Mabur.co- Pesanggrahan Ambarketawang dibangun sebagai kediaman sementara Sultan Hamengku Buwono I setelah berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada 1755.
Lokasinya dipilih karena berdekatan dengan kawasan Gunung Gamping, sumber utama batu kapur yang digunakan sebagai material pembangunan keraton.

Pelestari budaya, Sugito, menjelaskan, Pesanggrahan Ambarketawang menjadi tempat tinggal Sultan Hamengku Buwono I selama pembangunan Keraton Yogyakarta berlangsung.
Memimpin Pemerintahan dari Jauh
Dari sini ia memimpin pemerintahan sekaligus mengawasi penambangan batu di Gunung Gamping untuk kebutuhan pembangunan keraton.
“Saat itu, kawasan yang dipilih sebagai lokasi keraton masih berupa hutan beringin yang berada di antara Sungai Code dan Sungai Gajahwong. Setelah pembangunan dinilai cukup selesai, Sultan Hamengku Buwono I bersama keluarga dan perangkat kerajaan melakukan boyongan ke Keraton Ngayogyakarta pada 7 Oktober 1756,” tuturnya, Kamis (6/8/2026).

Menurut Sugito, Sultan menempati Pesanggrahan Ambarketawang sekitar satu tahun, yakni sejak 1755 hingga 1756.
Kondisi Situs Berubah
Meski memiliki nilai sejarah yang sangat penting, kondisi situs kini sudah jauh berubah.
“Yang masih tersisa hanya pendopo kecil, sumur tua, dan bunker. Dinding keliling pesanggrahan sebagian besar sudah runtuh. Sumurnya pun sudah direnovasi sehingga bentuk aslinya tidak lagi terlihat,” katanya.
Sugito berharap keberadaan Pesanggrahan Ambarketawang semakin mendapat perhatian sebagai salah satu saksi lahirnya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
“Sebelum kemegahan Keraton Yogyakarta berdiri, dari tempat sederhana inilah Sultan Hamengku Buwono I memulai roda pemerintahan sekaligus mengawal pembangunan pusat kerajaan yang hingga kini menjadi jantung budaya Yogyakarta,” katanya.
