Mabur.co – Potensi wisata Nusa Tenggara Timur tidak diragukan lagi. Setelah Labuan Bajo ditetapkan sebagai destinasi super premium, ada juga spot-spot wisata baru yang siap memanjakan wisatawan, sebut saja Lewoleba di Kabupaten Lembata.
Daya tarik Lewoleba tak hanya terletak pada keindahan baharinya yang memesona. Daerah ini juga ada gunung api terpopuler nomor dua di Indonesia yakni, Gunung Merapi Ile Batutara.
Gunung Unik
Gunung Ile Batutara yang unik karena meletus setiap 20 menit sekali hingga sekarang. Gunung Batutara yang juga disebut Gunung Hantu ini menyimpan sejumlah misteri. Karena konon dihuni oleh makhluk gaib dengan banyak kisah mistis yang berkembang di masyarakat. Gunung Batutara pun menjadi gunung unik di dunia.
Gunung Ile Lewotolok atau yang kerap disebut Ile Ape merupakan salah satu gunung berapi dengan status aktif.
Mengutip dari laman esdm.go.id, Sabtu (22/8/2026) gunung yang memiliki ketinggian 1.455 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini terletak di Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT.
Untuk mencapai ke gunung ini, perlu melakukan perjalanan yang ditempuh dengan jarak sekitar 15,5 kilometer dan waktu kurang lebih 27 menit jika dari Bandara Wunopito melalui rute Jalan Ring Ile Ape.
Gunung Ile Lewotolok tercatat sudah pernah mengalami letusan selama beberapa kali, yaitu pada 1660, 1819, 1849, 1852, 1821, 1864, 1889, dan 1920.
Letusan tersebut memporak-porandakan seluruh wilayah Lembata dan pulau yang ada di sekitarnya sebelum akhirnya berhenti meletus selama 92 tahun kemudian. Gunung Ile Lewotolok kembali meletus pada 2012.
Dilansir dari berbagai sumber, di area Gunung Ile Lewotolok atau yang kerap disebut Ile Ape, warga Lembata mengadakan ritual ‘makan kacang’ atau utan belai sebagai warisan turun temurun.
Digelar warga yang tinggal di kaki Gunung Ile Lewotolok, Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape, Lembata, setiap tahunnya. Ritual ini dilakukan bersama-sama di rumah besar (uma belen) dan di panggung upacara (koke bale).
Ritual Bentuk Rasa Syukur
Ritual ini diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur karena rezeki dan kegagalan yang diterima dari Tuhan. Ritual ‘makan kacang’ dilaksanakan dengan sederhana dan berpedoman pada ketentuan budaya yang sudah berlaku turun-temurun dari leluhur.
Upacara ini dilaksanakan pada minggu ketiga atau keempat September atau minggu pertama dan kedua Oktober. Jadwal tersebut berdasarkan kalender musim yang dihitung pada saat bulan kabisat atau `wulan lein tou’ terhadap suku-suku di Lewohala.
Pesta Kacang
Ritual pesta kacang dimulai dengan `sewa nuku’ yakni menaikkan daun lontar di namang/lapangan yang dilaksanakan suku Purek Lolon.
Tahap kedua yakni `tukakiwanlua watan’ atau perjalanan turun gunung ke pantai yang dilaksanakan suku Pureklolon dan Lamawalang. Tahap ini masyarakat melempar bungkusan daun lontar yang berisi sirih pinang dan tembakau.
Tahap selanjutnya adalah doro dope yakni memanah ayam dan kelope (jenis ikan melata yang menempel di dahan bakau). Ayam yang dipanah akan digunakan untuk makan bersama.
Tahap keempat adalah pelu belai atau makan nasi tumpeng adat. Makanan ini terbuat dari kacang panjang dan nasi merah yang dimasak oleh anak-anak gadis suku Wungu Belumer sebelum pagi tiba.
Tahap kelima adalah hodi elu atau kesepakatan atau janji pesta. Masyarakat membuat kesepakatan melaksanakan puncak pesta kacang.
Tahap keenam adalah puncak ritual yakni utan wungu belen yang dilaksanakan serempak oleh suku Wungu Belen yang dihadiri para pria.
Malam menjelang puncak pesta kacang dilaksanakan seremoni tunu muku manu di setiap rumah adat.
