Mengapa Perayaan HUT Kemerdekaan RI Identik dengan Perlombaan?

5 Min Read
Group of people in red and white outfits playing a croquet-style game on a dusty ground while others watch at a festival, with bunting overhead.
Warga RT 36 Perum GKP mengikuti perlombaan estafet bola kasti, guna memeriahkan perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-81. (Foto: Azka Qintory)

Mabur.co – Di setiap perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada bulan Agustus, segenap warga masyarakat di berbagai daerah banyak yang melakukan sejumlah kegiatan menarik dan seru, yang dikemas dengan nama “Agustusan”, atau “17-an”. Salah satunya adalah dengan mengadakan perlombaan antar-warga masyarakat.

Ajang perlombaan seringkali dipilih untuk merayakan HUT Kemerdekaan setiap tahunnya. Perlombaan seperti balap karung, sepak bola sarung, panjat pinang, lomba makan kerupuk, lomba kelereng, dan lain sebagainya, biasanya turut mewarnai setiap sisi lapangan di berbagai pemukiman warga pada pertengahan bulan Agustus.

Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa perayaan HUT Kemerdekaan Indonesia selalu diisi dengan mengadakan perlombaan seperti itu setiap tahunnya? Lalu bagaimana sejarah yang melatarbelakanginya, hingga kerap disebut dengan istilah “Agustusan” atau “17-an” semacam itu?

DIlansir dari laman CNN Indonesia, Senin (17/8/2026), berikut adalah penyebab sekaligus sejarah singkat, mengenai kehadiran berbagai perlombaan di setiap perayaan HUT Kemerdekaan di bulan Agustus.

1. Pesta Rakyat Selepas Benar-benar Merdeka

Perlombaan di setiap perayaan HUT Kemerdekaan sejatinya telah berlangsung cukup lama, tepatnya di tahun 1950, ketika Indonesia baru memasuki usia lima tahun.

Pada saat itu, Indonesia pada dasarnya belum benar-benar merdeka dari pengaruh Belanda. Karena sebagian wilayah Indonesia masih dalam penyerangan oleh sekutu Belanda, yang ingin merebut kembali wilayah NKRI, sekalipun sudah menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Akhirnya setelah benar-benar lepas dari pengaruh Belanda pada 1950, rakyat pun turut merayakannya dengan melakukan sejumlah perlombaan, yang bertujuan untuk mempererat kebersamaan antar-warga masyarakat, sekaligus menumbuhkan semangat nasionalisme.

Dengan peralatan sederhana, masyarakat cukup menggunakan alat-alat apa saja yang bisa digunakan di sekitar mereka. Beberapa perlombaan yang sudah dimainkan pada saat itu adalah balap karung dan juga panjat pinang.

2. Sarana Hiburan

Selain merayakan keberhasilan setelah lepas seutuhnya dari pengaruh Belanda, ajang perlombaan yang diadakan oleh segenap warga masyarakat juga merupakan sarana hiburan yang sangat baik bagi mereka, untuk bisa melepaskan penat dan kejenuhan dari aktivitas pekerjaan sehari-hari, dan seterusnya.

Cukup dengan peralatan sederhana, perlombaan pun sudah bisa dibuat, dan diikuti oleh seluruh anggota masyarakat, baik itu anak-anak, remaja, dewasa, bapak-bapak, serta ibu-ibu.

Momen itu juga terbilang cukup langka, di mana mereka dipersatukan dalam satu lingkungan yang sama, dan juga ikut bertanding dalam perlombaan yang sama, tanpa memedulikan usia, status, pekerjaan, dan semacamnya.

3. Perkembangan Masa Kini

Jika perlombaan di tahun 1950 masih tergolong sederhana dan hanya memanfaatkan peralatan seadanya, maka untuk saat ini, semuanya sudah serba canggih, dan mudah dilakukan oleh siapa saja.

Namun satu hal yang pasti, perlombaan khas 17-an tetap mengedepankan interaksi antar-individu, bukan dengan pertemuan daring atau secara online. Karena semangat perjuangan dan nasionalisme tentunya dibangun dari pertemuan demi pertemuan yang dilakukan oleh banyak pihak secara langsung (tatap muka), bukan melalui kecanggihan teknologi atau semacamnya, yang saat itu juga belum tersedia.

Dari sisi hadiah, meraih kemenangan dalam perlombaan 17-an bisa dibilang sudah cukup menjanjikan di masa kini. Dalam beberapa kesempatan, tersedia hadiah-hadiah menarik yang dapat diberikan kepada para pemenang dalam setiap perlombaan.

Bahkan jika lomba itu diselenggarakan oleh kalangan orang kaya, hadiah yang diberikan tidaklah tanggung-tanggung. Hadiah-hadiah menggiurkan seperti mobil, motor, ponsel iPhone, atau bahkan paket umrah, menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan oleh masyarakat umum, ketika mampu memenangkan sejumlah perlombaan khas 17-an, dan sebagainya.

Dengan hadiah-hadiah menggiurkan semacam itu, mengikuti lomba 17-an tentunya menjadi sangat prestisius, sehingga daya tariknya menjadi lebih bernilai bagi masyarakat, ketimbang hanya sekadar “mencari keringat” atau bersosialisasi dengan sesama masyarakat lainnya.

***

Di balik semua kemajuan dan kemewahan hadiah yang ditawarkan dalam setiap perlombaan 17-an, kegiatan semacam ini adalah sarana yang sangat baik untuk menghidupkan kembali sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, yang selama ini kerap disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing.

Sehingga nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme akan selalu terjaga sampai kapan pun. Karena kemerdekaan Indonesia juga diraih dari perjuangan dan keringat yang tidak pernah habis mengalir dari kepala.

Selain itu, kegiatan perlombaan di setiap perayaan 17-an juga menjadi sarana yang tepat untuk mengajarkan kepada masyarakat, bahwa untuk memenangkan sebuah pertempuran, dibutuhkan semangat dan kerjasama yang baik dari seluruh anggota (masyarakat) yang terlibat, agar kemenangan (kemerdekaan) itu dapat diraih dengan lebih mudah dan cepat, serta mampu dirayakan oleh semua orang yang terlibat di dalamnya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar