Gelaran Jogja Fashion Carnival 2026, Parade Kostum Megah Berbahan Dasar Lurik Khas DIY

3 Min Read
Dancers in elaborate black, gold, and purple costumes perform a street parade as a crowd watches along a city avenue with storefronts in the background.
Gelaran Jogja Fashion Carnival 2026 yang dihelat bertepatan dengan HUT ke-81 Republik Indonesia di sepanjang kawasan Malioboro. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Gelaran Jogja Fashion Carnival 2026 yang dihelat bertepatan dengan HUT ke-81 Republik Indonesia di sepanjang kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta sukses menyedot perhatian publik.

Ribuan masyarakat dan wisatawan berbondong-bondong memadati pedestrian dan sisi jalan demi mendapatkan posisi terbaik untuk melihat parade kostum spektakuler yang diusung dalam tema “Hangrengkuh Sesotya Tuhu”.

Banyak di antara mereka datang sejak pagi, bahkan dari luar kota, demi menyaksikan langsung suguhan budaya yang sudah dinanti-nanti setiap tahunnya.

Kostum Megah Lurik Khas DIY

Lewat parade kostum megah berbahan dasar lurik khas DIY, ajang ini mengolaborasikan belasan kelompok seni Nusantara dan puluhan mahasiswa internasional guna memperkuat karakter budaya lokal sekaligus mendorong efek pengganda (multiplier effect) bagi peningkatan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara.

Colorful parade with a blue dragon sculpture framing dancers in lavish purple and gold costumes.
JFC 2026 mengusung tema besar “Hangrengkuh Sesotya Tuhu” yang bermakna memeluk permata hati yang sejati. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Atik Sudarmi, S.IP, menjelaskan,  JFC 2026 mengusung tema besar “Hangrengkuh Sesotya Tuhu” yang bermakna memeluk permata hati yang sejati.

Pesan filosofis ini merefleksikan semangat merawat nilai-nilai luhur identitas masyarakat Yogyakarta dan Indonesia di tengah arus modernitas, tanpa meninggalkan karakter dan kearifan lokal.

Seluruh peserta diwajibkan menyertakan bahan lurik khas DIY yang dipadukan dengan unsur kemerdekaan Republik Indonesia dalam desain kostum mereka.

“Berakar pada semangat Yogyakarta sebagai pusat budaya dan kreativitas, event ini hadir untuk menghidupkan Yogyakarta sebagai arena pertunjukan visual yang meriah, edukatif, dan menginspirasi,” ujarnya, Sabtu (22/8/2026).

Atik menuturkan, melalui kostum megah, gerak ritmis, dan keberagaman ekspresi, acara ini menjadi bentuk perayaan kebhinekaan sekaligus penguatan karakter budaya lokal.

“Sesotya atau permata hati dimaknai bukan sebagai benda material, tetapi sebagai rasa, hati, dan akal budi yang menjadi kekayaan paling berharga dalam diri manusia,” jelasnya.

Ruang Kreasi

Sementara itu, Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, S.T., M.T., menegaskan pemerintah daerah selalu mendorong hadirnya ruang-ruang kreasi, apresiasi, dan regenerasi yang mempertemukan gagasan dari desainer, seniman, perajin, hingga masyarakat luas, sehingga dapat memberikan nilai tambah secara budaya maupun ekonomi kreatif.

“Pada Pawai Jogja Fashion Carnival 2026, Jogja adalah ruang tempat tradisi dan kreativitas terus berdialog. Warisan budaya tidak hanya kita jaga sebagai peninggalan masa lalu, tetapi kita hidupkan, kita tafsirkan kembali, dan kita hadirkan dalam karya-karya baru yang relevan dengan perkembangan zaman,” tegasnya.

Ni Made menekankan pentingnya menjaga ekuilibrium antara menjaga peninggalan masa lalu dan keberanian untuk terus berinovasi.

“Semangat Hangrengkuh Sesotya Tuhu juga mengingatkan kita bahwa kekuatan Yogyakarta terletak pada kemampuannya untuk merawat akar tanpa kehilangan keberanian untuk menumbuhkan cabang-cabang baru.

Tradisi dan inovasi tidak semestinya dipertentangkan, keduanya dapat berjalan beriringan. Tradisi memberikan identitas dan kedalaman, sedangkan kreativitas memberikan daya hidup dan kemungkinan-kemungkinan baru,” urainya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar