Mabur.co – Makan sendirian mungkin menjadi sesuatu yang lumrah dan biasa. Namun siapa sangka, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa terlalu sering makan sendirian tanpa teman ternyata bisa memengaruhi kesehatan mental dan kondisi otak.
BBC Future dalam laporan terbarunya, sebagaimana dikutip mabur.co, Minggu (30/8/2026), mengulas berbagai penelitian tentang commensality, atau kebiasaan makan bersama orang lain.
Hasil penelitian itu mengungkap aktivitas sederhana ini ternyata memiliki kaitan dengan kesejahteraan seseorang.
Profesor Jan-Emmanuel De Neve dari University of Oxford mengatakan, makan bersama dapat membantu membangun ikatan, kepercayaan, dan hubungan sosial.
Salah satu penelitian terhadap 9.361 perempuan berusia 60 tahun ke atas di Cina bahkan menemukan adanya hubungan antara risiko depresi dengan seberapa banyak jumlah orang yang duduk bersama saat makan.
Penelitian lain di Jepang juga menemukan bahwa kelompok lansia yang tinggal bersama keluarga tetapi terbiasa makan sendirian memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami gejala depresi dibandingkan mereka yang rutin makan bersama.
Temuan dari World Happiness Report bahkan menunjukkan pola yang lebih luas. Analisis terhadap sekitar 150.000 orang di berbagai negara menemukan bahwa semakin sering seseorang makan bersama orang lain, semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan emosionalnya.
Bukan Cuma Bikin Kenyang
Makan bersama ternyata bukan hanya soal memasukkan makanan ke dalam perut. Saat duduk satu meja, orang biasanya akan berbincang, bercanda, bertukar cerita, dan saling memberikan perhatian. Interaksi tersebut dapat memperkuat hubungan sosial.
Antropolog Robin Dunbar dari Oxford juga menyebut aktivitas makan dapat memicu pelepasan endorfin, zat yang berkaitan dengan rasa nyaman dan bahagia.
Menariknya, teman makan juga bisa membuat makanan terasa lebih nikmat. Penelitian Erica Boothby dari University of Pennsylvania menemukan bahwa orang yang makan cokelat bersama orang lain cenderung menilai rasanya lebih menyenangkan.
Berdampak ke Kesehatan Otak
Manfaat makan bersama juga dikaitkan dengan fungsi otak. Penelitian di Jepang pada 2025 menemukan bahwa orang yang terbiasa makan sendirian memiliki volume lebih rendah pada sejumlah bagian otak yang berkaitan dengan fungsi kognitif, termasuk hipokampus.
Peneliti mengingatkan bahwa pola makan juga berpengaruh. Orang yang makan sendirian cenderung memiliki pola konsumsi yang kurang bergizi.
Namun, pola makan tidak sepenuhnya menjelaskan temuan tersebut. Kurangnya interaksi sosial diduga turut berperan.
Percakapan saat makan juga memberikan stimulasi mental. Dukungan sosial yang muncul dari kebersamaan diperkirakan dapat membantu mengurangi stres, yang selama ini diketahui berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif.
Meski begitu, temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan dan bukan berarti makan sendirian secara langsung menyebabkan demensia.
Bukan Hal Baru di Indonesia
Bagi masyarakat Indonesia, makan bersama bukanlah sesuatu yang baru. Tradisi kenduri, selamatan, kembul bujono hingga buka puasa bersama, menjadi contoh nyata bagaimana kegiatan makan bersama telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakat Nusantara sejak lama.
Di desa-desa tradisi semacam ini bahkan terus dilestarikan dan selalu menjadi momen yang selalu ditunggu oleh setiap warga. Baik itu saat acara merti desa, upacara adat, hingga kegiatan pesta 17-an sekalipun.
Meski menu makanan yang disajikan tak selalu mewah dan kerap kali sederhana, namun rasa kebersamaan yang terbangun dan tumbuh antar-warga bisa menjadi faktor yang membedakannya.
Karena itulah di tengah kesibukan dan kehidupan modern yang semakin individual, kebiasaan untuk makan bersama saudara, keluarga, sahabat atau tetangga itu justru bisa menjadi solusi untuk meningkatkan hubungan sosial, meningkatkan fungsi otak hingga mencegah depresi.
