Deru eskavator mengakhiri usia lebih dari seabad deretan rumah putih beratap pelana di Jalan Hayam Wuruk, tepat di seberang Stasiun Lempuyangan.
Bangunan ikonik berlanggam Indische Empiris yang diperkirakan berdiri sejak 1920-1925 itu kini tinggal kenangan.

Sebanyak 11 dari 13 unit rumah dinas tersebut resmi dirobohkan PT KAI Daop 6 Yogyakarta, pekan ini. Dua unit lainnya dipertahankan atas rekomendasi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.
Saksi Bisu Era NISM
Rumah-rumah itu adalah saksi bisu era Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Dibangun bersamaan dengan pengembangan Lempuyangan sebagai stasiun barang dan penumpang kelas dua setelah Stasiun Tugu (1872).
Kompleks ini dulu dihuni masinis, juru wesel, dan kepala stasiun Belanda. Ciri khasnya jelas, dinding tebal 30 cm, jendela krepyak tinggi, ventilasi rooster, dan teras lebar menghadap rel.
PT. KAI berdalih penataan ini kebutuhan. Stasiun Lempuyangan kini melayani 5,6 juta penumpang per tahun, atau rata-rata 15.000 orang per hari untuk KA Jarak Jauh dan KRL Yogya-Palur.
“Penataan kawasan Stasiun Lempuyangan dilakukan untuk integrasi antarmoda dan keselamatan. Dari 13 rumah perusahaan, 11 telah dirobohkan, 2 dipertahankan. Kami pastikan bukan bangunan Warisan Budaya maupun Cagar Budaya, sesuai keterangan Dinas Kebudayaan,” kata Manajer Humas KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, dikutip dari Tugujogja.id, sesuai rilis KAI Daop 6, 23 September 2026.
Namun di balik alasan itu ada luka warga. Dikutip dari Kabarkota.com, laporan pengosongan rumah dinas PJKA No. 110 di Jalan Hayam Wuruk Lempuyangan, 8 Juli 2025: “Saya kecewa, saya baru terima surat tadi malam, tiba-tiba dieksekusi. Tidak ada pendekatan manusiawi,” sesal Chandrati Paramita, penghuni rumah No. 110 yang telah tinggal lebih dari 30 tahun, saat barang-barangnya diangkut ke truk pada pengosongan paksa Juli 2025 lalu.
Perhatian Mahasabah Purbakala
Mahasabah Purbakala adalah sebuah organisasi pemerhati tinggalan-tinggalan purbakala di Yogya. Sigit Sugito, Ketua Mahasabah Purbakala, mempertanyakan atas adanya kejadian ini.
“Gimana nih menurut, lur? Setuju dengan pengembangan fasilitas stasiun atau merasa eman-eman sama bangunan bersejarahnya?” tulis Sigit, aktivis kebudayaan Yogya sejak era 1980-an.
Bagi sebagian warga Tegal Lempuyangan, rumah itu bukan sekadar aset KAI. Di dalamnya ada warung, tempat tumbuh anak-cucu, terutama sejak gempa 2006.
Kini yang tersisa hanya dua unit kosong yang dipertahankan. Tanpa penghuni, tanpa cerita. Mungkin ke depan, Stasiun Lempuyangan akan nampak seolah lebih modern, lebih lapang sebagai life style hub.
Tapi Yogya kehilangan lagi satu keping wajah tuanya, yang dulu menyambut setiap orang yang turun dari kereta uap. ***
