Uniknya Jembatan Apung di Kulon Progo, Manfaatkan Drum Plastik, Bisa Dilewati Mobil 

4 Min Read
A dark SUV driving on a narrow wooden bridge across a calm river, with green vegetation along the far bank.
Jembatan Apung di Ngentakrejo, Lendah, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co –Warga Kabupaten Kulon Progo punya tradisi unik untuk membangun jembatan sementara setiap musim kemarau tiba.

Selain Jembatan Sesek yang terbuat dari bambu, salah satu jembatan lain yang juga dibangun adalah Jembatan Apung yang dibangun menggunakan material drum.

Jembatan Apung ini berada di dusun yang sama dengan Jembatan Sesek yakni di Dusun Temben, Ngentakrejo, Lendah, Kulon Progo.

Mengatasi Akses Wilayah

Seperti halnya Jembatan Sesek, Jembatan Apung ini dibangun warga untuk mengatasi persoalan akses menuju wilayah Bantul dan Yogyakarta.

Menggunakan dana swadaya, warga membangun jembatan ini di atas Sungai Progo sebagai jalur alternatif yang menghubungkan wilayah Lendah Kulon Progo dengan Pajangan Bantul. 

Pengelola Jembatan Apung, Sukidi, mengatakan, mulai membangun jembatan apung ini sejak tahun 2025 lalu. Setelah rusak diterjang banjir saat musik penghujan, jembatan ini kemudian dibangun kembali di awal musim kemarau tahun 2026 ini.

Memudahkan Pelaku Usaha Industri Tahu

Ia bersama 2 warga lainnya berinisiatif membangun jembatan ini untuk memperpendek jarak tempuh menuju Bantul sehingga memudahkan para pelaku usaha industri tahu di dusunnya.

“Karena di sini kan banyak pelaku usaha pembuatan tahu. Biasanya mereka memasarkan tahu hingga ke Bantul. Dengan jembatan ini perjalanan bisa lebih singkat dibanding melalui Sentolo,” ujarnya, Jumat (14/8/2026).

Yang menarik dari jembatan ini adalah kontruksinya yang dibuat menggunakan rangka besi UMP yang dipadukan dengan drum plastik sebagai pelampung.

Di atas rangka tersebut kemudian dipasang papan sebagai permukaan jembatan. Dengan lebar mencapai 2 meter lebih, kendaraan roda 4 seperti mobil dapat melintasi jembatan ini.

Hal inilah yang tidak ditemui di Jembatan Sesek maupun Jembatan Kamijoro yang berada di dekatnya.

Menghabiskan biaya sekitar Rp150 juta, proses pembuatan Jembatan Apung ini berlangsung sekitar tiga bulan dan dikerjakan secara bergotong royong oleh warga. 

Setelah selesai, warga yang melintas biasanya akan dikenai biaya kontribusi seikhlasnya. Pihak pengelola tidak mematok tarif resmi. Meski begitu biasanya sekali lewat pengguna kendaraan roda 4 akan memberikan kontribusi secara suka rela sekitar Rp10 ribu.

Uang tersebut digunakan untuk membantu biaya operasional dan pemeliharaan jembatan, termasuk memastikan fasilitas penyeberangan tetap dapat digunakan selama musim kemarau.

Bagi warga, jembatan ini memberikan manfaat langsung terhadap aktivitas sehari-hari. Selain memperpendek perjalanan, jalur tersebut juga memudahkan mobilitas warga yang memiliki aktivitas maupun keperluan di wilayah Bantul dan Yogyakarta.

Salah seorang warga, Wardi, mengatakan, jembatan apung membuat perjalanan menjadi lebih praktis karena warga tidak harus memutar melalui jalur Sentolo.

“Dengan jembatan ini jarak perjalanan dapat dipangkas hingga sekitar 12 kilometer. Waktu tempuh juga menjadi lebih singkat sekitar 30 menit,” ungkapnya. 

Meski diandalkan warga sebagai jalur alternatif menuju Bantul dan sebaliknya, jembatan ini tidak dapat digunakan sepanjang tahun.

Pengoperasiannya bergantung pada kondisi Sungai Progo. Saat musim kemarau dan debit sungai menyusut, jembatan dapat berfungsi baik sebagaimana mestinya.

Namun, ketika musim hujan tiba, di mana debit Sungai Progo akan meningkat dan rawan banjir, pihak pengelola biasanya akan membongkar jembatan untuk menghindari risiko jembatan hanyut atau rusak diterjang banjir.

Barulah nanti setelah musim kemarau, jembatan akan dibangun kembali memanfaatkan material yang ada sebelumnya. 

Kehadiran Jembatan Apung ini pun menjadi salah satu wujud kearifan lokal masyarakat sekaligus bentuk gotong royong warga dalam mengatasi persoalan bersama. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar