Mabur.co – Kegiatan Internalisasi Nilai-nilai Sejarah bagi Komunitas merupakan upaya Dinas Kebudayaan Sleman untuk mendekatkan sejarah lokal kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Keterlibatan komunitas sejarah dan guru sejarah menjadi penting agar proses pelestarian dan pewarisan sejarah lokal tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi gerakan bersama.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Sejarah Bahasa Sastra dan Permuseuman, Dinas Kebudayaan Sleman, Joko Dwi Haryadi, SP, M.Si., di sela-sela kegiatan Internalisasi Nilai-Nilai Sejarah bagi Komunitas yang digelar Disbud Sleman, Rabu (12/8/2026) siang.
Komunitas yang Terlibat
Komunitas yang dilibatkan antara lain anggota Komunitas Historia 24249, PPSKY, Komunitas Djogjakarta 45, MGMP IPS SMP, MGMP Sejarah SMA dan anggota Komunitas Sembada Muda Historia.
Tema yang diangkat dalam kegiatan Internalisasi Nilai-nilai Sejarah bagi Komunitas Jejak Perkebunan Tebu dan Industri Gula di Kabupaten Sleman. Bertindak sebagai narasumber Achmad Sofyan, penulis buku Yang Tersisa dari Pabrik Gula di Sleman.
Lebih lanjut disampaikan, sejarah industri gula menjadi bagian penting dari sejarah Kabupaten Sleman karena meninggalkan jejak sosial, ekonomi, budaya, dan ruang yang masih dapat ditelusuri hingga saat ini.
“Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya menyampaikan pengetahuan sejarah, tetapi juga mengajak komunitas untuk melihat langsung bekas pabrik gula dan memahami nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Kami berharap kegiatan ini dapat berkelanjutan, melibatkan lebih banyak komunitas dan lintas generasi, sehingga sejarah Sleman semakin dikenal, dipahami, dan menjadi bagian dari pembentukan karakter masyarakat,” jelas Joko.
Sedangkan Achmad menyampaikan, selain UU Agraria 1870, undang-undang lain yang menjadikan industri gula semakin masif pada masa politik liberal ialah UU Gula (Suiker Wet).
“Dalam pelaksanaannya, pembuatan Undang-Undang Gula digunakan untuk menghapus sistem tanam paksa tanaman komoditas ekspor terutama gula. Penerapan UU Gula inilah yang membuat banyak perusahaan dari Eropa dan Cina berinvestasi dalam industri gula di Hindia Belanda,” paparnya.
Sembilan Pabrik Gula
Dengan letak geografis dan topografi wilayah yang menunjang disertai teknologi dalam transportasi dan irigasi yang baik, lanjutnya, Sleman menjadi salah satu daerah yang banyak memiliki pabrik gula bersama dengan Bantul.
“Total terdapat sekitar 9 pabrik gula di wilayah Sleman. Kesembilan pabrik gula tersebut ialah Pabrik Gula Beran (Tridadi, Sleman), Pabrik Gula Demakidjo (Banyuraden, Gamping), Pabrik Gula Klatjie (Sidoagung, Godean), Pabrik Gula Medarie (Triharjo, Sleman), Pabrik Gula Randoegoenting (Tamanmartani, Kalasan), Pabrik Gula Rewulu (Sidomulyo, Godean), Pabrik Gula Sendangpitoe (Sendangrejo, Minggir), Pabrik Gula Tandjoengtirto (Kalitirto, Berbah) dan Pabrik Gula Tjebongan (Tlogoadi, Mlati)”, jelasnya.
Edisi pertama kegiatan ini menyusuri bekas PG Beran, PG Medari dan PG Tanjungtirto. Peserta terlihat antusias menyimak paparan Achmad Sofyan dan berdiskusi seputar sejarah pabrik gula di Sleman.
Apresiasi Sembada Muda Historia
Kepada mabur.co, Pembina Sembada Muda Historia, Wahjudi Djaja, S.S., M.Pd, mengapresiasi kegiatan Disbud Sleman ini.
“Ini sangat positif. Kita bisa berkolaborasi dengan kalurahan setempat untuk mengangkat situs sejarah yang amat penting ini. Apalagi ada di antaranya yang berlokasi di Kalurahan Budaya sehingga dengan begitu bisa menjadi wisata edukasi budaya dan sejarah,” kata Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama) ini.
Untuk etape berikutnya, akan digelar pada Rabu 19 Agustus 2026. Tema yang diangkat Menelusuri Jejak Jalur Kereta Api Yogyakarta–Magelang di Kabupaten Sleman.
