Produksi Film Kepahlawanan, Kementerian Kebudayaan Perkuat Sinergi dengan Yayasan PETA

3 Min Read
Collage of cinema equipment: film reels, a movie camera, and a clapperboard in a theater setting.
Ilustrasi. Dunia perfilman Indonesia. (Foto: Istimewa)

Mabur.co — Kementerian Kebudayaan terus memperkuat upaya pelestarian sejarah perjuangan bangsa melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Hal tersebut ditegaskan dalam pertemuan antara Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dengan jajaran Yayasan Pembela Tanah Air (PETA) Pusat di kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta.

Dalam rilis yang diterima mabur.co, Kamis (30/7/2026), dijelaskan pertemuan tersebut membahas sejumlah agenda strategis yang berkaitan dengan penguatan literasi sejarah, pelestarian memori kolektif bangsa, dan pengembangan narasi sejarah melalui film.

Three people smile and look at a globe and decorative trophies on a display table in a bright, formal room.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, bersama pengurus Yayasan PETA. Foto: Kemenkebud

PETA memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Narasi perjuangan PETA penting untuk dihadirkan dalam agenda diplomasi kebudayaan, salah satunya melalui rencana produksi film bertema kepahlawanan yang mengangkat kisah Shodanco Soeprijadi dan PETA.

Menbud menyambut baik inisiasi produksi film tersebut. Saat ini Kementerian Kebudayaan tengah menyiapkan produksi sejumlah film bertemakan kemerdekaan.

“Tema besar yang kita batasi memang mengenai perang mempertahankan kemerdekaan, sesuai arahan Presiden. Jadi kita tidak menggunakan istilah revolusi, melainkan perang mempertahankan kemerdekaan, karena historiografi kita memang paling banyak berada pada periode 1945–1950,” jelas Menbud.

Menbud kemudian mengajak jajaran PETA yang hadir untuk berkolaborasi dalam rencana produksi film bertemakan kepahlawanan.

Menurutnya saat ini Kementerian Kebudayaan baru memiliki baru skenario, sehingga masih dapat dikombinasikan dalam proses produksinya.

Data Sejarah Valid, Perlu Kolaborasi dengan Yayasan PETA

Oleh karena itu, perlu dibangun kolaborasi dengan penulis naskah agar selaras dengan data sejarah Yayasan PETA agar film tersebut tidak hanya memiliki kualitas artistik, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan secara kesejarahan.

Ketua Yayasan PETA, Tinton Suprapto, mengusulkan produksi film yang secara khusus mengangkat sejarah PETA pada periode 1943–1945.

Menurutnya sebagai alternatif, tema PETA dipertimbangkan untuk diproduksi sebagai film pendek, sementara tema Shodanco Soeprijadi dikembangkan sebagai film panjang.

“Skenario film tersebut diinisiasi oleh Yayasan PETA dengan riset dan cerita yang telah selesai disusun oleh Jujur Prananto. Saat ini, proses produksi memasuki tahap penentuan sutradara, pembentukan tim kreatif, serta penyusunan kebutuhan anggaran dan skema investasi,” jelasnya kepada Menbud.

Selain produksi film, pertemuan juga membahas proses pengusulan gelar, tanda jasa, dan tanda kehormatan bagi para perintis.

Yayasan PETA telah mengajukan 20 nama perintis dan disampaikan bahwa 16 nama telah disetujui di tingkat Kementerian Sosial.

Proses selanjutnya masih menunggu verifikasi di Sekretariat Militer Presiden serta pembahasan pada Dewan Gelar.

Sebagai tindak lanjut, Kementerian Kebudayaan bersama Yayasan PETA akan melakukan verifikasi status pengusulan gelar bagi para perintis, memfinalisasi produksi film Shodanco Soeprijadi dan menyusun skema investasi produksinya, dan menyelaraskan pengembangan naskah dengan sumber sejarah, serta memperkuat proses kurasi sejarah dalam setiap produksi budaya yang berkaitan dengan perjuangan bangsa.

Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar