Belajar dari Jatuh Bangun Keluarga Punjabi, Raja Sinetron Tanah Air asal India

6 Min Read
Six people in festive Indian attire pose together indoors, with a Forbes Indonesia magazine cover on the wall behind them.
Keluarga Punjabi. (Foto: Instagram @manojpunjabimd)

Mabur.co – Bagi Anda penggemar sinetron di era 1990-an dan awal 2000-an, termasuk hingga saat ini, pastinya sudah tidak asing lagi dengan keluarga Punjabi, yang kerap dijuluki sebagai “raja sinetron”.

Sebagai orang India yang terkenal dengan serial Bollywood, dinasti Punjabi kerap malang-melintang memproduksi berbagai judul sinetron yang pernah hits di Indonesia, sebut saja Tersanjung (1998), Tuyul dan Mbak Yul (1997), Jinny Oh Jinny (1997), Jin dan Jun (1996), Gara-Gara (1992), Panji Manusia Millenium (1999), Cinta Fitri (2007), Bidadari (2000), Si Cecep (2004), dan masih banyak lagi, melalui rumah produksi yang didirikannya sendiri, yakni Multivision Plus (MVP) dan MD Entertainment.

Perjalanan keluarga Punjabi merajai dunia hiburan di Indonesia tidaklah semudah yang dibayangkan. Karena keluarga Punjabi awal datang ke Indonesia, akibat terjadinya gejolak di India, sekitar tahun 1947.

Mengutip dari laman Popmama, Selasa (1/9/2026), keluarga ini tentu saja tidak langsung mengawali kiprah di dunia multimedia dan industri hiburan.

Mengingat saat itu dunia hiburan juga masih sangat terbatas, dan lebih banyak mengandalkan radio serta koran, sebagai alat komunikasi (media) yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat sehari-hari.

Keluarga Punjabi mengawali bisnisnya di Indonesia lewat pedagangan tekstil pada 1964, ketika Raam Punjabi mulai merintis usaha impor tekstil secara mandiri di Surabaya, Jawa Timur.

Selanjutnya pada 1967, Raam bersama dua kakaknya, Dhammoo Punjabi dan Gobind Punjabi, mendirikan perusahaan importir film yang diberi nama PT Indako Film.

Kemudian pada 1969, usaha impor tekstil yang telah lama dirintisnya akhirnya ditinggalkan. Demi bisa fokus sepenuhnya di dunia perfilman atau hiburan.

Sempat Tak Laku

Setelah beralih sepenuhnya ke industri perfilman atau dunia syuting, Punjabi tidak serta merta langsung merasakan kesuksesan.

Pada 1972, Raam yang mendirikan PT Panorama FIlm, pernah bekerjasama dengan PT Aries Internasional FIlm, guna memproduksi film berjudul Mama, yang menjadi film Indonesia pertama dengan teknologi seluloid 70 milimeter pada saat itu. Sayang filmnya kurang laku ketika dilempar ke pasar.

Tak menyerah sampai di situ, berbagai judul film lainnya terus diproduksi oleh Raam Punjabi beserta keluarganya, sambil mengamati bagaimana selera pasar di Indonesia, ditambah dengan teknologi penyiaran baru yang terus bermunculan dari waktu ke waktu.

Dari Layar Lebar Jadi “Raja Sinetron”

Multivision Plus logo on an orange square with a purple triangle and geometric shapes forming the letters M V and P over a purple background panel.
Logo lawas rumah produksi Multivision Plus (MVP), milik dinasti keluarga Punjabi, yang kerap malang-melintang di berbagai sinetron era 1990-an dan 2000-an. (Foto: Audiovisual Identity Database)

Masa keemasan keluarga Punjabi di dunia industri hiburan terjadi pada era 1990-an, ketika satu per satu stasiun televisi swasta mulai hadir di layar kaca Indonesia, seperti RCTI (lahir tahun 1989), SCTV (1990), Indosiar (1995), ANTV (1993), dan seterusnya.

Peluang itu pun ditangkap keluarga Punjabi, dengan mendirikan rumah produksi bernama PT Tripar Multivision Plus Tbk (Multivision Plus atau MVP) pada akhir 1990. Mereka menyadari betul bahwa stasiun televisi swasta yang baru mengudara seperti di atas, sangatlah membutuhkan pasokan konten yang dapat menunjang siaran harian mereka.

Di situlah kemudian MVP hadir dan menyajikan tayangan-tayangan sinetron di layar kaca. Dari yang awalnya hanya tayang satu-dua kali seminggu, lalu Senin-Jumat, kemudian berkembang jadi setiap hari nonstop (stripping alias kejar tayang), dengan jumlah episode mencapai ribuan, yang terbagi dalam beberapa musim (season), dan seterusnya.

Secara total, rumah produksi keluarga Punjabi (Multivision Plus dan MD Entertainment) telah menghasilkan sekitar 485 judul sinetron, dalam rentang waktu 1992 hingga 2010-an awal, dan durasi mencapai lebih dari 9.000 jam tayang, atau sekitar 30 menit hingga 2 jam per satu episode.

Terus Berkembang

Poster film “Habibie-Ainun 3” (2019) yang diproduksi MD Pictures (anak produksi MD Entertainment) milik keluarga Punjabi. (Foto: MD Entertainment)

Seiring dengan perkembangan industri hiburan yang terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu, keluarga Punjabi pun tidak lantas berpuas diri dengan predikat “raja sinetron” saja.

Mereka ikut berkembang dan mengikuti selera pasar selanjutnya, yang kini beralih ke tayangan-tayangan inspiratif dari layar lebar, namun tetap relate dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Ketimbang terus-menerus membuat judul sinetron bertema fantasi, seperti Jin, Tuyul, atau manusia super, seperti era keemasan sinetron sebelumnya.

Mereka pun mulai lebih serius merambah ke dunia layar lebar, seperti saat awal merintis pada era 1970-an lalu. Sambil tetap menggarap beberapa judul sinetron bertemakan cinta kasih sayang, maupun dinamika kehidupan di daerah pelosok, meskipun gemerlapnya sudah tidak sebesar era 90-an hingga awal 2000-an lalu.

Adapun beberapa judul film produksi MD Entertainment yang cukup hits di pasaran antara lain Ayat-ayat Cinta (2017), Habibie Ainun (2012), KKN di Desa Penari (2022), Surga yang Tak Dirindukan (2015 dan 2017), Di Bawah Lindungan Ka’bah (2011), Ipar Adalah Maut (2024), dan masih banyak lagi.

Tak pelak lagi, keluarga Punjabi memang sudah menancapkan dinastinya di jagat hiburan tanah air sejak beberapa dekade lalu, dan terus mempertahankan eksistensinya hingga sekarang.

Meskipun mereka adalah keluarga yang berasal dari India, namun pengaruh yang diciptakan di Indonesia bisa dibilang sangatlah besar, dan mampu menjadi branding yang sangat kuat di kalangan keluarga Indonesia.

Sehingga konten produksi keluarga Punjabi tetap eksis sebagai pilihan hiburan bagi masyarakat Indonesia dari generasi ke generasi, tanpa pernah terputus atau berhenti di tengah jalan.

Berkat inovasi dan ketekunan yang tak kenal lelah dan tanpa henti, membuat mereka dikenal luas sebagai gudangnya penghasil artis-artis papan atas, di samping juga raja sinetron, dengan pemilihan judul yang unik dan mudah diingat oleh banyak orang. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar