Mabur.co – Rumah asal Jawa, yaitu rumah Joglo, memiliki karakteristik yang unik di setiap daerah. Salah satu bentuk arsitektur tradisional tersebut berbentuk limasan megah dengan tiang-tiang yang kokoh sehingga menunjukkan keindahan, simbolisme, dan fungsi yang beragam dalam kehidupan masyarakat Jawa. Tipologi dari rumah Joglo memiliki makna yang mencerminkan budaya dan sejarah dari Kotagede.
Memang, sangat penting untuk mengetahui keragaman dan karakteristik arsitektur rumah adat melalui tipologi. Pada penelitian yang pernah dilakukan dengan analisa kualitatif deskriptif pada rumah Joglo di Kotagede, Yogyakarta, terdapat 15 kasus bangunan yang berbeda.
Analisis Sistem Stilistik
Analisis tipologi dilakukan dengan sistem stilistik. Sistem stilistik rumah Joglo ditandai dengan variasi dalam motif, warna, dan desain yang mencerminkan perbedaan waktu pembangunan, kepemilikan, atau preferensi estetika pemilik.

Dosen arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Dr. Revianto Budi Santoso, menjelaskan, joglo dan limasan adalah contoh bentuk arsitektur rumah Jawa yang masih lestari.
Dinamika keberadaan arsitektur rumah Jawa, tidak hanya terjadi di kalangan rakyat. Di rumah raja, seperti Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, perubahan juga tidak dapat dibendung.
“Kalau kita melihat Gedong Jene, kediaman pribadi Sultan, di depan memang limasan, tetapi di belakang limasan itu atap plat beton yang ada skylight-nya,” ucapnya, Selasa (11/8/2026).
Revianto menuturkan, tidak hanya di masa kini, adaptasi terkait arsitektur bangunan sudah diterapkan sejak lama. Salah satu sebabnya, raja memiliki akses ke sumber-sumber yang rakyat biasa tidak memilikinya.
“Misalnya Pendopo Agung Mangkunegaran, itu kanopinya impor dari Jerman. Kalau kita ke pesareannya (makam) Mangkunegoro IV, itu bahkan diimpor sepenuhnya, satu gedung itu besi didatangkan ke Jawa. Sehingga Jawa sendiri adalah sentra yang sangat dinamis,” katanya.
Menurut Revianto, rumah bukan tidak hanya bernilai fisik. Gagasan atau nilai-nilai non-fisiklah yang kemudian terwujud secara fisk. Mengapresiasi rumah Jawa adalah mengapresiasi nilai-nilai universal di dalamnya.
“Misalnya kedekatan dengan alam, relasi antar-manusia, relasi sosial, juga nilai-nilai spiritual, dan juga sikap tidak serakah, berbagi dan seterusnya. Itu bagian dari software yang termanifestasi dalam hardware-nya,” katanya.
Oleh sebab itu, jika melestarikan rumah Jawa hanya bertumpu pada bentuknya saja, diibaratkan seperti melihat rumah Jawa sebagai artefak saja. Seperti melihat cangkang, tanpa melihat nilai filosofisnya yang lebih penting.
Aneka Pola Arsitektur
“Lestari Asli adalah pola arsitektur yang menampilkan bentuk arsitektur bangunan yang sama dengan bentuk arsitektur ketika diciptakan. Selaras Sosok adalah pola arsitektur yang menyerap gaya masa tertentu, dari bentuk Lestari Asli, dan diaplikasikan pada penampilan bangunan secara garis besar tanpa detail rinci. Sedangkan Selaras Parsial adalah pola arsitektur yang sebagian komponennya mengadopsi salah satu atau lebih komponen bangunan dari suatu gaya arsitektur. Ini untuk mewadahi, supaya kita tidak dikira membelenggu kreativitas para arsitek,” ucapnya.
Oleh sebab itu, ketika saat ini tren open plan dianggap kontemporer, sebetulnya rumah Jawa telah lama menerapkan itu. Di pedesaan, rumah limasan dibuat dengan sedikit sekat, sehingga tempat untuk tidur, menerima tamu dan tempat menyimpan hasil panen menjadi satu.
Begitu pula dengan dapur besar, yang dilengkapi amben bambu, di mana proses menyiapkan masakan dan mengobrol dengan tamu, bisa dilakukan bersama-sama. Dapur juga menjadi gudang logistik, menerima tamu, bekerja dan mengandangkan ayam.
“Fisik bisa berganti, bisa berubah. Tetapi nilai yang berawal dari masyarakat agraris, kedekatan dengan alam dan kebiasaan kehidupan kolektif, berbagi pengetahuan bagaimana hidup harmonis dengan alam abadi,” ucapnya.
Bagi Revianto, rumah Jawa dari satu masa ke masa mengalami perubahan, di tempat yang satu ke tempat yang lain juga memiliki variasi.
“Strata sosial yang satu ke yang lain juga ada beberapa ciri,” katanya.
