Mabur.co – Timnas Indonesia harus bersusah payah untuk menaklukkan Timor Leste dengan skor 0-3 di laga kedua (ketiga bagi Timor Leste) babak penyisihan Grup A Piala AFF 2026, yang berlangsung di Stadion Chonburi, Thailand, Jumat (31/7/2026).
Tiga gol skuad Garuda baru bisa dicetak ketika pertandingan menyisakan kurang dari 20 menit, masing-masing melalui pemain pengganti Shayne Pattinama di menit ke-74, Thom Haye melalui tendangan bebas memukai di menit ke-78, dan sodoran pemain naturalisasi baru asal Australia, Mitchell Baker, di menit ke-81.
Di laga ini, John Herdman memilih untuk sedikit merotasi skuadnya, dengan melakukan sebanyak enam pergantian pemain, dari laga perdana saat menghadapi Kamboja beberapa hari sebelumnya.
Pemain-pemain sepert Rayhan Hannan, Brian Fatari, Wahyu Prasetyo, Cahya Supriadi, Jordi Amat, serta pemain naturalisasi baru, Tim Geypens dimasukkan ke dalam starting line up pilihan John Herdman.
Hasilnya, Indonesia justru kesulitan membongkar pertahanan Timor Leste, yang dikawal oleh penjaga gawang naturalisasi asal Australia, Dylan Jose Niski.
Bahkan Timor Leste berhasil mengakhiri babak pertama dengan skor 0-0, meskipun Indonesia terus menerus menghasilkan peluang demi peluang di 45 menit pertama.
Masuknya “Bule” Menambah Variasi Serangan Indonesia

Di babak kedua, John melakukan sejumlah pergantian, di antaranya dengan mengganti Rayhan Hannan dengan pemain asal Dewa United, Egy Maulana Vikri, lalu mengganti Wahyu Prasetyo dengan Sandy Walsh, Brian Fatari digantikan oleh Shayne Pattynama, Tim Geypens digantikan oleh Ragnar Oratmangoen, dan Marc Klok yang digantikan oleh Dony Tri Pamungkas.
Setelah itu, permainan Indonesia mulai lebih bervariasi, dan berhasil menekan Timor Leste dari berbagai sisi lapangan, yang tentu saja semakin menyulitkan skuad asuhan Ze Pedro dalam bertahan.
Apalagi, para pemain Timor Leste juga mulai mengalami kelelahan, akibat terus dikurung oleh Indonesia di sepanjang pertandingan.
Tiga gol yang tercipta di pertandingan ini pun semuanya dihasilkan setelah pelatih John Herdman memasukkan nama-nama baru, yang tentunya masih cukup segar, dan memiliki kreativitas baru untuk membongkar pertahanan TImor Leste.
Setelah masuknya lima pemain baru, praktis Indonesia hanya memainkan Cahya Supriadi (kiper), Egy Maulan Vikri (gelandang kanan), serta Dony Tri Pamungkas (sayap kiri), yang merupakan pemain lokal atau asli Indonesia dalam pertandingan tersebut.
Sementara sisanya (8 pemain) adalah pemain-pemain naturalisasi alias “bule” yang berasal dari berbagai negara, seperti Belanda, Spanyol, dan juga Australia.
Dari sini terlihat jelas, bahwa pemain-pemain lokal masih belum sanggup untuk bersaing dengan “bule-bule” tersebut, karena untuk menghadapi tim sekelas TImor Leste saja, skuad Garuda mengalami banyak kesulitan untuk bisa menjebol gawang Timor Leste, yang dijaga Dylan Jose Niski.
Pemain-pemain seperti Brian Fatari, Wahyu Prasetya, serta Rayhan Hannan, tidak mampu berbicara banyak di pertandingan ini. Sehingga hanya Cahya Supriadi saja, yang bisa dibilang bermain “cukup aman” di laga kali ini, meskipun ia bermain sebagai penjaga gawang.
Berdasarkan rating yang dirilis oleh situs FotMob, Cahya Supriadi dan Wahyu Prasetya menempati rating teratas untuk pemain lokal yang bermain sejak menit pertama, masing-masing sebanyak 7,1. lalu di bawahnya ada Rayhan Hannan dengan rating 6,7, dan terakhir Brian Fatari sebanyak 6,5.
Sementara untuk pemain lokal pengganti yakni Egy Maulana Vikri dan Dony Tri Pamungkas, masing-masing meraih rating 6,5 dan 7,1. Dony menjadi pemain lokal yang cukup menonjol di pertandingan ini, di mana ia juga berhasil menciptakan assist untuk gol pertama yang dicetak Shayne Pattynama.
Gol ini juga menjadi pemecah kebuntuan di laga tersebut, setelah Indonesia berkali-kali kesulitan menembus pertahanan rapat yang diusung Timor Leste.
Hal ini tentu saja perlu mendapat perhatian serius dari pelatih John Herdman, untuk bisa mengasah kemampuan para pemain lokal asli Indonesia, agar tidak kalah bersaing dengan para pemain naturalisasi asal Belanda dan sebagainya, yang kini semakin banyak menjadi pilihan di setiap pertandingan yang dijalani oleh tim nasional sampai saat ini.
Meskipun baik pemain lokal maupun pemain naturalisasi sama-sama berjuang untuk membela Merah-Putih, namun penampilan kurang memuaskan yang diperlihatkan oleh pemain-pemain lokal (di laga versus Timor Leste) menjadi sebuah catatan penting, bahwa level pemain lokal memang masih berada di bawah para “bule” tersebut, sehingga membuat para pemain lokal terus kehilangan tempat di skuad utama tim nasional.
Karena tentu saja, program naturalisasi tidak bisa selalu dipertahankan selama-lamanya, karena yang lebih penting adalah bagaimana memaksimalkan talenta-talenta terbaik yang dimiliki oleh negara sendiri, untuk diorbitkan menjadi pemain unggulan di masa depan, baik di level klub maupun di tim nasional, untuk bisa mencapai prestasi yang diharapkan seluruh rakyat Indonesia. (*)
