Pemukulan Gong 7 Kali, Iringi Ritual Magis Umbul Kidung Puja Mantra di Candi Kedulan

7 Min Read
Suasana ritual magis Umbul Kidung Puja Mantra di Candi Kedulan. Foto: Istimewa

Plataran Candi Kedulan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, kembali menjadi pusat tirakat kebangsaan.

Pada Senin malam, 10 Agustus 2026, Srawung Paseduluran Anggara Kasih bersama Satuan Team Anti Kriminalitas (STAK) DIY menggelar ritual budaya Umbul Kidung Puja Mantra.

Tepat pukul 18.00 WIB, ratusan peserta telah memenuhi area plataran candi. Pemandangan indah dan harum tercipta ketika seluruh hadirin kompak menyelipkan bunga kamboja di telinga, sebagai simbol ikatan paseduluran yang wangi dan tulus.

Ritual Pemukulan Gong 7 Kali

Ritual dibuka dengan Pemukulan Gong 7 kali oleh Ki Gde Mahesa, salah satu Inisiator Srawung Paseduluran Anggara Kasih. Dengungan gong yang dalam seketika mengubah suasana menjadi khidmat.

Sepanjang acara, irama musik yang menggambarkan kejayaan Nusantara di masa lalu terus mengiringi perjalanan ritual. Seakan mengkoneksikan energi para leluhur untuk kembali menegok anak-cucu yang sedang kelelahan menyangga beban zaman.

Acara dilanjutkan dengan persembahan Tembang Macapat dari Padepokan Tangkil.

Mbah Tukimin membawakan sekar pangkur, yang berarti mungkur atau memalingkan diri dari hal-hal duniawi. Sebuah pengingat bahwa ketika kehidupan sudah mulai rapuh, sudah saatnya manusia berpaling dari dunia profan menuju ke jagad bawana langgeng, Hong Bawana Langgeng.

Usai macapat, energi muda hadir melalui Tari Lenggot Siwi. Tarian persembahan ini dibawakan oleh tujuh penari muda binaan STAK, asuhan Helga Jayanta dan Destara.

Ketujuh penari tersebut adalah Mutiara Maharani Putri, Intan Dwi Lestari, Verly Kejora Anggun Az Zahra, Luna Dwi Astuti, Dewi Suci Indah Mutiara, Vionita Rahmadani, dan Adzra Nabila Nur Ariqah.

Tarian ini merupakan persembahan kepada tamu yang datang, juga kepada para leluhur pembangun Candi Kedulan, sekaligus sebagai doa permohonan agar terpenuhi segala hajat baik demi bangsa dan negara tercinta.

Jumlah tujuh memiliki makna pitu, yang berarti tujuan, pitulungan (pertolongan), pituwas (nasihat), dan pituduh (petunjuk).

Seiring dengan itu, Ki Hand Wiratirta, Ki Supriyadi Sapta Atmaja, Ki Tito Pangesti Aji, melakukan ujub sesaji, dan pencampuran tirta suci ke dalam tiga guci/cupu, di mana ketiga wadhah air suci itu akan diarak masuk ke dalam candi utama.

Sebagai wujud cinta tanah air, seluruh hadirin kemudian bersama-sama menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Memasuki inti acara, pembukaan pembacaan mantra kembali ditandai dengan pemukulan gong sebanyak 7 kali.

Seorang penari cucuk lampah, Nyai Yuli Mirata, dengan gerak lemah gemulai mengajak seluruh hadirin untuk mempersiapkan diri memasuki area percandian.

Geraknya yang halus mengingatkan betapa leluhur kita memiliki kelembutan bak seorang per-empu-an, yang siap menempa sebuah keris pusaka, yakni generasi yang tangguh, hasil dari tempaan para empu yang tahan banting, ahli tarak brata, lelana brata, laku suci, dan olah budi.

Tembang Pambuka yang dilantunkan oleh Nyai Titik kemudian menghantarkan suasana pada pembukaan gerbang gaib, menuju ke alam pasenedan suci.

Dilanjutkan dengan pembacaan Suluk Budhalan oleh Supriyadi Sapta Atmaja. Cucuk lampah berjalan pelan memasuki area candi dan berhenti sejenak di depan Gapura Candi.

Pada momen hening itu, Nyai Titik kembali melantunkan tembang Mijil yasan dari Ki Supriyadi Sapta Atmaja:

Ngaturaken sembah pangabekti/
Mring leluhuring ngong/
Keparenga dherek dhepe-dhepe/
Pra paraga kang pinarak mriki/
Arsa puji santi/
Sarta umbul kidung//

Hong awighnam Sang Hyang sadhu Budi/
Hong, hong, hong santi hong/
Sun ambuka wiwarane gaeb/
Jagat langgeng kang arsa cinandhi/
Sang Hyang Syiwa budi/
Nuwun kula nuwun.

Puncak Ritual di Jantung Candi

Acara dilanjutkan dengan memasuki area utama Candi Kedulan untuk pelaksanaan Umbul Kidung Puja Mantra.

Para Sesepuh Paseduluran Anggara Kasih dan STAK masuk ke dalam candi untuk menghaturkan doa dan permohonan berkah dengan uba rampe serta percampuran tirta suci sebagai bentuk nyata Pamoring Wruh, Jalma Unggul Kawula Jaya.

Tirta Suci menjadi lambang penyucian diri, meruwat dan melukat, sementara percampuran tanah suci menjadi lambang Kawula, yang adalah Dewa Ngejawantah, yang direpresentasikan dengan kehadiran Tejamaya (Togog) dan Ismaya (Semar).

Tejamaya merupakan pamong para raksasa dan Semar sebagai pamong para kesatria. Kehadiran Arjuna diharapkan menjadi wadah bagi turunnya wahyu kamulyan, untuk menyongsong Ratu Adil, yakni Jumenengan Parikesit.

Ujub Umbul Kidung Puja Mantra dipimpin oleh Ki Eko Hand Wiratirta. Ki Eko Hand melantunkan Mantra, sedangkan Ki Supriyadi Sapta Atmaja melantunkan kidung.

Diikuti pembacaan Mantra Sapu Jagad oleh Sapta Hapsari. Pembacaan mantra dan kidung ditutup dengan mempersilakan para hadirin untuk melakukan penghormatan kepada leluhur dan berdoa menurut keyakinannya masing-masing, dengan mengelilingi candi searah prasawya (ke kiri).

Seluruh peserta kemudian kembali ke area plataran untuk sesi sambutan. Sambutan panitia disampaikan oleh Bunda Tete (Si Rejeki), dilanjutkan sambutan para tokoh dan Orasi Budaya oleh Sesepuh STAK, Ki Sigit (Mbah Cemo).

Dalam orasinya, Ki Sigit menegaskan bahwa bangsa Indonesia perlu menengok ke belakang, agar bisa meneladani para leluhur yang telah membangun Nusantara dengan kegigihan dan kelembutan budi pekerti, serta perlu kembali kepada jati diri bangsa. Acara diakhiri dengan prosesi ngalap berkah dan penutup oleh MC Dap Monel.

Memantik Rasa Cinta Tradisi Budaya

Ditemui terpisah, Ki Gde Mahesa menjelaskan tujuan acara ini adalah untuk memantik rasa cinta terhadap warisan tradisi budaya, dengan menghidupkan kembali upacara ritual sebagai banyu suci, penyeimbang kehidupan berbangsa dan masyarakat pada umumnya.

Juga sebagai upaya nguri-uri warisan leluhur Candi Kedulan sebagai ruang madhyama, bukan museum mati, serta sebagai media silaturahmi paseduluran antar-forum dan kelompok khususnya yang ada di Yogyakarta dan seluruh Indonesia agar damai dan sejahtera.

Sementara Ki Hand Wiratirta menjelaskan bahwa tema Pamor Wruh Jalma Unggul Kawula Jaya adalah untuk mengantarkan pada proses kesadaran bahwa rakyat adalah pemilik kekuasaan tertinggi dalam sistem kenegaraan.

Para pangembating praja hendaknya menyadari bahwa ia adalah abdi, pelayan, hamba sahaya, yang seharusnya melayani masyarakat, bukan mengkhianati atau tidak amanah dalam menjalankan roda kenegaraan.

Melalui Umbul Kidung Puja Mantra, diharapkan adanya perubahan yang lebih baik menuju sistem kenegaraan yang jujur dan adil, menuju kesejahteraan masyarakat.

Ki Sigit Susanto (Mbah Cemo) berharap bahwa acara seperti bisa berlanjut di masa depan, dan kemanfaatannya lebih bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Share This Article
Alumni Filsafat UGM, Pendiri Pawiyatan Taman Aksara Nusantara (TAN) Triguna, Pengurus Yayasan Taman Sesaji Nusantara (TSN)
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar