Mabur.co – Setiap orang pasti memiliki hobi, atau kegiatan seru yang dilakukan secara rutin dalam kurun waktu tertentu. Misalnya hobi memancing, menulis, membaca, bermain bola, lari, jalan kaki, mendengarkan musik, menonton TV/film, tidur siang, dan masih banyak lagi.
Pada hakikatnya, ketika suatu kegiatan seperti contoh-contoh di atas dijadikan sebuah hobi, pastinya akan ada rasa kepuasan tersendiri (pleasure) setelah melakukannya.
Bahkan, kegiatan hobi semacam itu dapat dijadikan “pelarian” atau refreshing dari penatnya aktivitas sehari-hari, terutama pekerjaan yang menumpuk, dan seterusnya.
Lalu bagaimana ketika hobi tersebut kemudian menjadi profesi alias pekerjaan Anda sehari-hari? Apakah rasa kepuasan atau pleasure itu masih tetap sama seperti sebelumnya?
“Melakukan Hobi Sambil Dibayar” Tidaklah Sesimpel Itu

Di era modern saat ini, kesempatan untuk mendapatkan cuan bisa dibilang jadi semakin besar dan mudah.
Cukup memanfaatkan platform digital seperti Instagram, TikTok, dan juga YouTube, Anda sudah bisa menghasilkan cuan dari pembuatan konten tertentu yang sesuai dengan hobi Anda sendiri.
Dengan kata lain, Anda berhasil mendapatkan penghasilan dari sesuatu yang Anda sukai dan Anda nikmati selama ini, alias “melakukan hobi sambil dibayar”.
Sekilas hal itu terdengar sangat menyenangkan, sekaligus menjadi impian dari semua orang di seluruh dunia.
Namun kenyatannya, “melakukan hobi sambil dibayar” tidaklah sesimpel ucapannya.
Karena segala sesuatu yang tadinya terasa bebas dan nikmat dilakukan kapan saja, kini menjadi sesuatu yang penuh beban, penuh tekanan (pressure), dan seterusnya.
Dilansir dari laman Medium, Senin (10/8/2026), inilah beberapa sebab dari perubahan hobi yang awalnya merupakan sesuatu yang menyenangkan (pleasure), lalu berubah jadi tekanan (pressure) ketika sudah menjadi pekerjaan tetap.
1. Kehilangan Kendali atas Diri Sendiri
Ketika sebuah hobi bertransformasi jadi sebuah pekerjaan, sesuatu yang awalnya bebas dilakukan tanpa adanya tekanan apapun, kini berubah menjadi suatu tuntutan, keharusan, atau bahkan kesempurnaan, yang tidak dapat ditolerir sedikit pun.
Selain itu, ketika masih bersifat hobi, kegiatan itu kemungkinan besar hanya melibatkan diri Anda sendiri maupun orang-orang terdekat Anda. Namun ketika sudah menjadi pekerjaan, akan ada pihak-pihak lain yang mulai terlibat di dalam kegiatan hobi Anda.
Sebagai contoh, ketika Anda masih berusia 5-15 tahun, Anda adalah seseorang yang sangat menyukai permainan sepak bola. Setiap pulang sekolah sampai Magrib, Anda bermain bola dengan teman-teman Anda di lapangan dekat rumah, dan menghabiskan sore hari dengan riang gembira.
Tidak ada tekanan sedikit pun untuk menang atau kalah di pertandingan tersebut, yang penting adalah bersenang-senang dengan teman-teman Anda sambil bermain bola.
Namun ketika bermain sepak bola kemudian dialihkan jadi sebuah profesi (atlet), Anda harus bersaing dengan sesama pemain bola lainnya, untuk memperebutkan satu posisi tertentu di dalam akademi atau tim yang Anda ikuti sejak usia muda.
Tidak hanya itu, Anda juga harus mengikuti setiap instruksi pelatih, manajemen, sponsor (jika ada), orang tua yang telah membawa atau membiayai Anda untuk bergabung ke akademi tersebut, dan seterusnya.
Dari situ saja sudah terlihat jelas, bermain sepak bola yang awalnya merupakan hobi yang sangat menyenangkan bersama teman-teman, lalu berubah jadi tuntutan untuk harus selalu perform setiap saat, tidak boleh melakukan kesalahan (harus selalu sempurna), dan sebagainya.
Pada akhirnya, bermain sepak bola menjadi sesuatu yang tidak lagi menyenangkan. Karena banyaknya tekanan dari berbagai arah secara serentak, tanpa mempedulikan kondisi internal yang sedang Anda alami, seperti misalnya stres, memiliki gangguan mental, dan lain-lain.
2. Menciptakan Standar Perfeksionis (Kesempurnaan)
Kesempurnaan memang hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, namun di zaman sekarang, apalagi di era media sosial seperti saat ini, semua hal juga tampak harus selalu sempurna kapan saja dan di mana saja.
Termasuk bagi orang-orang yang telah memutuskan untuk mengubah hobinya menjadi sebuah pekerjaan tetap, alias mengubah pleasure menjadi pressure.
Dalam contoh bermain sepak bola di atas, ketika seseorang telah memutuskan untuk menjadi seorang atlet profesional, maka seluruh hidupnya harus didedikasikan untuk hobinya tersebut, agar mencapai “kesempurnaan” seperti yang diharapkan oleh semua pihak.
Pada akhirnya, Anda tidak lagi menikmati apa yang Anda lakukan. Karena semuanya seolah lebih fokus pada kesenangan orang lain, bukan lagi kesenangan diri Anda sendiri.
Karena sebuah hobi pastinya berawal dari kesenangan diri sendiri terlebih dahulu, tanpa pernah memikirkan sedikit pun apa kata orang lain, dan seterusnya.
3. Terlalu Fokus pada Hasil Akhir
Seperti poin terakhir pada penjelasan sebelumnya, ketika Anda mulai mengubah hobi menjadi sebuah pekerjaan, Anda akan lebih banyak mendengarkan apa kata orang lain, ketimbang mendengarkan kata hati atau intuisi Anda sendiri.
Akibatnya jelas, Anda akan merasa “tersesat” atau terombang-ambing dengan tuntutan dari pihak-pihak luar, tapi justru melupakan aspek diri Anda sendiri, terutama dari segi kesehatan fisik dan mental.
Dalam konteks bermain bola di atas, seorang atlet pastinya akan mendapat masukan, kritikan, maupun hujatan dari banyak orang, terutama ketika penampilannya tidak sesuai dengan ekspektasi mereka, dan sebagainya.
Semua itu tentunya tidak perlu Anda lakukan, apabila Anda hanya menjadikan bermain bola sebagai hobi semata.
4. Hilangnya Tempat Pelarian
Ketika masih kecil, Anda melepaskan penat maupun stres di sekolah atau di rumah dengan bermain bola bersama teman-teman. Lalu ketika Anda telah menjadikan bermain bola itu sebagai pekerjaan utama, Anda pun kembali mengalami perasaan stres atau penat, yang justru berasal dari hobi Anda tersebut. Akibat dari penampilan Anda yang kurang maksimal, atau tidak memenuhi permintaan dari pihak-pihak tertentu (misalnya harus mencetak gol, assist, dan seterusnya).
Jika Anda tidak memiliki hobi atau kegemaran lain selain bermain bola (yang telah menjadi pekerjaan) tersebut, maka sulit bagi Anda untuk menemukan pelarian di tempat lainnya.
Dampak untuk Kesehatan Mental
Perubahan kegiatan yang awalnya merupakan hobi lalu jadi pekerjaan, alias pleasure jadi pressure ini juga ikut memengaruhi kesehatan mental seseorang. Apalagi di zaman sekarang, di mana media sosial juga turut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia pada umumnya.
Berikut adalah beberapa dampak pleasure jadi pressure dalam konteks kesehatan mental.
1. Kehilangan Minat
Secara tidak langsung, aktivitas yang awalnya hobi lalu menjadi pekerjaan, membuat gairah atau minat untuk melakukannya terus-menerus jadi berkurang.
Sesuatu yang dulunya tampak menyenangkan ketika masih menjadi sebuah hobi, tiba-tiba berubah jadi sesuatu yang tidak lagi menyenangkan, ketika sudah banyak campur tangan orang lain di dalamnya. Seperti dalam contoh bermain sepak bola di atas.
2. Kelelahan Emosional
Tingginya tuntutan untuk terus sempurna setiap saat ketika melakukan hobi tersebut, lama-kelamaan mulai membuat Anda merasakan stres atau ketegangan tersendiri, yang berujung pada kejenuhan (burnout). Sama seperti melakukan pekerjaan kantoran biasa, dan seterusnya.
3. Takut Mengecewakan Orang Lain (Tapi Sudah Pasti Mengecewakan Diri Sendiri)
Selain itu, mulai muncul rasa takut gagal atau takut mengecewakan pihak lain. Apalagi kepada pihak-pihak yang turut membayar perjalanan Anda untuk sampai di titik hobi secara profesional tersebut. Misalnya orang tua, sponsor, donatur, dan lain sebagainya.
Ketika Anda telah memutuskan menjadi seorang pemain bola profesional, tentunya Anda tidak ingin mengecewakan manajemen, pelatih, rekan setim, orang tua, hingga penggemar (atau netizen), yang selalu setia mendukung perjuangan Anda di mana pun dan kapan pun.
Padahal, kehadiran mereka sebenarnya adalah “benalu” bagi Anda, yang hanya menuntut kesempurnaan dari diri Anda setiap harinya, tanpa mempedulikan bagaimana perasaan Anda, dan sebagainya.
Orang-orang itu juga sejatinya tidak pernah Anda butuhkan sama sekali, ketika Anda masih menjadikan bermain bola sebagai hobi biasa sebagaimana masa kecil Anda sebelumnya.
Cara Mengatasi
Masih ada beberapa cara yang bisa dilakukan, untuk setidaknya meminimalisir dampak-dampak yang telah disebutkan di atas. Di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Ambil Jeda
Anda bisa melakukan istirahat atau berhenti sejenak dari aktivitas hobi tersebut, agar pikiran kembali jernih dan terbebas dari tekanan siapa pun.
Atau jika dibutuhkan, Anda juga bisa berkonsultasi dengan kalangan profesional tertentu (psikolog dan semacamnya), yang dapat dipercaya dan diandalkan, untuk memecahkan persoalan yang Anda hadapi atas “hobi yang dibayar” tersebut, dan seterusnya.
2. Kembali ke Niat Awal
Terkadang, seseorang yang sudah nyemplung ke dalam hobinya sebagai suatu pekerjaan, biasanya telah kebablasan sedemikian jauh dari tujuan awalnya menyukai hobi tersebut. Untuk itu, Anda bisa mengIngat kembali apa alasan pertama kali menyukai hobi tersebut, tanpa memerlukan syarat sedikit pun.
3. Turunkan Ekspektasi
Setelah menjadikan hobi sebagai pekerjaan, biasanya yang dipikirkan hanyalah tentang memenuhi target dari klien, atasan, dan sejenisnya. Hal ini tentu saja akan membuat Anda merasa jenuh dengan hobi Anda sendiri.
Maka dari itu, Anda juga perlu menetapkan batasan atau bahkan menentukan target Anda sendiri. Selain itu, Anda juga perlu kembali menikmati kembali proses demi proses kecil di dalamnya.
Dalam konteks bermain bola tadi, Anda bisa bermain dengan anak-anak kecil usia 10 tahun ke bawah, agar bisa menemukan kembali kenyamanan bermain bola, tanpa terpengaruh harus tampil sempurna, meraih kemenangan, mencetak gol, dan seterusnya.
4. Cari Hobi Baru
Anda juga perlu menemukan hobi baru di bidang lainnya, untuk menjadi pelarian dari aktivitas hobi yang telah menjadi pekerjaan tersebut.
Pastikan hobi tersebut benar-benar dilakukan tanpa ada embel-embel “menghasilkan uang” di dalamnya. Karena awal mula dari pressure dan ketidaknyamanan sebuah hobi itu biasanya berawal dari keinginan untuk menghasilkan uang dari kegiatan tersebut.
Ketika segala sesuatu (termasuk menjalani hobi) sudah mengandung kepentingan materi di dalamnya, maka hampir dipastikan bahwa pihak-pihak lain akan ikut terlibat di dalamnya.
Karena tentu saja, tidak ada orang yang bersedia mengeluarkan uangnya dengan enteng begitu saja, tanpa adanya usaha atau effort berlebih dari orang-orang tersebut, sekali pun mereka sedang bekerja di bidang yang disukainya sejak kecil.
***
Melakukan hobi memang menyenangkan. Menghasilkan uang dari hobi juga pastinya sangatlah menyenangkan. Akan tetapi, ketika menghasilkan uang itu harus dengan melakukan kesempurnaan setiap harinya, sekalipun untuk suatu kegiatan yang kita sukai, maka rasanya akan sama sekali berbeda, dan tidak lagi menarik sebagaimana sebelumnya.
Tidak ada salahnya memang jika menjadikan hobi sebagai mata pencaharian baru, namun jangan sampai mata pencaharian itu justru menjenuhkan diri Anda sendiri, sehingga membuat Anda sulit menerima kenyataan, bahwa hobi yang selama ini terlihat menyenangkan, ternyata begitu menyebalkan ketika sudah dijadikan sumber penghasilan, sehingga membuat Anda balik membencinya, tidak menyukainya lagi, dan seterusnya. (*)
