Hal yang sama juga terjadi di Mamuju Tengah. Bahasa-bahasa tua, seperti bahasa Tobadak yang diyakini sebagai penduduk awal Topoyo-Budong-budong semakin sedikit penuturnya.
Bahasa Mamuju di Mamuju juga semakin terancam di Ibu Kota Provinsi Sulbar itu, sebab semakin sedikit digunakan dan semakin jarang terdengar dalam Kota Mamuju dan sekitarnya. Tersebab tsunami urbanisasi Mamuju yang begitu besar setelah terbentuknya Provinsi Sulbar dan Mamuju ditetapkan sebagai Ibu Kota Provinsi.
Urbanisasi Kecil
Beda halnya dengan Majene, cenderung mampu mempertahankan bahasa lokalnya sebab kecilnya urbanisasi di kabupaten ini.
Majene kota misalnya, Banggae, Banggae Timur, Pamboang dan Sendana lebih banyak menggunakan rumpun “Bahasa Mandar Raya” (Baba Binanga/pesisir).
Baca Juga: https://mabur.co/kolom/bahasa-daerah-di-medsos-dapat-insentif-komdigi-bagian-1/
Selebihnya ke utara, mulai dari Tubo Sendana lebih banyak dipengaruhi oleh bahasa Rumpun Ulu Salu (pegunungan) hingga ke perbatasan Mamuju-Majene di Maliaya, perbatasan Mamuju-Majene.
Baca Juga: https://mabur.co/budaya/nasib-bahasa-daerah-rumpun-mandar-sulawesi-barat-bagian-2/
Mamasa memiliki cerita tersendiri sebab cenderung mampu mempertahankan bahasa lokal mereka, akibat rendahnya urbanisasi dan faktor-faktor lain yang bisa memengaruhi peminggiran bahasa lokal.
Hingga hari ini Mamasa secara umum mampu mempertahankan bahasa Rumpun Ulu Salu di hampir seluruh wilayah Mamasa, meskipun ada banyak perbedaan dialeknya.

(Foto: BBM)
Suatu ketika saya mengunjungi Mamasa Kota, lalu semakin bergeser ke pinggir, ke Tandu Kalua, ke Sumarorong dan semakin ke pinggir kecamatan terjauh dari Mamasa, yakni Nosu.
Jauh di balik pegunungan Mamasa. Jaraknya sudah lebih dekat ke Toraja. Rombongan kami bergerak dari Tabone-Sumarorong ke Timur Daya, menyusur hutan yang lembap.
Semakin ke dalam semakin dingin, menusuk hingga ke sumsum. Saya meraih jaket dan kupluk hitam, lalu mengenakannya sehingga badan lebih hangat.
Semakin jauh ke tengah hutan semakin mendaki, jalan berkelok dengan kondisi rusak parah, tebing di kiri jurang di kanan secara bergantian.
Sesekali mobil kami terperosok lalu didorong, bangkit dan jalan lagi. Namun lelah dan peluh tak terasa, sebab gunung dikejar kabut serupa lukisan indah di cakrawala terpampang depan mata.
Perlahan alat komunikasi seperti HP kami sisihkan ke dalam tas, tak ada medsos, apalagi sekadar nelpon. Kita memasuki area blank spot. Kembali menjadi manusia merdeka dari jajahan teknologi. (Bersambung)
