Tren Terus Bergerak Cepat, Gen Z Alami Kelelahan FOMO?

7 Min Read
Three young people gathered around a smartphone, frowning and looking concerned.
Ilustrasi Gen Z yang merasa cemas akibat munculnya tren baru di media sosial, yang seolah tiada habisnya (Foto: Unsplash)

Mabur.co – Kemunculan media sosial telah mengubah lanskap peradaban dunia secara masif dan sangat tidak beraturan.

Media sosial kerap memunculkan tren-tren baru dari seluruh dunia, mulai dari joget-joget seperti “Chaiyya Chaiyya” dari Norman Kamaru (2011), Gangnam Style (2012), Harlem Shake (2013), aura farming/pacu jalur (2024), kicau mania (2026), lalu tren hobi seperti padel, pelari kalcer, beserta outfit yang dipakai di dalamnya, adalah sebagian contoh dari tren di lini masa yang terus bergerak cepat dari waktu ke waktu.

Uniknya, setiap muncul tren baru semacam itu, orang-orang langsung “latah” dan menirukan segala sesuatu yang tren atau viral tersebut.

Seolah mereka tidak ingin ketinggalan tren dan ingin mendapatkan validasi sosial (offline maupun online) di saat tren tersebut sedang viral-viralnya dan seterusnya.

Karena tentu saja, dengan mengikuti atau menirukan tren tersebut secara latah, nama kita bisa ikut naik ke permukaan, masuk FYP (halaman depan di media sosial TIkTok), yang ujung-ujungnya akan berimbas ke penambahan jumlah followers, serta berpeluang menambah endorse produk, iklan, dan sebagainya.

Saat mempelajari satu tren tertentu dengan susah payah agar bisa ikutan viral, tiba-tiba tren tersebut usai, dan digantikan lagi oleh tren baru lainnya, yang ternyata juga cukup sulit ditirukan. Akhirnya, tren lama yang sudah dipelajari sedemikian rupa itu pun ditinggalkan begitu saja, karena sudah tidak ada lagi kesempatan untuk menjadi viral, dan seterusnya.

Hal inilah yang belakangan ini mulai dirasakan oleh kalangan Gen Z atau generasi muda.

Kecenderungan mereka untuk terus mengikuti satu tren ke tren berikutnya nampaknya mulai menimbulkan rasa jenuh.

Karena mengikuti atau menirukan sebuah tren bukanlah pekerjaan mudah, namun validasi sosial maupun pertumbuhan akun seperti yang diharapkan (dengan mendapat FYP atau endorsement produk) juga tidak kunjung didapatkan.

Akibatnya, muncul fenomena baru yang disebut dengan “lelah FOMO (Fear of Missing Out)“, lantaran sulit mengikuti setiap tren baru yang datang silih berganti dari waktu ke waktu, sementara dampak yang dihasilkan dari menirukan atau mengikuti tren tersebut tidaklah seberapa.

Bahkan bisa dibilang cenderung lebih banyak merugikan daripada menguntungkan.

DIlansir dari kanal YouTube Rory Asyari, Rabu (12/8/2026), berikut adalah beberapa gejala dari “lelah FOMO” yang kerap dirasakan oleh Gen Z dalam beberapa waktu terakhir.

1. Arus Informasi (Konten) Secara Nonstop

Algoritma platform seperti TikTok dan Instagram terus-menerus menampilkan konten baru tanpa jeda.

Tentu saja, dari jutaan atau miliaran konten yang dihasilkan setiap harinya, akan ada satu-dua konten yang berpotensi naik ke permukaan, alias menjadi viral atau tren baru di laman media sosial tersebut.

Sejak itulah, masyarakat mulai melihat konten tersebut di halaman media sosial mereka dan memiliki keinginan untuk mengikuti atau menirukan tren baru tersebut.

Mempelajari sebuah tren baru tentu saja tidak cukup hanya dalam 1-2 hari saja, sementara tren baru lainnya terus saja bermunculan setiap hari, jam, menit, atau bahkan detik.

Itu artinya, manusia memang tidak sanggup untuk mengikuti kecepatan algoritma, yang terus bergerak mengikuti kemauan pasar, dan seterusnya.

2. Tekanan Sosial

Ketika ada satu-dua teman atau kerabat Anda yang mulai membuat konten dengan menirukan atau mengikuti tren baru tersebut, Anda pun mulai merasa “ketinggalan zaman” atau “ketinggalan tren”, yang menjadi awal mula dari sifat FOMO yang telah dijelaskan sebelumnya.

Akhirnya ada semacam tekanan sosial yang muncul dalam benak Anda, ketika Anda tidak segera ikut-ikutan melakukan tren yang sama.

Anda pun berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti teman atau kerabat Anda tersebut, dengan membuat konten serupa terkait tren viral tadi, agar tetap up to date dengan “perkembangan zaman” yang sedang terjadi di media sosial tersebut.

3. Munculnya Tekanan Finansial Secara Berlebihan

Dalam beberapa tren tertentu, seperti olahraga padel, pelari kalcer, ponsel keluaran terbaru, dan seterusnya, Anda “dipaksa” untuk merogoh kocek yang cukup dalam, agar bisa memiliki barang-barang yang sedang tren tersebut.

Padahal, Anda belum tentu membutuhkannya, atau bahkan tidak benar-benar menyukainya.

Namun, hanya karena keinginan untuk mendapatkan validasi sosial, Anda terpaksa melakukan itu semua, sekalipun membuat Anda bokek di kemudian hari.

Sementara validasi sosial yang didapatkan pun bisa jadi tidak sesuai dengan ekspektasi Anda, apalagi jika hitungannya adalah untuk “balik modal” (dengan masuk FYP atau dapat endorse), dan seterusnya.

Menerapkan Prinsip “JOMO

Alih-alih merasa FOMO dan mengikuti semua tren yang terjadi di media sosial setiap harinya tanpa henti, Anda perlu menerapkan plesetan dari FOMO, yaitu JOMO (Joy of Missing Out).

JOMO adalah semacam lawan kata dari FOMO. Jika FOMO adalah perasaan takut ketinggalan tren, maka JOMO adalah kebalikannya, yakni perasaan senang setelah meninggalkan tren tertentu.

JOMO juga bisa diartikan sebagai kesadaran diri untuk menolak ajakan orang lain mengikuti tren tertentu, atau mengabaikan tren baru demi menjaga kesehatan mental, sekaligus kesehatan finansial.

Prinsip JOMO memungkinkan Anda untuk fokus pada ketenangan diri sendiri, tanpa merasa haus validasi sosial, baik di ranah digital maupun di dunia nyata.

Salah satu cara yang bisa diterapkan untuk menerapkan prinsip JOMO adalah dengan menikmati waktu luang dengan melakukan hobi yang disukai.

Hobi itu pun tidak harus sesuatu yang sedang tren seperti padel atau berlari, tapi kegiatan apa saja yang bisa membuat Anda bahagia (tanpa perlu validasi dari orang lain) dan seterusnya.

Selain itu, setiap aktivitas Anda di dunia nyata juga tidak harus selalu dibagikan di media sosial (dijadikan konten).

Karena kegiatan yang Anda lakukan bukanlah sesuatu yang harus selalu diketahui oleh orang lain, apalagi yang sifatnya merupakan kesenangan pribadi, seperti melakukan hobi tertentu, dan sebagainya.

***

Mengikuti tren yang sedang viral di media sosial memang tidak ada salahnya.

Namun, ketika kuantitasnya sudah cenderung berlebihan, dan mulai mengorbankan banyak hal dalam diri Anda, seperti kesehatan fisik, kesehatan mental, dompet yang terus terkuras, dan lain-lain, sementara dampak atau manfaat yang diperoleh tidaklah seberapa, maka sudah saatnya Anda mengalihkan fokus ke hal-hal lainnya, yang lebih bermanfaat dan nyaman untuk dilakukan.

Tanpa harus mendapat pengakuan dari siapa pun juga, apalagi dari netizen-netizen yang tidak mengenali Anda sama sekali. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar