‘Bersimpuh di Kaki Para Guru’, Pameran Tunggal Spektakuler Karya Nasirun di Galeri Nasional Indonesia

5 Min Read
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, meresmikan Pameran Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Foto: Dokumentasi Kementerian Kebudayaan/Vidhy Fellizano Sfinoza

Mabur.co – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, meresmikan Pameran Nasirun (1965–2026) Bersimpuh di Kaki Para Guru di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Dalam rilis yang diterima mabur.co, Minggu (13/9/2026) tersebut, dijelaskan, pameran yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan melalui Badan Layanan Umum (BLU) Museum dan Cagar Budaya menjadi bentuk penghormatan terakhir terhadap Nasirun, perupa Indonesia yang berpulang pada 1 Agustus 2026 lalu.

Mewujudkan Keinginan Nasirun yang Belum Terlaksana

Sekaligus mewujudkan salah satu keinginan Nasirun yang belum sempat terlaksana, yaitu berpameran bersama para seniman yang selama ini disebutnya sebagai “guru”.

Menbud Fadli Zon dalam sambutannya mengatakan bahwa pameran tersebut memiliki arti penting karena Nasirun merupakan sosok seniman yang memiliki penghormatan besar terhadap para pendahulunya.

Menurutnya, hal itu tidak hanya terlihat dari karya-karyanya, tetapi juga dari upaya Nasirun menjaga dan menghargai karya para seniman yang telah memberikan pengaruh dalam perjalanan keseniannya.

“Pameran ini sangat relevan untuk memberi penghormatan kepada almarhum. Saya mengenal Nasirun sejak belasan tahun lalu dan melihat bagaimana ia selalu menghormati para guru. Bahkan, ia membuat museum yang berisi karya-karya para gurunya di seberang rumahnya,” ungkap Menbud.

Menurut Menbud, perjalanan kesenian Nasirun memperlihatkan bagaimana seorang perupa dapat mengolah berbagai sumber pengetahuan menjadi karya yang memiliki karakter kuat.

Karya Berkarakter Kuat

Tradisi, budaya, spiritualitas, realitas kehidupan sehari-hari, serta gagasan tentang modernitas hadir dalam karya-karya Nasirun melalui berbagai medium.

“Dengan pencapaian estetika dan artistik yang luar biasa, kita memang kehilangan seorang figur besar dalam dunia seni rupa Indonesia. Karya-karya Nasirun menunjukkan kedalaman seorang seniman dalam mengangkat nilai-nilai tradisi, spiritualitas, realitas, dan juga modernitas dalam berbagai bentuk ekspresi,” jelas Menbud.

Menbud Fadli Zon juga menilai Nasirun merupakan sosok yang memiliki perhatian besar terhadap proses regenerasi dan pembelajaran bagi generasi muda.

Pada 2025, Nasirun menjadi salah satu guru dalam program Belajar Bersama Maestro yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan.

Melalui program tersebut, para peserta terpilih berkesempatan tinggal dan belajar bersama Nasirun, sekaligus mengembangkan karya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama proses pembelajaran.

Sementara itu, mewakili keluarga besar Nasirun, Ima Bunga Insan Sani, menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kebudayaan yang telah memberikan penghormatan kepada almarhum melalui penyelenggaraan pameran tersebut.

Menurutnya, pameran ini menjadi momen yang mengharukan sekaligus membanggakan bagi keluarga karena mewujudkan keinginan Nasirun untuk dapat berpameran bersama para pendahulunya.

“Atas nama keluarga besar almarhum, kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang sebesarbesarnya kepada Kementerian Kebudayaan, Bapak Fadli Zon, dan Galeri Nasional Indonesia atas penghormatan yang diberikan kepada Bapak kami tercinta,” ucap Ima.

Pameran Nasirun (1965–2026) Bersimpuh di Kaki Para Guru dikurasi oleh Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia, yaitu Aminudin TH Siregar, Agung Hujatnikajennong, Citra Smara Dewi, dan Dio Pamola Chandra.

Pameran menghadirkan karya Nasirun berdampingan dengan karya para seniman yang menjadi bagian dari perjalanan pengetahuannya, antara lain Abas Alibasyah, Affandi, Ahmad Sadali, Amang Rachman Jubair, Amri Yahya, Bagong Kussudiardja, Djoko Pekik, Edhi Soenarso, Fadjar Sidik, Harijadi Sumadidjaja, Hendra Gunawan, Jeihan Sukmantoro, Kusnadi, Oesman Effendi, S. Sudjojono, Widayat, dan Zaini.

Melalui perjumpaan tersebut, pengunjung diajak melihat perjalanan artistik Nasirun dan bagaimana pengetahuan kesenian berkembang melalui hubungan antargenerasi.

Pameran ini juga menunjukkan bahwa seorang seniman tidak tumbuh dalam ruang yang terpisah, melainkan melalui proses belajar, perjumpaan, dan dialog dengan berbagai sosok yang memberikan pengaruh dalam kehidupannya.

Nasirun dikenal sebagai salah satu perupa Indonesia yang menghadirkan tradisi dan spiritualitas ke dalam karya seni rupa kontemporer. Lahir pada 1965, Nasirun merupakan lulusan Seni Kriya Batik dan Seni Murni ASRI/ISI Yogyakarta.

Cerita wayang dan dongeng yang diwariskan ibunya, serta nilai-nilai tasawuf Islam yang dijalani ayahnya, turut menjadi sumber gagasan dalam perjalanan keseniannya. Ia pun aktif berkarya dan berpameran di Indonesia maupun mancanegara.

Salah satu karyanya, Persembahan untuk Bathara Guru (1999), dihibahkan kepada Galeri Nasional Indonesia pada 2013 dan menjadi bagian dari koleksi negara.

Pameran Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru berlangsung pada 13 September hingga 11 Oktober 2026, menjadi sebuah ruang bagi publik untuk mengenang karya dan perjalanan Nasirun sekaligus melihat kembali hubungan pengetahuan, pengalaman, dan nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi seniman kepada generasi berikutnya. ***

Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar