Mabur.co- Lautan sepeda benar-benar tercipta di pusat pariwisata Kota Pelajar, imbas gelaran Jogja Last Friday Ride (JLFR) #195 edisi Juli 2026, Jumat (31/7/2026).
Hal ini sangat berbeda dengan edisi sebelumnya yang sempat terjadi gesekan antara aparat kepolisian dengan pesepeda yang melintasi Malioboro. Polresta dan Pemerintah Kota Yogyakarta benar-benar menepati janji untuk membersamai JLFR.
Sejak memasuki kawasan Malioboro dari sisi utara, pesepeda langsung disambut oleh personel kepolisian, Dishub, dan Satpol PP. Tidak ada represi, aparat gabungan memberikan imbauan bernada ramah agar peserta JLFR menggunakan lajur bagian kanan.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, memantau jalan, sambil melihat situasi.
Memahami Kondisi Riil
“Saya sudah mengikuti dari Mangkubumi. Turun langsung ke lapangan penting dilakukan untuk memahami betul kondisi riil, supaya bisa mengambil kebijakan yang tepat jika terjadi masalah di kemudian hari,” ucapnya.
Menurut Hasto, harus belajar di lapangan.
“Kalau saya tidak tahu lapangan, nanti kalau ada masalah-masalah, saya tidak bisa mengatasi sesuai dengan problem yang riil. Saya ingin melihat bagaimana pengguna jalan bisa sight seeing dengan baik dan semua lancar,” terangnya.
Menurut Hasto pula, mengenai evaluasi penataan lalu lintas atau kawasan Malioboro setelah event rutin ini, skema utama pada dasarnya sudah memiliki acuan yang jelas.
Fokus utamanya adalah memastikan semua pengguna jalan, baik pesepeda maupun wisatawan pejalan kaki, dapat memanfaatkan ruang publik dengan nyaman tanpa merasa terganggu.
“Kalau penataan lalu lintas dan Malioboro kan sudah ada pakemnya, sudah ada grand design. Kalau ini kan bagaimana hanya bisa menggunakan jalan dengan semua tidak terganggu,” ucapnya.
Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni Widyastuti, menegaskan, seluruh pengguna jalan memiliki hak yang sama untuk memanfaatkan ruang publik, termasuk rombongan JLFR setiap Jumat terakhir di penghujung bulan.
“Kebijakannya kita memang tidak pernah melarang untuk pesepeda. Jadi, kalau ada anggapan kita melarang, itu tidak benar, karena semuanya punya hak. Tapi, bagaimana kita bisa memberikan hak kepada yang lain juga, terutama bagi pengguna (jalan) yang tidak bersepeda. Semuanya harus berbagi tempat dan saling menghargai,” ujarnya, belum lama ini.
Pesan Positif Gaya Hidup Sehat
Chrestina mengatakan, JLFR pada dasarnya membawa pesan positif berupa gaya hidup sehat dan ramah lingkungan yang sejalan dengan cita-cita besar Yogyakarta.
“Gerakan bersepeda massal yang terinspirasi dari tradisi critical mass global tersebut diharapkan konsisten tertib, demi membangun narasi apik di mata publik,” katanya.
Sementara itu salah satu peserta JLFR, Jesikka, mengatakan, waktu keluar dari rumah jam 17.00 WIB, Start dari UGM, Kridosono, Tugu, Malioboro, Titik Nol.
“Suasana berjalan sangat dingin, jadi tidak usah takut berpanas-panasan dan berkeringat berlebihan. Seru juga karena bisa ramai-ramai ketemu teman-teman yang di jalan,” ucapnya.

Menurut Jessika, yang paling spesial kalau bertemu pesepeda lain saling menyapa, saling membunyikan bel, senang sekali.
“JLFR ini sangat mempererat pertemanan antar-pesepeda dan saling menghargai pengguna jalan lainnya,” katanya.
