

Mabur.co – Dunia terus berkembang dan semakin canggih dari waktu ke waktu. Begitu pun di dunia sepakbola modern.

Sepersekian detik keputusan di atas lapangan bisa sangat menentukan hasil akhir pertandingan, sekaligus menentukan nasib sebuah tim di turnamen atau kompetisi tertentu, dan seterusnya.

Turnamen bergengsi seperti Piala Dunia merupakan sebuah platform yang sangat tepat, untuk memperkenalkan perubahan atau inovasi teknologi yang telah dikembangkan sedemikian rupa, demi menciptakan permainan yang lebih adil, akurat, dan sesuai dengan peraturan permainan.

Sekaligus melindungi para pengadil lapangan (wasit) dari segala tudingan miring publik, akibat beberapa keputusan tertentu yang dianggap merugikan salah satu kubu, dan seterusnya.

Pada perhelatan Piala Dunia 2018 di Rusia, dunia diperkenalkan dengan satu teknologi canggih yang dapat mengintervensi keputusan wasit di lapangan, yakni VAR (Video Assistant Referee).

Dilansir dari laman BIFA Technology, Sabtu (18/7/2026), VAR adalah teknologi baru di dunia sepakbola, yakni sebuah layar berukuran 24 inchi di pinggir lapangan, yang berfungsi untuk membantu (assisting) keputusan wasit di lapangan.

Guna memutuskan suatu aksi tertentu, seperti pelanggaran di kotak penalti, offside, gol yang dianggap sah atau tidak, hands ball, aksi yang tidak terpuji di lapangan (misalnya berkata rasis atau meludahi pemain lawan), dan sebagainya, yang mungkin luput atau tidak terlihat secara kasat mata oleh pandangan mata wasit secara real-time.

Tayangan ulang (replay) dari monitor VAR pun akan mengulang kembali kejadian yang dianggap mencurigakan tersebut, untuk membantu wasit utama memutuskan keputusan akhir di lapangan, apakah tetap pada keputusan awal (on-field decision), atau mengubah/menganulir keputusan awal (VAR decision), dan seterusnya.

Adapun wasit ini juga dibantu oleh wasit khusus VAR (VAR referee) yang berjumlah sekitar empat orang. Mereka bertugas di ruang kontrol VAR (VAR Control Room), yang menyediakan sebanyak 8 layar berukuran 50 inchi.

Mereka akan terus menjalin komunikasi dengan wasit utama yang bertugas di lapangan, untuk menentukan apakah sebuah aksi tertentu perlu mengecek monitor VAR atau tidak, dan sebagainya.

Sejak saat itu, wasit terus ditemani VAR sebagai “wasit kedua” yang membantu wasit pertama untuk memutuskan segala sesuatunya dengan lebih cepat dan akurat.

Setelah perhelatan Piala Dunia 2018, banyak liga di negara-negara sepakbola dunia mulai ikut menerapkan VAR sebagai standar perwasitan baru di kompetisi regional mereka.

Liga Indonesia (BRI Super League) sendiri juga telah menerapkan teknologi yang satu ini. Tepatnya sejak babak Championship Series musim 2023-2024 antara Bali United menghadapi Persib Bandung pada 14 Mei 2024.

Teknologi VAR kemudian resmi diterapkan secara penuh di seluruh pertandingan Liga 1 sejak musim kompetisi 2024-2025 lalu, dan terus bertahan hingga saat ini.

Cikal Bakal Terciptanya VAR

Soccer goalkeeper in a green jersey dives at full stretch to block a ball near the goal during a match.
Kiper timnas Jerman, Manuel Neuer, menyaksikan gawangnya kebobolan oleh tendangan gelandang Inggris, Frank Lampard, di babak 16 besar Piala Dunia 2010. Sayang gol itu tidak disahkan oleh wasit karena bola hanya sepintas saja masuk ke dalam gawang. (Foto: Sports Illustrated)

Cikal bakal terciptanya VAR bermula pada awal dekade 2010-an, dalam sebuah proyek bernama “Refereeing 2.0” yang digagas oleh Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB).

Ide ini muncul sebagai respons terhadap berbagai kontroversi keputusan wasit di panggung internasional. Salah satunya gol Frank Lampard ke gawang Jerman yang tidak disahkan oleh wasit pada Piala Dunia 2010, meskipun dalam tayangan ulang terlihat jelas bahwa bola telah sepenuhnya melewati garis gawang.

Setelah melalui serangkaian uji coba resmi yang dimulai sejak Maret 2016 dalam berbagai kompetisi, FIFA akhirnya mengambil keputusan berani untuk mengadopsi teknologi ini, dan mulai diberlakukan pada perhelatan Piala Dunia 2018 di Rusia.

Bertambahnya Tugas Wasit

Soccer referee in turquoise uniform with headset, touching his ear during a match on the field.
Ilustrasi wasit sedang mendengarkan suara instruksi dari wasit VAR, untuk meninjau ulang kejadian tertentu dalam sebuah pertandingan. (Foto: REUTERS)

Meskipun tujuan utama VAR adalah “membantu” (assisting) tugas wasit dalam memimpin jalannya pertandingan, namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya.

Memang benar bahwa tugas wasit menjadi lebih terbantu sejak hadirnya VAR. Hanya saja, setelah kehadiran VAR, wasit harus lebih banyak menjalin komunikasi dengan banyak orang sekaligus.

Serta memastikan bahwa semuanya tetap in-place (sesuai pada fungsinya masing-masing), dan tidak terlewatkan sedikitpun.

Selain itu, mereka juga harus kembali beradaptasi dengan sistem protokol baru dalam setiap pertandingan, sekaligus tetap independen dalam setiap keputusan yang dibuat.

Karena dalam banyak kesempatan, wasit seringkali terlalu mengandalkan VAR dalam pengambilan keputusan atas kejadian tertentu, sehingga minim intuisi personal akibat ketergantungan terhadap teknologi, dan semacamnya.

Belum lagi soal tudingan bahwa wasit hanya bersedia mengecek monitor atau VAR dalam kejadian yang hanya menguntungkan tim tertentu, namun luput melakukannya jika hal yang sama dialami oleh tim lawannya, dan seterusnya.

Sehingga kehadiran VAR tidak serta-merta membuat tugas mereka berkurang atau lebih ringan, namun justru membuat seluruh panca indra mereka harus bekerja lebih keras selama pertandingan berlangsung.

Untuk dapat memastikan seluruh perangkat pertandingan (termasuk teknologi VAR) berjalan sebagaimana mestinya, sekaligus menghasilkan pertandingan yang benar-benar adil seadil-adilnya, tanpa adanya kecurigaan atau prasangka buruk dari salah satu tim, dan seterusnya.

***

Piala Dunia memang menjadi panggung yang sangat tepat untuk memperkenalkan suatu inovasi, termasuk inovasi VAR yang membantu memudahkan setiap keputusan wasit di lapangan hijau.

Namun, tekanan yang menyertai kehadiran teknologi tersebut juga menjadi semakin besar, karena setiap wasit dituntut untuk selalu tampil sesempurna mungkin, sama halnya seperti para pemain dan pelatih yang terlibat dalam pertandingan tersebut.

Dengan besarnya tekanan dalam memimpin sebuah pertandingan, kesalahan sekecil apapun bisa berakibat sangat fatal, yang bahkan bisa membuat risiko pekerjaan menjadi terancam, termasuk risiko nyawa bagi individu tersebut.

Seperti yang dialami oleh salah satu pemain Kolombia di Piala Dunia 1994 lalu, yang harus kehilangan nyawa akibat mencetak gol bunuh diri ke gawang timnya sendiri. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar