Festival Ketoprak DIY 2026, Angkat Sejarah Mataram Pasca-Perjanjian Giyanti

4 Min Read
Stage scene from a play with actors in primitive clothing around a wooden cart on a rocky set with smoke effects, darkened audience area behind.
Suasana Festival Ketoprak DIY tahun 2026. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menggelar Festival Ketoprak Antar-Kabupaten/Kota DIY pada 7-8 Agustus 2026. 

Tahun ini, festival menghadirkan konsep baru dengan memindahkan lokasi pertunjukan dari Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta ke Alun-alun Sewandanan, Pura Pakualaman, Yogyakarta. 

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat, Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni, Dinas Kebudayaan DIY, Rully Andriadi, mengatakan Festival Ketoprak merupakan bagian dari Festival Berjenjang pada sub kegiatan Gelar Budaya Yogyakarta. 

Kegiatan ini menjadi wadah pembinaan, pengembangan, sekaligus pelestarian seni ketoprak yang selama ini dilakukan pemerintah kabupaten dan kota di DIY.

Sudah Melalui Proses Pembinaan

Menurut Rully, festival ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang apresiasi bagi kelompok-kelompok ketoprak yang telah melalui proses pembinaan di daerah masing-masing.

“Tahun ini kami mengangkat tema Mataram Pasca-Perjanjian Giyanti dengan fokus cerita pada berbagai peristiwa yang terjadi setelah Perjanjian Giyanti hingga sebelum masa pemerintahan Hamengku Buwono V,” katanya, Sabtu (8/8/2026). 

“Setiap kontingen dituntut menyusun naskah berdasarkan kajian sejarah yang dapat dipertanggung-jawabkan sehingga pertunjukan tidak hanya menarik secara artistik, tetapi juga memiliki nilai edukasi sejarah dan literasi budaya,” lanjut Rully.

Festival Ketoprak DIY tahun 2026 ini diikuti lima kontingen terbaik hasil seleksi tingkat kabupaten dan kota. 

Kabupaten Sleman membawakan lakon berjudul Tatu, Kota Yogyakarta menampilkan lakon berjudul Perang Trah, Kabupaten Bantul mengusung Gunung Gamping, Kabupaten Kulon Progo menampilkan Dawuh, sedangkan Kabupaten Gunungkidul membawakan lakon berjudul Hangrekso.

Sebelum tampil di panggung utama, seluruh peserta sendiri telah mengikuti rangkaian pembinaan berupa workshop dan orientasi tempat pertunjukan dengan dihadiri sejumlah narasumber berpengalaman.

Ketoprak Berbasis Sejarah

Melalui pembinaan tersebut, para peserta diharapkan mampu meningkatkan kualitas penyutradaraan, dramatik, historis, hingga artistik pertunjukan sehingga mampu menyajikan ketoprak yang tetap berpijak pada sejarah namun menarik bagi penonton masa kini.

Untuk menjaga kualitas kompetisi, Dinas Kebudayaan DIY juga telah menunjuk lima dewan juri independen yang berasal dari kalangan teater, sastra, dan seni pertunjukan. 

Penilaian lomba sendiri nantinya akan dilakukan berdasarkan enam aspek utama, yaitu keaktoran, penyutradaraan, kualitas naskah, tata rias dan busana, iringan karawitan, serta artistik pertunjukan.

Sebagai bentuk apresiasi, festival menyediakan 15 kategori penghargaan. Juara penyaji terbaik pertama akan menerima Piala Bergilir, trofi, piagam, serta uang pembinaan sebesar Rp15 juta. Juara kedua memperoleh Rp14 juta, juara ketiga Rp13 juta, juara keempat Rp12 juta, dan juara kelima Rp11 juta. Total hadiah kategori kelompok mencapai Rp65 juta.

Selain itu, tersedia penghargaan individu untuk kategori sutradara terbaik, penulis naskah terbaik, pemeran utama pria dan wanita terbaik, pemeran pembantu pria dan wanita terbaik, penata iringan, penata busana, penata artistik, hingga penata rias terbaik dengan total hadiah Rp16 juta.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, mengatakan tema pasca-Perjanjian Giyanti dipilih karena menjadi bagian penting dari sejarah lahirnya Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Melalui pertunjukan ketoprak ini, masyarakat akan diajak untuk kembali mengenang perjalanan sejarah, nilai-nilai budaya, serta tokoh-tokoh penting, termasuk Sri Sultan Hamengku Buwono I, dalam balutan seni pertunjukan tradisional.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar