Mabur.co – Beberapa waktu belakangan publik kembali dibuat heboh dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut istilah “londo ireng”.
Dalam pidato pada peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Presiden Prabowo menggunakan istilah “londo ireng” untuk menyebut pihak-pihak yang menurutnya berpihak kepada kepentingan asing.
Pernyataan Presiden Prabowo itu pun langsung memunculkan polemik di ruang publik. Selain memancing beragam tanggapan, pidato tersebut juga membuat warganet kembali menelusuri silsilah keluarga Prabowo, khususnya dari garis ibu yang terhubung dengan tokoh Minahasa, Benjamin Thomas Sigar.
Dalam sejumlah catatan sejarah, Benjamin Thomas Sigar merupakan salah satu kapten Pasukan Tulungan (Hulptroepen) dari Minahasa yang direkrut pemerintah kolonial Belanda untuk membantu menghadapi Perang Jawa pada 1829.
Tak sedikit netizen yang menyebut bahwa justru Prabowolah yang merupakan keturunan dari “londo ireng” itu sendiri.
Menurut tokoh pelestari sejarah sekaligus keturunan ketujuh (cicit kelima) Pangeran Diponegoro, Ki Roni Sodewo, pernyataan yang menyebut bahwa kakek leluhur Prabowo dari garis ibu adalah salah satu pihak yang ikut terlibat dalam upaya penangkapan Pangeran Diponegoro merupakan sebuah fakta sejarah.
“Memang benar Eyang Prabowo dari garis ibunya, ikut terlibat dalam upaya penangkapan Pangeran Diponegoro. Itu fakta. Clear,” ujar Roni yang juga merupakan tokoh Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi).
Bahkan Roni juga menyebut salah satu kakek leluhur Prabowo yakni dari garis keturunan HB ke-3, yakni BPH Moerdaningrat juga turut tewas di tangan pasukan Pangeran Diponegoro di wilayah Krasak, Turi, Sleman, saat hendak berunding.
BPH Moerdaningrat merupakan utusan Sultan Hamengku Buwana V yang tewas dalam pertempuran di Nglengkong saat mencoba menemui Pangeran Diponegoro.
Sejarah mencatat, Pangeran Moerdaningrat dan pasukannya berniat menemui Pangeran Diponegoro di Dekso, namun saat melewati pasukan di Lengkong, Pangeran Moerdaningrat dihadang oleh ribuan pasukan pimpinan Sentot Prawirodirjo.

Meski begitu, terlepas dari fakta bahwa Prabowo merupakan sosok keturunan dari pihak yang memusuhi atau ikut terlibat dalam penangkapan Pangeran Diponegoro, Roni mengaku, tak mempermasalahkan hal tersebut.
“Kalau saya dibenturkan dengan Prabowo gara-gara ‘londo ireng’ ya tidak ada urusannya. Karena Prabowo kan tidak bisa memilih keturunan siapa,” ujarnya kepada mabur.co, belum lama ini.
Menurutnya, keterlibatan serdadu atau tentara bayaran dari sejumlah daerah di luar Jawa seperti Madura, Bugis, atau Minahasa dalam pertempuran di Jawa memang bukanlah hal baru.
Bahkan hal itu sudah kerap terjadi di era Kerajaan Mataram Islam sejak masa Sultan Agung hingga Demak. Begitu pun saat era Pemerintahan Kolonial Belanda.
Dalam babad sendiri dijelaskan bahwa Belanda memang mengerahkan banyak pasukan tentara bayaran dari berbagai daerah di Nusantara untuk melawan Pangeran Diponegoro.
“Dalam babad Diponegoro, memang disebutkan Belanda mengerahkan orang-orang dari mana saja dalam Perang Jawa. Seperti dari Bugis, Minahasa, dan lain-lain. Yakni sebagai tentara bayaran,” katanya.
Meski begitu, ia menilai, hal itu harus dipahami bahwa saat itu wilayah Nusantara masih terpisah-pisah dan terdiri dari berbagai wilayah kerajaan.
“Kita harus menyadari bahwa saat itu Indonesia belum ada. Semua daerah merupakan kerajaan atau negara masing-masing,” katanya.
Dari situlah Roni menyebut keterlibatan pasukan dari sejumlah daerah tidak bisa dikatakan mereka berkhianat kepada Indonesia dan memihak asing karena memang konteksnya berbeda.
Namun demikian, Roni mengingatkan agar setiap orang termasuk Prabowo semestinya dapat selalu berhati-hati ketika membicarakan sesuatu yang bersifat sejarah. Terlebih Prabowo merupakan sosok Presiden Republik Indonesia.
“Kalau orang belajar sejarah kan harusnya hati-hati. Kalau dapat laporan ya ditelaah dulu. Yang melaporkan juga jangan terlalulah. Kalau memang pernyataan itu merupakan guyonan ya sebut itu guyonan. Karena dia (Prabowo) itu kan presiden,” ungkapnya.
Roni sendiri mengaku mendukung Prabowo sebagai Presiden RI. Dalam pemilu presiden lalu ia bahkan mengaku mencoblos Prabowo atas dorongan orang tuanya. Namun ia berharap sebagai sosok pemimpin, Prabowo dapat lebih bijak dalam memuat pernyataan demi kepentingan bangsa dan negara.
“Harusnya kita sebagai bangsa selalu damai dan bersaudara. Jangan mudah bertengkar. Karena dalam sejarah kita, di mana pun kekalahan itu terjadi karena perpecahan dari dalam. Yang sudah ya sudah biar berlalu,” ungkapnya.
