Mabur.co — Selama puluhan tahun, sosok Pangeran Diponegoro hampir selalu digambarkan mengenakan jubah panjang dan serban putih.
Gambaran itu begitu melekat hingga selalu muncul di buku-buku pelajaran, lukisan, patung, hingga ilustrasi populer.
Namun, benarkah Pangeran Diponegoro selalu berpakaian dengan atribut semacam itu?
Pertanyaan tersebut kembali mencuat setelah beredar klaim di media sosial yang menyebut penggambaran Diponegoro berserban merupakan hasil rekayasa sejarah.
Sebagian bahkan menyebut busana yang benar adalah pakaian Jawa berupa surjan atau beskap serta blangkon.
Faktanya, perdebatan terkait gambaran sosok Pangeran Diponegoro memang akan selalu muncul. Hal ini tidak terlepas karena sulitnya menelusuri penampilan Diponegoro mengingat tidak ada foto dirinya.
Teknologi fotografi belum digunakan di Hindia Belanda ketika Diponegoro wafat pada 1855. Akibatnya, seluruh gambaran tentang dirinya berasal dari lukisan, sketsa, dan interpretasi para seniman.
Ragam Kontroversi
Sejarawan seni juga menjelaskan bahwa wajah Diponegoro yang dikenal masyarakat saat ini banyak merujuk pada sketsa yang dibuat langsung oleh A.J. Bik ketika Diponegoro berada di Batavia setelah ditangkap.
Sketsa itu kemudian dipopulerkan kembali oleh Basoeki Abdullah sehingga menjadi citra yang paling dikenal hingga sekarang.
Namun menurut tokoh pelestari sejarah sekaligus keturunan ketujuh (cicit kelima) Pangeran Diponegoro, Ki Roni Sodewo, perdebatan terkait gambaran pakaian yang dikenakan Pangeran Diponegoro saat ini justru terlalu menyederhanakan sosok Diponegoro.
Ki Roni yang juga merupakan tokoh Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra PADI) mengatakan, Diponegoro adalah seorang Jawa yang sangat mencintai tradisi leluhurnya.
Di sisi lain, ia juga seorang muslim yang sangat mengagumi Nabi Muhammad SAW dan berusaha menjalankan hidup sesuai ajaran Islam.
“Beliau orang Jawa. Dalam Babad Diponegoro tergambar beliau sangat mencintai budaya dan tradisi Jawa. Sebagai muslim beliau juga sangat mencintai Nabi Muhammad,” ujarnya, Kamis (30/7/2026).

Menurutnya, Babad Diponegoro memang tidak pernah menjelaskan secara rinci pakaian yang dikenakan Diponegoro setiap hari. Namun, terdapat petunjuk yang menunjukkan bahwa Diponegoro mengenakan serban ketika berada di medan perang.
“Dalam babad ada cerita saat perang, serban jatuh, topi Belanda jatuh. Artinya beliau dan pasukannya memakai serban,” katanya.
Di sisi lain, terdapat pula ilustrasi Diponegoro mengenakan surjan dalam Babad Diponegoro versi Cokronegoro, Bupati Purworejo.
Termasuk juga lukisan karya seniman Keraton Yogyakarta yang dibuat saat Diponegoro masih berusia muda yakni saat ia menikah untuk yang kedua. Lukisan ini, kini berada di tangan salah seorang trah keturunan langsung Diponegoro di Jakarta.
Bagi Ki Roni, hal itu bukanlah sebuah pertentangan. Semua gambaran tersebut menurutnya bisa jadi merupakan potret keseharian Pangeran Diponegoro di momen-momen yang berbeda dalam kehidupannya.
“Kalau menurut saya, itu hanya menggambarkan pakaian sehari-hari. Kadang memakai pakaian Jawa, kadang memakai serban. Beliau kan seorang pangeran, pakaiannya banyak,” jelasnya.
Ia menilai citra Diponegoro berserban menjadi sangat populer karena selama ini banyak sumber sejarah yang dianggap paling kuat justru menggambarkan demikian.
Selain Babad Diponegoro, sejumlah catatan sejarah seperti karya De Stuers maupun Jean Beek juga menampilkan Diponegoro mengenakan serban.
Sementara itu, ilustrasi Diponegoro memakai surjan mulai dikenal luas setelah dimuat dalam buku karya sejarawan Peter Carey, Kuasa Ramalan, yang disusun berdasarkan penelitian sejarah secara mendalam.
Ki Roni juga tak terlalu setuju jika muncul anggapan bahwa penggambaran Diponegoro berserban merupakan upaya Belanda untuk menghilangkan identitas Jawa.
“Menurut saya masyarakat kita saja yang sering melihat sejarah hanya sebatas gambaran fisik. Terlalu sensitif dengan pakaian,” ujarnya.
Menurutnya, hal serupa juga kerap terjadi pada perdebatan mengenai keris yang dikenakan Diponegoro dalam berbagai lukisan.
“Orang kita sering bertengkar kenapa Pangeran Diponegoro dilukiskan memakai keris Solo. Padahal itu hanya lukisan. Yang melukis belum tentu tahu itu keris gaya Yogyakarta atau Solo,” katanya.
Lukisan adalah Interpretasi Seniman
Ki Roni mengingatkan bahwa sebuah lukisan pada dasarnya merupakan interpretasi seorang seniman terhadap tokoh yang dilukis. Bahkan, banyak pelukis tidak pernah melihat langsung wajah Diponegoro sehingga menggunakan model lain sebagai acuan.
“Banyak yang melukis Diponegoro berdasarkan wajah orang lain, bahkan berdasarkan wajah pelukisnya sendiri. Saya juga beberapa kali dijadikan model untuk lukisan wajah Diponegoro,” ungkapnya.
Karena itu, ia berharap masyarakat tidak lagi terjebak pada perdebatan mengenai busana maupun penampilan fisik Diponegoro.
“Jangan kita bertengkar hanya karena baju, wajah, atau penampilan. Ada yang jauh lebih penting dipelajari dari sejarah selain gambaran fisiknya,” tegas Ki Roni.
Baginya, warisan terbesar Pangeran Diponegoro bukan terletak pada apakah ia mengenakan surjan atau serban, melainkan pada nilai perjuangan, kecintaannya terhadap budaya Jawa, keteguhan memegang ajaran agama, serta keberaniannya melawan penjajahan.
Itulah warisan sejarah yang seharusnya lebih banyak dipahami generasi sekarang, daripada sekadar memperdebatkan pakaian yang dikenakannya.
