Mabur.co – Merti Budoyo Nuswantoro atau sering disebut juga Merti Budaya Nuswantara adalah sebuah gagasan, gerakan, atau perayaan kebudayaan yang mengadopsi nilai-nilai filosofis tradisi “merti” (bersih-bersih, merawat, atau memelihara) untuk diaplikasikan dalam skala yang lebih luas, yaitu Nusantara (Nuswantoro).
Ketua Merti Budoyo Nuswantoro, Rudhito Widagdo, mengatakan, Merti Budoyo Nuswantoro mempunyai program kegiatan berkesenian dan berkebudayaan.
“Kita terus mendukung, nguri-nguri budaya dengan kita nguri-nguri budaya negara akan terus maju,” ucapnya.
Adat Tidak Bisa Diubah
Tokoh budaya, Gusti Prabukusumo, mengatakan, budaya adat harus dipertahankan. Namanya adat tidak bisa diubah.
“Saya mau mengubah adat di sini pasti ada yang marah. Artinya adat itu tidak bisa diubah. Untuk budaya adat modern kita harus mengerti, memahami, dan menghormati. Jadi, kita punya adat itu harus sinkron antara budaya kita dengan budaya-budaya dari daerah lain,” ucapnya.
Gusti Prabu juga mengatakan, kalau di Yogyakarta untuk geliat pelestarian budaya cukup bagus.
“Saya dulu waktu masih di keraton setiap hari ada pertunjukan karawitan, wayang golek, wayang kulit. Jadi, ini contohnya yang harus kita lestarikan,” ucapnya.
Menurut Gusti Prabu, Yogyakarta merupakan salah satu kota di Indonesia yang terkenal dengan kekayaan budaya dan tradisi yang masih terjaga hingga saat ini.
“Kota ini tidak hanya dikenal sebagai pusat pendidikan dan pariwisata, tetapi juga sebagai simbol keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Keunikan budaya Yogyakarta terletak pada adat istiadat yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat,” katanya.
