Mabur.co – Shin Tae-Yong (STY) boleh saja pergi dari timnas Indonesia hampir dua tahun lalu (awal 2025), namun warisannya yang cukup lama di timnas Indonesia membuat namanya terus menjadi perbincangan di kancah persepak-bolaan tanah air hingga saat ini.
Apalagi saat ini, pelatih asal Korea Selatan ini juga telah resmi kembali ke Indonesia, dengan menangani klub Persija Jakarta untuk musim 2026-2027 mendatang.
Seperti diketahui, pada awal Januari 2025 lalu, STY dipecat oleh PSSI usai gagal membawa Pratama Arhan dan kawan-kawan lolos dari fase Grup B di Piala AFF 2024 lalu, setelah hanya sanggup mengumpulkan 4 poin dari 4 pertandingan, dan menempati posisi ketiga klasemen akhir di bawah Vietnam dan Filipina.
Pemecatan yang tampak dilakukan secara tiba-tiba itu pun membuat murka banyak pihak, salah satunya anak dari STY, Shin Jae-won. Ia bahkan sempat memposting sebuah pesan menohok di Instagram, yang kurang lebih berisi hujatan kepada Indonesia dan PSSI, yang telah memperlakukan ayahnya dengan tidak adil selama 5 tahun menangani timnas Indonesia.
Meskipun akhirnya sang ayah telah kembali ke Indonesia untuk menjadi pelatih klub ibu kota Persija Jakarta, namun rasa kecewa itu tampak tidak bisa hilang begitu saja.
Menyusul kegagalan timnas Indonesia melaju ke babak semifinal Piala AFF untuk kedua kalinya secara beruntun pada Jumat (7/8/2026) lalu, cuitan Shin Jae-won pun kembali jadi sorotan luas di jagat dunia maya.
Terus Memburuk Setelah Memecat STY

Bagaikan karma atau deja vu, banyak warganet yang kemudian mengait-ngaitkan komentar anak STY tersebut dengan kondisi timnas Indonesia sejak saat itu hingga sekarang.
Mulai dari kegagalan lolos ke putaran final Piala Dunia 2026, gagal menjuarai Piala AFF U-23 di kandang sendiri, gagal lolos ke putaran final Piala Asia U-23 2026 (padahal edisi sebelumnya mampu mencapai posisi 4 besar ketika masih dipegang STY), gagal lolos dari fase grup di SEA Games 2025 Thailand, gagal menjuarai turnamen FIFA Series di bulan Maret lalu, hingga yang terbaru yakni gagal lolos dari fase grup Piala AFF 2026.
Meskipun telah kembali mengganti nakhoda kepelatihan dari Patrick Kluivert ke John Herdman, namun hasil yang diperoleh timnas Indonesia tetap belum begitu memuaskan sejauh ini, kecuali hanya memenangkan sejumlah pertandingan persahabatan.
Dengan kata lain, mau siapa pun pelatihnya, siapa pun pemainnya, seberapa banyak dan hebat pemain naturalisasi yang diboyong dari Belanda dan negara mana pun di seluruh dunia, hal itu tetap tidak akan mampu melepaskan “karma” yang dilakukan PSSI kepada STY sejak awal tahun lalu.
Erick Thohir selaku Ketua PSSI dan juga Menpora (Menteri Pemuda dan Olahraga) juga seolah tidak memiliki rasa penyesalan sedikit pun setelah memecat STY, apalagi meminta maaf atas perbuatannya, di tengah persiapan menghadapi Kualifikasi Piala Dunia ronde ketiga menghadapi Australia saat itu.
Apalagi satu per satu pemain naturalisasi yang diboyong dari Belanda justru malah bermain di Liga Indonesia atau BRI Super League.
Sebut saja Jordi Amat, Rafael Struick, Ivar Jenner, Thom Haye, Eliano Reijnders, Jens Raven, Tim Geypens, Mauro Zijlstra, hingga yang terbaru yakni Ragnar Oratmangoen dan Sandy Walsh di musim depan.
Secara tidak langsung, PSSI hanya melakukan naturalisasi untuk menambah stok pemain di liga lokal, bukan untuk memperkuat tim nasional.
Karena pastinya, PSSI menginginkan pemain keturunan yang bermain di liga luar, terutama liga kompetitif di Eropa. Bukan pemain yang nantinya hanya akan meramaikan kompetisi BRI Super League.
Meski tajuk di setiap kegagalan turnamen selalu berupa “evaluasi”, namun evaluasi saja sejatinya tidak pernah cukup. Karena kegagalan itu terus saja diulangi dari waktu ke waktu, khususnya sejak “antek-antek Korea” itu meninggalkan kursi panas di timnas Indonesia.
Sehingga yang lebih dibutuhkan saat ini bukanlah evaluasi, melainkan kesadaran diri dari PSSI dan segenap jajarannya, untuk tidak lagi mempolitisasi sepak bola, dan segera menyudahi program naturalisasi andalannya.
Karena semua itu sudah tidak lagi efektif, untuk membangun prestasi sepak bola dalam waktu singkat. (*)
