Lula Lahfah, Lagu “Panjat Sosial” Ikon Gen Z - Mabur.co

Lula Lahfah, Lagu “Panjat Sosial” Ikon Gen Z

Selebgram Lula Lahfah ditemukan meninggal dunia di lantai 25 sebuah apartemen di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta. Sama seperti budayawan Nirwan Ahmad Arsuka yang juga pernah ditemukan meninggal dunia di apartemen kawasan Kuningan, Jakarta.

Sebenarnya, jika menelusuri investigasi sementara polisi terhadap kematian Lula Lahfah, tidak ada tanda-tanda kekerasan pada dirinya. Bahkan dugaan kuat mengerucut penyebab kematiannya karena riwayat penyakit.

Sampai di sini, sebenarnya tidak ada misteri lagi. Saat budayawan Nirwan Ahmad Arsuka meninggal di apartemen juga, dulu tidak ada misteri. Apalagi hanya seorang budayawan, yang terpersepsikan tidak mungkin dibunuh dan memang tidak ada jejak hal yang negatif. Kesimpulannya, kematian yang natural saja.

Tapi, lagi-lagi, karena Lula Lahfah adalah selebgram, maka gorengan berita yang menyertai kematiannya bisa dari sudut pandang apa pun. Suka-suka media yang menggoreng.  Saya memilih tidak begitu.

Saya memilih mendudukkan Lula Lahfah sebagai penyanyi yang lagunya saya suka. Lagu Panjat Sosial yang dinyanyikannya bersama Roy Ricardo dan Gaga Muhammad itu, ternyata merupakan refleksi kritis terhadap watak masyarakat yang ada sekarang.

Cover lagu Panjat Sosial yang dinyanyikan Roy Ricardo, Gaga Muhammad, dan Lula Lahfah. Sumber: IG @lulalahfah

Kita tahu, banyak orang panjat sosial (pansos) di media massa, terlebih lagi di media sosial, dan itu terlihat sangat vulgar.

Apalagi kalau sudah sampai pada sepak terjang makhluk homo sapiens yang bernama politikus, maka watak panjat sosialnya akan diumbar tanpa rasa malu. Karena mereka akan tega mempolitisir apa yang menjadi objek panjatannya.

Jadi kalau pun Lula Lahfah meninggal di usia 26 tahun, maka ia adalah teladan yang bagus bagi kalangan Gen Z dengan pencapaian kreativitas yang memikat melalui lagu Panjat Sosial.

Benar, jika dalam konteks kreativitas, apa pun tidak ada yang autentik di dunia ini. Semua serba saling memengaruhi. Begitu pula dengan syair lagu, pasti dijumput syairnya dari situasi yang ada di tengah masyarakat.

Namun dengan Lula Lahfah memilih menyanyikan lagu Panjat Sosial, bagi saya itu merupakan sumbangan kepedulian sosial dan sikap kritis terbaiknya. Ternyata Lula Lahfah adalah ikon Gen Z yang dengan caranya sendiri mampu membius publik.

Nah, sampai di sini ketika Gen Z selalu dicurigai nirprestasi, maka kalau melihat pencapaian Lula Lahfah persepsi kecurigaan itu gugur dengan sendirinya. Lula Lahfah telah menciptakan monumen untuk perjalanan kreatifnya.

Lagu dan suaranya enak sekali didengarkan dalam irama rap dan bisa abadi sepanjang zaman. Sama dengan lagu-lagu Nike Ardilla yang meninggal pada 1995 di usia 19 tahun, jauh lebih muda dari Lula Lahfah. Lula Lahfah memang tiba-tiba mengingatkan saya pada sosok Nike Ardilla yang lagu-lagunya pernah menemani masa remaja saya.

Saya sendiri baru ngeh dengan nama Lula Lahfah karena kejadian naas yang menimpa dirinya di kamar apartemen, meninggal dunia dengan tenang, yang sudah paripurna penyebabnya saat kolom ini hampir selesai ditulis. Yaitu dipastikan henti jantung.

Baiklah, saya tahu diri, dalam tulisan ini saya juga tidak akan mengulik tentang siapa kekasih terakhirnya, berapa hartanya, berapa mobilnya, dan seterusnya. Saya akan tahu diri untuk tetap menempatkan Lula Lahfah sebagai makhluk homo sapiens yang sungguh mempunyai kontribusi besar terhadap dinamika kebudayaan Indonesia.

Demikian kutipan lagu Panjat Sosial yang sangat menarik itu.

Hati-hati zaman sekarang

Banyak orang berteman punya maksud tujuan

Dapetin keuntungan habis manis kau dibuang

Panjat, panjat, panjat, panjat sosial…

Panjati terus, Bro, sampai naik status…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *