Mabur.co- Peringatan dua abad dimulainya Perang Jawa (1825–1830) kembali menempatkan pahlawan nasional Indonesia, Diponegoro (1785–1855), dalam sorotan publik.
Lukisan koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, menggambarkan sosok Diponegoro menjelang pecahnya Perang Jawa itu disisipkan ke dalam sebuah berkas berisi dokumen tulisan tangan dari Jawa Barat, yang antara lain memuat doa-doa Islam dan jimat.
Lukisan cat air tersebut disita sekitar tahun 1892 dari seorang ulama di Bandung yang dicurigai oleh pihak berwenang kolonial Belanda. Selanjutnya, lukisan itu menjadi milik Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936).
Diponegoro menjadi sosok sentral dalam ruangan yang memadukan desain Jawa dan Belanda, lengkap dengan berbagai perabotan rumah tangga yang akrab di keseharian seperti teko, lampu minyak, dan jam dinding berpendulum.
Sangkar burung yang tergantung di sudut kanan tampak kosong, hal ini mungkin melambangkan gagasan tentang kebebasan dan lepas dari kurungan. Lampu-lampu di atas meja bisa jadi merujuk pada nama Diponegoro, karena ia sendiri yang memaknai namanya.
Hiasan di bagian atas lukisan mengingatkan pada motif bunga yang lazim ditemukan dalam naskah-naskah asal Yogyakarta, berfungsi sebagai bingkai penanda awal (atau akhir) sebuah teks.
Bentuknya yang menyerupai hati memiliki kemiripan dengan ragam hias iluminasi yang memuat nama Allah dan Nabi Muhammad dalam salah satu naskah mistis.
Kain yang melilit pinggang Diponegoro adalah kain batik bermotif Parang Rusak khas Yogyakarta. Motif ini termasuk dalam golongan motif larangan yang secara tradisional hanya boleh dikenakan oleh anggota keluarga Keraton Yogyakarta beserta para Abdi Dalem. Di belakangnya, duduk di meja lain, sang istri Ratu Kencana Wungu sedang menikmati teh.
Pangeran Diponegoro pun digambarkan sedang khusyuk bermeditasi, memusatkan perhatian pada sebuah teks berbahasa Arab yang melambangkan kitab Islam, mungkin bahkan Alquran.
Tampaknya, sang seniman yang tak diketahui identitasnya itu ingin menampilkan sosok Diponegoro yang teguh pendirian sebagai pembela Islam yang gigih tepat sebelum meletusnya Perang Jawa.
Hal ini diperkuat oleh keterangan dalam bahasa Melayu yang menyertainya, yang menyebutkan bahwa ia sedang bersiap menghadapi perang melawan Belanda.
Di sudut kiri bawah digambarkan dalam skala yang jauh lebih kecil dan ditempatkan sejajar dengan sosok pelayan wanita di sudut seberangnya, sebuah penempatan yang secara halus menyiratkan sekaligus menegaskan status yang lebih rendah. Duduklah Pangeran Ali Basah (Pangeran Aliebassah).
Di hadapannya, di atas meja, terdapat sebuah teks yang memuat tulisan (yang tidak lengkap) dalam bahasa Arab berisi kalimat syahadat Islam, yakni “Allah adalah Tuhanku, Muhammad [adalah Nabiku].” Namun, pikirannya tampak melayang ke tempat lain.
Sosok Pangeran Ali Basah ini dapat diidentifikasi sebagai Pangeran Ali Basah Abdul Mustapa Prawiradirja atau lebih dikenal dengan nama Sentot (1808–1855) yang merupakan panglima perang andalan Diponegoro.
Akan tetapi, nasibnya berbeda dengan Diponegoro, ia telah menyerah kepada Belanda pada 1829, kemudian berbalik memihak dan mengabdi pada tentara kolonial Belanda.
Munculnya sesosok figur yang tampak seperti roh laki-laki telanjang yang mengarahkan telunjuk tangannya ke arah sosok yang pernah menjadi sekutu terdekat Diponegoro itu menimbulkan banyak pertanyaan.
Mengingat lukisan ini dibuat jauh setelah Perang Jawa usai, mungkinkah gestur lugas tersebut ditafsirkan sebagai bentuk ketidakhormatan atau cemoohan terhadap Pangeran Ali Basah yang dianggap sebagai seorang pengkhianat?
Ataukah ini merupakan pertanda dari alam gaib yang mengisyaratkan peristiwa mendatang, sebuah ramalan akan kekalahan di masa depan?
Pangeran Diponegoro sebagai Muslim
Perlu diingat bahwa ini bukanlah gambar yang realistis, melainkan sebuah mise en scène (tata adegan) yang dirancang dengan cermat untuk menonjolkan peran Pangeran Diponegoro sebagai seorang Muslim yang saleh dan pembela Islam.
Dalam konteks tersebut, kehadiran seekor kucing di dekat kaki istrinya sangatlah pas sebagai simbol Islam. Terdapat banyak kisah mengenai kasih sayang Nabi Muhammad terhadap kucing, bahkan ada sebuah ungkapan istimewa yang sering dikaitkan dengan beliau, atau terkadang bahkan dengan Allah (meskipun keaslian kedua pernyataan tersebut masih diperdebatkan yang berbunyi, mencintai kucing adalah bagian dari iman).
Kucing Diponegoro (yang ditampilkan dalam gambar jarak dekat di atas) sedang menatap ke arah kita sembari menjilati kaki belakangnya.
Kucing membersihkan diri dengan cara menjilat untuk menjaga kebersihan oleh karena itu, hewan ini mudah dikaitkan dengan kesucian ritual yang merupakan aspek mendasar dalam kehidupan umat Muslim.
Bagi pengamat dari Barat, hal ini mungkin mengingatkan pada manicul (tangan kecil) dalam naskah-naskah Eropa sebuah simbol di margin buku tulis tangan yang berfungsi sebagai penunjuk untuk menarik perhatian pembaca pada bagian-bagian penting.
Namun, menunjuk dengan jari apalagi dengan kaki dianggap sangat tidak sopan dan merupakan tindakan yang tabu dalam budaya Jawa.
Seorang pelayan perempuan di sudut kanan bawah gambar tampak memperhatikan kucing tersebut dengan saksama. Kira-kira, apa yang sedang dipikirkannya? Apakah ia melihat sesuatu yang luput dari pandangan kita?
Pertanyaan paling krusial bagi masyarakat Jawa tradisional mungkin adalah apakah kucing membawa keberuntungan atau justru kesialan.
Pengetahuan tradisional Jawa mengenai kucing yang tersimpan dalam naskah-naskah kuno maupun buku-buku cetak tentang ilmu esoteris mungkin dapat memberikan jawabannya.
Meskipun kita tahu bahwa pada akhirnya Diponegoro kalah dalam perang tersebut, sang ulama yang lukisannya disita lebih dari enam puluh tahun setelah pecahnya Perang Diponegoro mungkin memandang simbolisme lukisan itu dari sudut pandang positif, yakni sebagai sumber inspirasi untuk terus berjuang demi tujuan yang mulia.
Lama setelah wafatnya, dan bahkan hingga saat ini, Diponegoro tetap menjadi simbol kuat perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Lukisan Gaya Cirebon
Seniman asal Yogyakarta, Lully Tutus, menuturkan, lukisan koleksi dari Perpustakaan Universitas Leiden, merupakan lukisan gaya Cirebon, sekitar abad ke-19 yang menggambarkan tentang kehidupan bangsawan Jawa yakni Pangeran Diponegoro.
“Isi lukisannya itu menurut saya adalah ada di keluarga bangsawan. Di tengah duduk itu seorang pria pakai pakaian hitam sama jarik batik yang sedang membaca surat, itu adalah Pangeran Diponegoro. Kemudian ada di sebelahnya di belakang kemungkinan istrinya Raden Ayu Retno Madubrongto. Sedang duduk di meja teh,” ucapnya, Rabu (29/7/2026).
Menurut Lully, ada dua orang orang lain yakni seorang pria duduk di lantai dan seorang perempuan muda yang menurutnya Abdi Dalem. Ada pula anak kecil telanjang yang di tengah menunjuk. Ada juga kucing yang menggambarkan suasana rumah tangga yang akrab. Tetapi tetap ada hierarki, simbol-simbol tersebut banyak sekali.
“Simbol-simbol itu yang menurut saya, ketika membaca surat itu, adalah menunjukkan kecerdasan, kewibawaan seorang Pangeran Diponegoro. Yakni bangsawan Jawa yang sangat menghargai sesama,” katanya.
Menurut Lully pula, ada juga meja, kursi, lampu, dan sangkar burung, benda-benda Eropa yang masuk ke dalam keraton. Artinya keluarga tersebut terbuka bagi dunia luar. Tapi tetap memegang teguh adat dan istiadat Jawa. Kalau warna merah, emas, hitam itu adalah simbol kebebasan dan spiritual.
“Di Jawa itu merah artinya keberanian, hitam artinya wibawa. Terus anak kecil yang menunjuk itu juga melambangkan penerus atau pertanyaan tentang masa depan keluarga. Jadi, kayak kucing itu simbol kehangatan, ketenteraman juga,” katanya.
Lully menuturkan, makna singkat dari keseluruhan itu adalah kehidupan bangsawan Jawa yang tertib, beradab, berkumpul bersama keluarga. Kemudian peran Pangeran Diponegoro sebagai kepala keluarga sebagai pemimpin karena dia adalah pusat perhatian dan duduk.
“Beliau itu duduk paling tinggi dan sedang membaca yang artinya adalah kewibawaan, spiritualitas, dan kecerdasan,” katanya.
Dalam lukisan itu ada perpaduan budaya, ada unsur motif batik. Ada posisi duduk di lantai, ada juga lambang-lambang yang ada pengaruhnya dari Belanda. Furnitur ini merupakan khas di era masa Diponegoro.
“Lukisan ini merayakan martabat, pendidikan, dan keharmonisan keluarga bangsawan Jawa dan beliau adalah Pangeran Diponegoro sebagai teladan,” ucapnya.
