Mengenal Angklung Gubrag asal Bogor, Usia 400 Tahun

5 Min Read
Three elderly performers in black robes walk across a village field, carrying bamboo frames with straw decorations and a drum in hand.
Angklung Gubrag. (Foto: indonesia-az.com)

Mabur.co – Masyarakat Nusantara dikenal memiliki beragam alat musik tradisional yang terbuat dari bahan bambu. Salah satunya adalah angklung yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

Pengakuan dunia terhadap angklung tak lepas karena alat tradisional ini memiliki sejarah panjang dalam tradisi kehidupan masyarakat agraris Nusantara, khususnya wilayah Jawa Barat atau Tataran Sunda. 

Angklung Tertua

Dari sekian banyak angklung yang dikenal di Indonesia terdapat Angklung Gubrak yang merupakan salah satu jenis angklung tertua di Nusantara.

Angklung Gubrag ini berasal dari Kampung Cipining, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor. Angklung ini telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat yang telah diwariskan selama ratusan tahun secara turun-temurun hingga kini.

Penelitian Hudaepah dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung berjudul “Kearifan Lokal Masyarakat dalam Melestarikan Kesenian Angklung Gubrag di Cipining Cigudeg Bogor”, dikutip mabur.co, Minggu (2/8/2026), menjelaskan bahwa Angklung Gubrag tidak hanya sebagai alat hiburan, melainkan juga sebagai media ritual masyarakat Sunda yang kehidupannya sangat bergantung pada pertanian.

Dalam penelitian itu disebutkan, pada masa lampau, angklung dimainkan dalam berbagai ritual pertanian sebagai penghormatan terhadap Dewi Sri yang dipercaya sebagai dewi kesuburan, sekaligus doa agar hasil panen melimpah.

Tradisi tersebut menjadikan Angklung Gubrag memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Di mana bunyi bambu dari angklung dipercaya dapat menjadi media untuk mengundang Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi kembali subur.

Sejarah Angklung Gubrag

Hudaepah menjelaskan, menurut berbagai catatan sejarah dan penuturan para pewaris tradisi, Angklung Gubrag lahir berawal dari masa paceklik panjang yang pernah melanda Kampung Cipining.

Kala itu tanaman padi diserang penyakit sehingga bulirnya kosong dan gagal panen. Masyarakat pun mengalami musibah kelaparan. Mereka meyakini bencana tersebut terjadi karena Dewi Sri meninggalkan bumi akibat murka terhadap manusia yang tidak lagi menjaga alam.

Berbagai upaya dilakukan, mulai dari sesaji hingga memainkan alat musik tradisional seperti suling dan karinding. Namun semuanya belum membuahkan hasil.

Hingga akhirnya seorang pemuda desa mendapat gagasan membuat seperangkat angklung dari bambu besar yang diambil dari Gunung Cirangsad. Setelah bambu dikeringkan dan melalui proses bertapa selama 40 hari, angklung itu selesai dibuat dan dimainkan bersama warga saat musim tanam.

Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, tak lama setelah permainan angklung digelar, tanaman padi kembali tumbuh subur. Masyarakat percaya Dewi Sri telah kembali turun ke bumi.

Peristiwa “turunnya” Dewi Sri inilah yang kemudian melahirkan nama Angklung Gubrag. Dalam bahasa Sunda, gubrag berarti jatuh atau turun dengan cepat.

Tak hanya lekat dengan kepercayaan masyarakat, Angklung Gubrag juga dikenal sebagai salah satu angklung tertua yang masih bertahan hingga sekarang. Sejumlah sumber bahkan menyebut usianya telah mencapai sekitar 400 tahun. 

Keberadaannya menjadi bagian dari keragaman angklung tradisional Nusantara, seperti Angklung Badeng dari Garut, Angklung Buncis dari Bandung dan Kuningan, Angklung Dogdog Lojor dari Sukabumi, Angklung Bungko dari Indramayu, hingga Angklung Buhun dari Banten.

Di era modern seperti saat ini, Angklung Gubrag masih terus dilestarikan masyarakat setempat dalam berbagai kegiatan tradisi. Salah satunya dalam upacara Seren Taun, yakni tradisi syukuran masyarakat Sunda setelah panen.

Sebelum ritual dimulai, masyarakat biasanya akan bermusyawarah menentukan waktu pelaksanaan, berziarah ke makam para leluhur, menggelar doa bersama, lalu memainkan Angklung Gubrag dalam arak-arakan menuju sawah.

Selama perjalanan, bunyi angklung terus mengalun. Setelah tiba di lahan pertanian, seorang juru kawih akan memimpin doa dan melantunkan kidung-kidung pujian kepada Nyai Sri, salah satunya Kidung Sri Lima.

Pertunjukan ini biasa dimainkan oleh sepuluh orang laki-laki yang memainkan berbagai jenis angklung, seperti Angklung Gancling, Angklung Engklok, Angklung Kurulung, Angklung Corolot, serta dua buah Angklung Dogdog sebagai pengatur irama.

Berbagai Festival Budaya

Seiring perkembangan zaman, fungsi Angklung Gubrag tidak lagi terbatas pada ritual pertanian. Kesenian ini kini juga kerap dipentaskan dalam berbagai festival budaya sebagai identitas masyarakat Cipining dan Kabupaten Bogor.

Meski demikian, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap dipertahankan. Di mana Angklung Gubrag bukan hanya sebagai alat kesenian musik bambu, tetapi juga simbol hubungan manusia dengan alam, rasa syukur atas hasil panen, serta penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan para leluhur.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar