Mabur.co – Efisiensi anggaran tidak menghentikan geliat komik di Yogyakarta. Ketika lomba komik Kukuruyuk tidak digelar pada 2026, para alumninya justru kembali mendapat ruang untuk menunjukkan karya terbaru melalui Yogyakarta Komik Weeks 2026.
Sebanyak 30 seniman menghadirkan karya dalam pameran bertema ‘Merayakan Bahasa Gambar’ di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, pada 8-17 September 2026.
Pameran ini tidak sekadar menampilkan komik sebagai rangkaian gambar, tetapi mengajak pengunjung melihat gambar sebagai bahasa yang mampu menyampaikan cerita, emosi, gagasan, hingga realitas.
Ketua Acara Yogyakarta Komik Week 2026, Yudha Sandy Wijayasakti, menjelaskan, pameran tahun ini menampilkan 30 karya seniman yang terdiri dari 15 karya alumni Kukuruyug dan 15 karya seniman undangan.
“Jadi, sangat beraneka ragam, ada yang junior, ada yang senior, ada berbagai macam gaya. Ada latar belakang musik, ada yang latar belakang patung, jadi bermacam-macam,” tuturnya, Sabtu (12/9/2026).

Yudha, menuturkan, Yogyakarta Komik Week mengusung konsep eksibisi dan edukasi. Ia berharap kegiatan tersebut dapat mendorong lahirnya karya-karya komik baru sekaligus memperluas pemahaman masyarakat mengenai keberagaman medium komik.
“Harapannya tentu orang yang datang akan melihat bahwa komik itu ada berbagai macam, ceritanya juga macam-macam dan ada juga dari luar [negeri], jadi mungkin lebih banyak inspirasi juga,” ujarnya.
Yudha mengatakan pula, karya yang ditampilkan tidak hanya berbentuk buku, tetapi juga menghadirkan karya tiga dimensi dan berbagai bentuk eksplorasi visual lainnya.
Yogyakarta Komik Weeks memasuki penyelenggaraan kedelapan pada 2026 dan rutin digelar sejak 2019. Selama delapan tahun, ekosistem komik di Yogyakarta terus berkembang dengan munculnya komikus-komikus baru melalui berbagai ajang, termasuk lapak komik dan pameran independen.
“Selama delapan tahun perkembangannya, komikus-komikus baru banyak bermunculan di event-event komik,” ujarnya. ***
