Mabur.co- Jalan Malioboro berubah menjadi lautan manusia, Rabu (12/8/2026). Warga Yogyakarta bercampur dengan wisatawan. Pesepeda onthel melintas. Pelajar Pramuka berbaris. Komunitas berkebaya ikut memenuhi jalan.
Bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter dibawa secara gotong royong menyusuri Malioboro. Ribuan tangan ikut menopangnya. Langkah para peserta bergerak dalam satu arah. Jalan yang biasanya dipenuhi kendaraan dan wisatawan berubah menjadi ruang perjumpaan berbagai komunitas.
Simbol Kebhinekaan
Koordinator Pawai Suara Inklusi, Nurholis, mengatakan bendera sepanjang 1.000 meter menjadi simbol kebhinekaan.
“Ini wujud dari sebuah kebhinekaan, keberagaman yang menjadi satu tujuan,” katanya.
Nurholis menuturkan, kegiatan ini dirancang bukan sekadar untuk memeriahkan hari kemerdekaan. Pesan utamanya adalah inklusi.
“Bagaimana adik-adik kita termasuk yang difabel itu juga kita angkat, kita peduli bersama dan kita bungkus dengan hari kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Komandan KOJA, Doyok menuturkan, keterlibatan komunitasnya membawa pesan lebih luas. Salah satunya tentang lingkungan.
“Saya berharap masyarakat kembali menggunakan sepeda. Bukan hanya untuk berolahraga, tetapi juga mengurangi polusi. KOJA juga rutin melakukan kegiatan sosial. Mulai pembagian sedekah, penanaman pohon, penyebaran bibit, pelepasan burung hingga kampanye antinarkoba,” katanya.

Doyok mengingatkan agar peringatan kemerdekaan tidak berhenti pada kemeriahan.
“Jangan sekadar hura-hura, jangan hanya sekadar populisme. Peringatan kemerdekaan seharusnya menjadi ruang untuk membangun kesadaran dan nilai kebangsaan,” ucapnya.

Menurut wisatawan asal Australia, Jeff Cardinale, ia senang melihat semangat para peserta kegiatan itu. Mereka tidak mempedulikan panasnya terik matahari.
“Saya jarang melihat peristiwa seperti ini sehingga tidak mau membuang kesempatan dan mengabadikannya melalui kamera handphone yang dibawanya,” katanya.
