Notulen Kaliurang, Enam Dalil KTN Jamin Indonesia Tetap Pegang Kedaulatan

4 Min Read
Group of men in light-colored suits and traditional caps walking along a wet road beside a wooden fence, with hills/volcano in the background.
Presiden Soekarno saat berada di Kaliurang. (Foto: Arsip Perpustakaan Nasional RI)

Mabur.co  – Jauh sebelum dikenal sebagai tempat wisata, kawasan Kaliurang yang terletak di Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta ternyata pernah menjadi salah satu lokasi penting dalam sejarah diplomasi Indonesia di masa awal kemerdekaan.

Pada Januari 1948, kawasan sejuk di lereng sisi selatan Gunung Merapi itu pernah menjadi lokasi pertemuan Republik Indonesia dengan Komisi Tiga Negara (KTN) yang dibentuk PBB untuk menengahi konflik Indonesia dan Belanda.

Baca Juga: https://mabur.co/budaya/dinas-kebudayaan-sleman-ajak-komunitas-sejarah-telusuri-kawasan-cagar-budaya-kaliurang/

Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan kawasan cagar budaya Kaliurang. Hingga saat ini sejumlah bangunan yang  menjadi saksi sejarah rangkaian perundingan  tersebut masih kokoh berdiri.

Sejumlah bangunan itu antara lain Wisma Kaliurang sebagai lokasi utama perundingan, Pesanggrahan Ngeksigondo yang digunakan sebagai tempat kerja bagi para staf delegasi, hingga Wisma Merapi Indah sebagai tempat akomodasi Presiden Sukarno.

Public plaza with a yellow building, red-tiled roof, colorful pennant banners, and a white abstract sculpture nearby.
Wisma Kaliurang, dulu menjadi lokasi utama pertemuan Komisi Tiga Negara (KTN) (Foto: JH Kusmargana)

Staf Ahli Dinas Kebudayaan Sleman bidang arkeologi dan pelestarian warisan budaya kolonial, Lengkong Sanggar Ginaris, menjelaskan penyelenggaraan KTN di Kaliurang tidak bisa dilepaskan dari peristiwa Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947.

Agresi Belanda kepada Indonesia yang baru mereka tersebut akhirnya membuat Dewan Keamanan PBB turun tangan untuk menengahi perseteruan Indonesia-Belanda.

Setelah melalui pembahasan, PBB kemudian membentuk Committee of Good Offices for Indonesia yang kemudian dikenal sebagai Komisi Tiga Negara.

Pertemuan ini dikenal sebagai Komisi Tiga Negara karena terdiri dari tiga negara. Yakni Australia, Belgia dan Amerika Serikat. Australia dipilih oleh Indonesia, Belgia dipilih Belanda, sedangkan Amerika Serikat dipilih sebagai pihak ketiga yang netral.

Tokoh Indonesia dalam KTN

KTN ini juga dihadiri langsung oleh para tokoh antara lain Presiden Ir. Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, Penasihat Presiden, Sutan Sjahrir hingga Perdana Menteri, Amir Syarifuddin.

Tugas utama KTN adalah menjadi penengah dalam konflik Indonesia-Belanda dan membantu kedua pihak menyelesaikan persoalan melalui jalur damai atau perundingan.

Lengkong menjelaskan pemilihan kawasan Kaliurang sebagai lokasi KTN bukan tanpa alasan. Pada saat itu, Yogyakarta memang menjadi ibu kota Republik Indonesia.

Traditional pavilion with tiled roof and a large signboard in front, Indonesian flag in the background.
Papan penanda lokasi pertemuan Komisi Tiga Negara yang terjadi Januari 1948 di kawasan Kaliurang, Pakem, Sleman, Yogyakarta. (Foto: JH Kusmargana)

Kaliurang dipilih sebagai salah satu tempat pertemuan karena sudah berkembang sebagai kawasan peristirahatan dengan berbagai fasilitas akomodasi.

“Pada waktu itu kan ibu kotanya RI ada di Yogya. Sementara di Kaliurang waktu itu sudah ada banyak akomodasi dan vila-vila yang bisa digunakan sebagai tempat untuk delegasi,” ujar Lengkong. 

Tak hanya itu, kondisi Kaliurang yang sejuk dan dingin juga menjadi pertimbangan tersendiri. Para delegasi dari luar negeri membutuhkan tempat yang nyaman untuk menjalani rangkaian pertemuan yang berlangsung dalam situasi politik yang tegang. Sehingga kawasan Kaliurang menjadi pilihan.

“Di sana suasananya sejuk, adem, jadi cocok buat tamu-tamu yang kebanyakan dari Eropa. Mereka lebih nyaman tinggal di iklim yang sejuk dan bisa untuk meredakan suasana perundingan. Agar tidak panas,” katanya.

Notulen Kaliurang

Pertemuan ini kemudian menghasilkan dokumen penting yang disebut Notulen Kaliurang. Dokumen ini memuat penjelasan enam dalil dari KTN yang menjamin bahwa Republik Indonesia tetap memegang kedaulatan dan kekuasaan atas daerah-daerah yang dikuasainya saat itu. 

Tak hanya itu, hasil perundingan KTN di Kaliurang ini juga menjadi modal diplomasi penting bagi delegasi Indonesia untuk akhirnya menandatangani Persetujuan Renville yang sangat terkenal.

Peristiwa KTN ini menjadi salah satu bagian penting perkembangan kawasan cagar budaya Kaliurang hingga saat ini.

Karena itu keberadaannya harus terus dilestarikan. Yakni sebagai saksi sejarah sekaligus tempat belajar bagi generasi mendatang.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar