Arsitektur Jembatan Bambu, Dibangun Warga Kulon Progo Setiap Musim Kemarau

5 Min Read
Rider on a scooter crosses a long bamboo bridge over a calm river, with Indonesian flags lining the railing and a rural landscape in the background.
Arsitektur Jembatan Sesek Temben di Ngentakrejo, Lendah, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Setiap musim kemarau tiba, warga Padukuhan Temben, Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mempunyai tradisi unik untuk membangun jembatan secara swadaya. 

Saat debit Sungai Progo mulai surut, warga bergotong royong membangun jembatan penyeberangan sementara yang terbuat dari bambu dan dikenal sebagai Jembatan Sesek Temben.

Jembatan tersebut membentang di atas Sungai Progo dan menjadi jalur alternatif yang menghubungkan wilayah Kabupaten Kulon Progo dengan Kabupaten Bantul.

Bagi masyarakat, keberadaan jembatan ini bukan sekadar berfungsi untuk memudahkan perjalanan. Jalur tersebut menjadi bagian penting dari aktivitas sehari-hari, terutama bagi warga yang bekerja dan bersekolah di wilayah Bantul.

Masyarakat dari Kalurahan Gulurejo dan Ngentakrejo menjadi pengguna utama jembatan tersebut. Dengan jembatan ini mereka dapat memangkas jarak perjalanan dibandingkan harus menggunakan jalur lain untuk menuju Bantul.

Pembangunan Jembatan Sesek dilakukan secara swadaya. Warga biasanya akan menggalang iuran dan melakukan gotong royong untuk membuat jembatan sementara sebagai akses perlintasan mereka.

Salah satu warga yang lahannya menjadi bagian dari lokasi jembatan adalah Nurdi Suyanto (72). Ia mengatakan jembatan biasanya akan mulai dibangun ketika musim kemarau tiba. 

Di saat itulah kondisi Sungai Progo yang surut dengan debit air yang cukup kecil, membuat proses pemasangan struktur jembatan penyeberangan lebih aman untuk dilakukan. 

“Bangunnya sekitar bukan Juli lalu, saat masuk kemarau. Ya sebagai akses warga desa yang mau bepergian ke Bantul,” katanya, Selasa (11/8/2026).

Arsitektur Jembatan Bambu

Untuk membangun jembatan bambu ini, sebanyak 12 warga mengumpulkan dana sekitar Rp3 juta per orang. Uang tersebut kemudian digunakan untuk membeli berbagai kebutuhan material pembangunan jembatan.

Tahun ini jembatan yang dihasilkan memiliki panjang sekitar 160 meter dengan lebar sekitar dua meter. Panjangnya jembatan bambu ini sendiri tidak selalu sama setiap tahun. Kondisi tersebut dipengaruhi perubahan alur Sungai Progo, termasuk abrasi yang membuat posisi tepi sungai terus berubah.

Suharno (50), warga setempat, mengatakan pembangunan jembatan terkadang membutuhkan waktu lebih lama dari rencana karena warga harus menyesuaikan material dan biaya pembangunan.

“Rencananya lima hari selesai, tapi akhirnya sampai 10 hari karena harga material naik, jadi urunan pembuatannya ikut bertambah,” kata Suharno.

Setelah selesai dibangun, jembatan tidak serta-merta bebas dari biaya perawatan. Warga yang menggunakan jembatan secara sukarela memberikan sumbangan.

Dari kontribusi pengguna tersebut, warga dapat mengumpulkan sekitar Rp700.000 hingga Rp800.000 setiap harinya. Dana itu kemudian digunakan untuk merawat jembatan dan menjaga agar tetap dapat digunakan selama musim kemarau.

Long wooden bridge over a river with red-and-white flags; a motorcyclist rides across.
Arsitektur Jembatan Sesek Temben di Ngentakrejo, Lendah, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Jalur Anak Sekolah dan Pekerja

Aktivitas di Jembatan Sesek berlangsung sejak pagi. Anak-anak sekolah menjadi salah satu kelompok yang banyak melintasi jembatan.

Setelah itu, aktivitas warga terus berlangsung hingga siang. Pada sore hingga malam hari, jembatan kembali ramai oleh pekerja yang pulang dari Bantul.

Sebagian pengguna merupakan buruh pabrik dan pekerja harian yang tinggal di wilayah Gulurejo dan Ngentakrejo.

“Yang lewat banyak yang kerja ke Bantul. Ada yang dari Gulurejo, Ngentakrejo, banyak yang jadi buruh pabrik,” ujar Suharno.

Jembatan kemudian tidak hanya menjadi jalur transportasi. Ketika sore tiba, kawasan tersebut juga menjadi tempat warga menghabiskan waktu.

Sebagian warga berjalan kaki dan bersepeda. Ada pula yang menggunakan jalur tersebut untuk menuju kawasan kuliner seperti Taman Paseban dan Pasar Bantul.

Aktivitas biasanya masih berlangsung hingga sekitar pukul 20.00 WIB. Setelah malam semakin larut, jumlah pengguna mulai berkurang dan kawasan lebih banyak dimanfaatkan oleh para pemancing.

Arsitektur Jembatan Harus Siap Menghadapi Banjir

Sebagai jembatan sementara yang hanya dibuat dari bambu, Jembatan Sesek memiliki tantangan tersendiri, terlebih saat musim penghujan tiba. 

Saat debit air sungai meningkat dan banjir datang, struktur jembatan tak akan mampu menahan arus sehingga membuat jembatan hancur.

Sebagian material jembatan akan terbawa arus, sementara sebagian lainnya terdampar di tepi sungai. 

Perekat Tradisi Gotong-Royong

Jika sudah seperti itu, warga biasanya akan memungut sisa-sisa material yang masih bisa diselamatkan untuk disimpan dan digunakan untuk proses pembuatan jembatan di musim kemarau berikutnya.

“Kalau kemaraunya panjang ya jembatan bisa bertahan lama sampai 2-3 bulan. Tapi kalau kemarau pendek, kadang baru sebulan dibuat tapi sudah hancur tersapu banjir. Tapi ya tidak masalah, tahun depan kita bangun lagi,” katanya.

Bagi masyarakat Temben, Jembatan Sesek ini pun bukan hanya sekadar sarana penyeberangan. Jembatan ini telah menjadi sarana perekat tradisi gotong-royong yang berlangsung turun-temurun setiap musim kemarau tiba. 

Jembatan ini bahkan juga telah menjadi salah satu ikon jembatan musiman yang ada di Kabupaten Kulon Progo.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar