Hari Anak Nasional, Didik Anak Bangsa Tak Kehilangan Masa Kecil

4 Min Read
A group of children in white uniforms waving red flags, celebrating together at a crowd event.
Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 menjadi momentum untuk menegaskan komitmen pemenuhan hak dan perlindungan anak di tengah meningkatnya tantangan yang dihadapi anak, mulai dari kekerasan, eksploitasi, diskriminasi hingga ancaman di ruang digital. (Ilustrasi: Istimewa)

Mabur.co- Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 menjadi momentum untuk menegaskan komitmen pemenuhan hak dan perlindungan anak di tengah meningkatnya tantangan yang dihadapi anak, mulai dari kekerasan, eksploitasi, diskriminasi hingga ancaman di ruang digital. Peringatan HAN tahun ini mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan”.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menekankan bahwa perlindungan anak merupakan fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

“Membangun masa depan Indonesia dimulai dari bagaimana kita memperlakukan anak-anak hari ini. Tidak ada Indonesia Emas 2045 tanpa anak-anak Indonesia yang tumbuh sehat, bahagia, terlindungi, dan memperoleh kesempatan mengembangkan seluruh potensinya. Oleh karena itu, pemenuhan hak dan perlindungan anak harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa,” ujarnya, dilansir PPPA, Rabu (22/7/2026).

Tanggung Jawab Bersama

Arifah Fauzi menyampaikan bahwa momentum tersebut dapat memperkuat kesadaran kolektif bahwa setiap anak memiliki hak untuk hidup, tumbuh, berkembang, memperoleh perlindungan dari segala bentuk kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi.

“Perlindungan anak dimulai dari keluarga sebagai pelindung pertama dan utama, kemudian diperkuat oleh sekolah, masyarakat, dunia usaha, media, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah pusat dan daerah, hingga anak-anak sendiri sebagai pelopor dan pelapor. Kita ingin membangun kembali kesadaran bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Di sisi lain, Ketua Yayasan Anak  Bumi Dwipantara, Arief Winarko, mengatakan, mewakili pegiat perlindungan anak DIY, momentum Hari Anak Nasional yang jatuh tanggal 23 Juli, lebih ditekankan pada ketahanan karakter individu, menyoroti maraknya perundungan (bullying), pelecehan seksual dan kekerasan.

“Sesuai tema nasional ‘Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan’ mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari lingkungan sekolah, keluarga, hingga komunitas, untuk bersama-sama menciptakan ruang aman bagi tumbuh kembang anak. Dengan predikat status Kabupaten/Kota Layak Anak, ini bukan saja sekadar predikat di atas kertas, melainkan janji menghadirkan kebijakan, ruang publik, dan anggaran yang nyata-nyata melindungi serta memanusiakan setiap anak,” katanya.

Sementara itu, Anggota Komisa A DPRD Sleman, Yani Fathurrahman, S.Pd.I, mengatakan, menyambut Hari Anak Nasional 23 Juli 2026, maka anak adalah pemimpin bangsa masa depan.

Oleh sebab itu, harus serius untuk mendidik anak-anak bangsa agar tidak kehilangan masa kecil.

“Jadi, kita sayangi, kita lindungi anak-anak kita sebagai aset bangsa. Mulai dari pendidikan, kesehatan, fasilitas ramah anak, sehingga anak-anak bangsa sekali lagi saya ingin menyampaikan, tidak kehilangan masa kecil. Didik anak-anak kita sesuai dengan usianya dan lindungi anak-anak kita dari kekerasan, lindungi anak-anak kita dari hal-hal yang menghambat tumbuh kembang,” katanya.

Menurut Yani, momentum Hari Anak Nasional, bersama-sama seluruh elemen bangsa memandang anak sebagai amanah dari Tuhan yang harus dijaga, dirawat, dididik dengan sebaik-baiknya karena dialah yang akan mewarnai bangsa kita di 10, 20 atau 30 tahun yang akan datang. Menuju Generasi Emas 2045, anak-anak yang akan menjadi tokoh-tokohnya di masa yang akan datang.

Oleh karena itu, kesalahan mendidik, merawat anak-anak tentu akan berimbas pada generasi masa depan bangsa.

Era Disrupsi Penuh Tantangan

“Di era disrupsi saat ini yang penuh dengan berbagai tantangan, kemajuan zaman, globalisasi, modernisasi yang tentunya sangat kompleks permasalahan yang menghampiri anak-anak, kita harus bijaksana,” katanya.

Menurut Yani pula, anak-anak harus dididik sesuai dengan zaman. Di zaman teknologi informasi ini tentu harus bijak.

“Tidak semata-mata anak-anak kita tidak boleh berdekatan dengan teknologi informasi, tapi bagaimana kita bisa menjadikan anak-anak tetap bisa mengikuti perkembangan zaman sekaligus tidak meninggalkan budaya ketimuran, budaya ciri khas Indonesia di tengah era globalisasi. Sekat-sekat antarbangsa seolah-olah sudah tidak ada lagi. Ini yang harus kita seimbangkan bagaimana anak-anak menjadi maju sekaligus tetap menjadi anak Indonesia,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar