Arsitektur Gereja Santo Mikael Pangkalan Adisutjipto, Indahnya Bekas Gudang Senjata

3 Min Read
Blue-walled church with a steep red-tiled roof, open doors, and a cross atop the peak; entrance area with benches and plants.
Gereja Santo Mikael Pangkalan Adisutjipto, Sleman, Yogyakarta. (Foto: Fotografi Gereja Katolik di Indonesia)

Mabur.co – Adisutjipto tidak hanya dikenal dengan bandara dan juga pangkalan militernya yang begitu legendaris dan sangat bersejarah.

Adistjipto juga turut menghargai perbedaan keyakinan alias dalam melaksanakan ibadah sehari-hari, termasuk bagi umat Katolik.

Gereja Santo Mikael atau Gereja Paroki Santo Mikael, adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di kawasan Bandara Adisutjipto, Kapanewon Depok, Sleman, Yogyakarta.

Dikutip dari laman Paroki Santo Mikael, Selasa (4/8/2026), Gereja Paroki Santo Mikael ini didirikan sejak tahun 1996, di mana gereja ini dulu merupakan bekas gudang bersenjata di zaman kolonial Belanda, yang kemudian dialihfungsikan menjadi bangunan gereja, berdasarkan keputusan Komandan Lanud Adisutjipto saat itu, Marsekal Pertama TNI Lambert F. Silooy.

Lokasinya yang berada di dalam ksatrian TNI AU ini tidak hanya mendapatkan pelayanan secara teritorial seperti untuk Paroki Kotabaru, Bintaran dan Baciro, tetapi juga mendapat perhatian dari reksa pastoral kategorial, dengan hadirnya pastor militer sebagai perpanjangan tangan Uskup TNI/Polri.

Meskipun lokasinya berada di sekitar bandara Adistjipto, namun gereja paroki ini sangat terbuka untuk masyarakat Katolik umum, yang ingin berkunjung dan beribadah di gereja tersebut.

Seiring berjalannya waktu, bangunan ini kemudian ditata ulang, dan dikembangkan sedemikian rupa, untuk memenuhi kebutuhan ruang ibadah umat Katolik di sekitar bandara.

Pada bulan April hingga Agustus tahun 2001, petugas setempat mulai melakukan sejumlah renovasi gereja, yang meliputi pemasangan eternit, lampu, sound system, altar, dan sebagainya.

Layaknya gereja-gereja lain pada umumnya, Gereja Santo Mikael ini juga terus dipercantik bentuk dan bangunannya, baik yang ada di dalam maupun di luar kawasan gereja.

Seperti hadirnya elemen ukiran kayu di bagian altar, serta ornamen relief perjamuan terakhir, yang cukup umum dijumpai pada beberapa gereja lainnya di Yogyakarta.

Revitalisasi Gereja

Di tahun 2019, gereja ini dirombak atau direvitalisasi kembali, yang berlangsung di masa pelayanan RM. A.R. Yudono Suwondo.

Beberapa fasilitas untuk pelayanan dan tempat tinggal serta taman-taman pun ditata ulang sedemikian rupa, sehingga membuat gereja ini menjadi semakin nyaman untuk dipakai beribadah bagi umat Katolik.

Melalui penggalangan dana yang dikumpulkan dari partisipasi umat di sekitar wilayah bandara, serta dukungan donasi dari Panglima TNI, Komandan Lanud Adisutjipto, serta Keuskupan Agung Semarang, akhirnya proses revitalisasi gereja ini rampung seutuhnya pada bulan September 2019.

Saat ini, Gereja Santo Mikael Pangkalan Adisutjipto turut melakukan beberapa kegiatan akulturasi budaya dalam kegiatan Misa, yang melibatkan anak-anak SD, dengan iring-iringan gamelan berbahasa Jawa.

Meskipun tumbuh dan hidup di lokasi kemiliteran, namun gereja ini tetap ingin hidup dalam keberagaman budaya masyarakat sehari-hari. Serta dapat menjadi sarana pelestarian budaya Jawa, yang tetap sesuai dengan nilai-nilai keagamaan Katolik. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar