Budaya perang kita adalah budaya perang sepanjang zaman. Tidak harus dengan senjata nuklir atau penyerbuan seperti yang dilakukan pasukan Delta Force ke singgasana Presiden Maduro di Venezuela, tidak harus dengan penjelasan tentang Perang Jawa yang dilakukan Pangeran Diponegoro melawan Belanda, setiap hari kita sudah menghadapi tantangan perang.
Budaya perang kita adalah bernilai sehari-hari. Perang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hankam, teknologi, dan lainnya membuat setiap homo sapiens justru harus selalu siap berkompetisi. Banyak kemudahan dalam hidup ini namun justru semuanya harus saling berebut. Padahal, jika diatur dengan regulasi, apa pun bisa diperoleh setiap homo sapiens dengan enak dan nyaman tanpa harus ada perebutan bahkan kompetisi.
Sialnya, literasi berita kita setiap hari di televisi maupun media sosial lebih banyak juga soal perang. Apa pun pengertian perang itu dan melawan siapa pun. Apa yang ditonton pun akhirnya membentuk persepsi. Bahkan sekarang dengan adanya tren algoritma, maka menjadi penentu yang berkuasa atas isi persepsi kita. Lalu, bagaimana caranya menghindar dari perang?
Tidak bisa menghindar. Yang terjadi sekarang, setiap homo sapiens tetap harus larut dalam perang. Meskipun tidak harus membuat kubu atau sekutu. Dalam rumah tangga pun, setiap harinya sudah selalu ada perang. Hanya terminimalisir atau tidak. Kalau mau dituruti, bisa saja setiap hari ada perang kemauan antara anak, suami, istri, dan itu sangat mudah terjadi.
Yang penting sebenarnya, adanya budaya perang itu juga berimbang dengan budaya solusi. Jika hanya perang saja maka akan repot. Tanpa solusi yang berarti maka akan berbahaya. Nah yang paling repot, jika hidup di tengah ekosistem homo sapiens yang senang mengibuli. Masih lumayan kalau persepsi kita dibentuk oleh algoritma tertentu.
Saya tidak pernah habis pikir, kalau hidup dalam budaya dikibuli itu lalu akan menjadi seperti apa kualitas persepsi dan otak kita? Atau jangan-jangan kita memang sudah selalu hidup dalam budaya dikibuli?
Lumayan enak orang yang berposisi mengibuli karena merasa sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kalau dalam posisi dikibuli sungguh repot. Tapi bukankah tidak apa-apa juga jika memang tidak tahu?
Oleh sebab itulah, maka budaya rekreasi juga harus ditumbuhkan untuk mengimbangi budaya perang, sekecil apa pun bentuknya. Budaya rekreasi ini bagi saya merupakan salah satu pintu penting adanya solusi. Rekreasi ke mana saja. Lihat sawah, lihat selokan, lihat pohon, lihat sungai, lihat laut, lihat apa saja yang menjadikan jeda atas rutinitas perang sehari-hari menjadi lebih ringan.
Saya kalau sudah membuat jeda atau jarak sebentar dengan rutinitas melalui rekreasi, biasanya juga akan muncul ide untuk melakukan sesuatu atau yang solutif. Hal itulah yang menjadikan saya percaya bahwa apa pun yang dilakukan dengan rileks bisa mempunyai hasil yang lebih optimal. Bukan ketergesa-gesaan seperti dalam menghadapi atau menjalani perang.
Tidak harus dikonsepkan secara matang, hidup ini secara natural sebenarnya sudah selalu membimbing kita untuk berdamai. Perang hanya muncul saat dibutuhkan. Tapi, anehnya, ekosistem hidup di era kiwari menjadikan kita harus selalu mempersiapkan senjata. Dipakai atau tidak. Apa pun pengertian senjata itu yang pasti bekal untuk membela diri, membela argumen, membela retorika!
Begitulah hidup kita hari ini dan ke depan yang semakin terpolusi dengan atmosfir perang. ***



