Mabur.co – Peradaban masa lalu ternyata memiliki standar tersendiri dalam menentukan suatu kemewahan. Selain emas dan perak, bagian benda langit seperti meteorit ternyata juga menjadi incaran koleksi kaum bangsawan sebagai legitimasi atas status mereka.
Hal itu diungkapkan seorang arkeolog prasejarah, Eleni Mantzourani, dari Universitas Athena, Yunani, bersama astrofisikawan dan ahli kimia Matthieu Gounelle dari Museum Sejarah Alam Prancis di Paris.
Dilansir sciencenews.org, Sabtu (12/9/2026), pada zaman Perunggu cincin kaum bangsawan Yunani ternyata tak hanya dibuat dari bahan emas atau perak. Melainkan juga dari bahan berupa besi meteorit.
Penelitian 91 Benda Berbahan Besi
Hal itu terungkap lewat penelitian terhadap 91 benda berbahan besi yang berusia sekitar 3.000 hingga 4.000 tahun, yang ditemukan di sejumlah situs arkeologi di Yunani selatan dan Pulau Kreta.
Hasil penelitian yang kemudian diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science edisi Agustus 2026 menunjukkan adanya kandungan nikel pada 13 benda yang seluruhnya berupa cincin atau bagian dari cincin tersebut.
Dari jumlah tersebut, peneliti memperkirakan sekitar 10 cincin kemungkinan dibuat menggunakan besi meteorit yang memiliki kandungan nikel yang tinggi.
Karakteristik inilah yang digunakan peneliti untuk membedakannya dari besi yang berasal dari biji dan dihasilkan melalui proses peleburan.
Menggunakan metode fluoresensi sinar-X, Mantzourani dan Gounelle untuk memeriksa benda-benda tersebut.
Menariknya, cincin-cincin yang diduga terbuat dari besi meteorit itu ditemukan di makam elite, rumah, hingga sebuah kuil. Beberapa di antaranya bahkan dilapisi emas dan perak.
“Ini menunjukkan bahwa besi meteorit dianggap sebagai logam sangat berharga yang digunakan untuk memproduksi benda-benda bernilai khusus dan untuk kelompok orang berstatus tinggi,” kata Mantzourani.
Besi Meteorit Sangat Langka dan Sulit Ditemukan
Bagi masyarakat Yunani di masa itu, besi meteorit memang sangat langka dan sulit ditemukan. Hal itu tak lepas karena wilayah Yunani dan Kreta sebagian besar berada di lingkungan pesisir sehingga batuan luar angkasa yang jatuh ke bumi berpotensi masuk ke laut.
Peneliti menduga material tersebut sengaja didatangkan dari Mesir sekaligus menjadi petunjuk adanya jaringan perdagangan antara Mesir dengan wilayah Yunani dan Kreta pada masa Zaman Perunggu.
Salah satu hal yang terungkap dari penelitian Mantzourani dan Gounelle ini juga adalah terkait bentuk dan fungsi cincin tersebut. Dimana cincin itu banyak memiliki bagian logam pipih berukuran lebih besar yang dihiasi ukiran.
Bentuk tersebut menunjukkan bahwa benda itu merupakan cincin stempel atau signet ring, yang kemungkinan berkaitan dengan identitas maupun status pemiliknya.
Keberadaan besi meteorit pada benda-benda tersebut memperkuat dugaan bahwa material dari luar angkasa sengaja digunakan untuk membuat perhiasan tertentu yang memiliki nilai khusus.
Meski begitu diketahui penggunaan besi meteorit untuk cincin kaum bangsawan Yunani diduga tidak berlangsung lama. Pasalnya para peneliti tidak menemukan cincin besi serupa dari periode setelah abad ke-12 SM di wilayah tersebut.
Mantzourani menduga tradisi tersebut menghilang bersamaan dengan runtuhnya peradaban Zaman Perunggu Akhir.
Keruntuhan itu mengakhiri peradaban Mykenai di Yunani selatan. Sementara itu, peradaban Minoan di Kreta juga telah mengalami keruntuhan pada periode tersebut.
Temuan ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Yunani Kuno, benda dari langit bukan sekadar batu biasa. Dalam bentuk cincin yang dihiasi emas dan perak, material tersebut kemungkinan menjadi simbol kelangkaan, kekuasaan, sekaligus status sosial pemiliknya.
