Arsitektur Gedung Agung Yogyakarta, Perpaduan Gaya Kolonial dengan Sentuhan Iklim Lokal

4 Min Read
White colonial-style public building with a red-tiled roof, arched entrance, and a row of columns along a covered veranda; palm trees to the left.
Bangunan depan Gedung Agung Yogyakarta (Foto: Pemprov DIY)

Mabur.co – Jika Jakarta memiliki Istana Merdeka sebagai kediaman Presiden Republik Indonesia, maka Yogyakarta memiliki Gedung Agung, yang menjadi kediaman Presiden selama bertugas di DIY, sekaligus sebagai tempat resmi untuk menyambut tamu-tamu agung yang datang ke Yogyakarta, dan seterusnya.

Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026), Gedung Agung Yogyakarta berlokasi di pusat Kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Jenderal Ahmad Yani (atau bisa juga disebut Jalan Margo Mulyo), Kalurahan Ngupasan, Kapanewon Gondomanan, Kota Yogyakarta, yang juga menjadi kawasan Titik Nol Kilometer, atau kawasan Malioboro.

Bangunan Gedung Agung ini dirancang pertama kali pada bulan Mei 1824, yang diprakarsai oleh Residen Yogyakarta ke-18, Anthonie Hendriks Smissaert.

Ia menghendaki adanya “istana” yang berwibawa bagi para residen Belanda pada saat itu, dengan bantuan seorang arsitek bernama A. Payen.

Pembangunan istana ini sempat terhambat selama beberapa tahun, akibat pecahnya Perang Diponegoro di seputaran Pulau Jawa, termasuk Yogyakarta, yang terjadi pada 1825-1830.

Kemudian bangunan ini kembali mengalami kerusakan pada 1867, akibat terjadinya gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,8 pada 10 Juni 1867. Gedung Agung pun kembali harus dibongkar dan direnovasi ulang, sebelum akhirnya benar-benar selesai pada 1869.

Arsitektur Kolonial Belanda

Bangunan Gedung Agung memadukan gaya arsitektur khas Indische Empire Style atau arsitektur kolonial Belanda yang disesuaikan dengan iklim tropis khas Indonesia, ditambah dengan sentuhan beberapa ornamen lokal khas Yogyakarta atau Indonesia.

Melalui perpaduan tersebut, Gedung Agung tampak berdiri kokoh, simetris pada bagian fasad (depan), serta memiliki pilar-pilar berukuran tinggi layaknya bangunan dari Eropa.

Di sisi lain, bagian jendela dan pintu di Gedung Agung dibuat dalam ukuran besar sekaligus tinggi, untuk menopang sirkulasi udara di sekitaran kawasan Gedung Agung.

Selain itu, Gedung Agung juga disusun dari dinding tebal yang berasal dari tembok beton, dilengkapi dengan tangga masuk utama di bagian depan.

Sentuhan Lokal yang Tetap Eksotis

Ada beberapa sentuhan lokal lainnya yang tersimpan di Gedung Agung ini, misalnya di area gerbang dan halaman depan, terdapat patung penjaga bernama Dwarapala, serta Tugu Dagoba, yang terbuat dari batu andesit Candi Buddha kuno.

Kedua ornamen ini dapat berpadu secara harmonis dengan estetika bangunan Gedung Agung, yang sangat kental dengan nuansa Eropa (Belanda).

Di bagian induk atau utama, Gedung Agung memiliki ruangan penting bernama Ruang Garuda, yang difungsikan untuk menyambut tamu-tamu dari negara lain yang berkunjung ke Yogyakarta. Bentuk aslinya tetap dipertahankan sejak renovasi besar-besaran pada 1869, setelah terjadinya gempa dahsyat pada dua tahun sebelumnya.

Di balik kemegahannya yang berdiri kokoh di pusat Kota Yogyakarta, Gedung Agung memegang peranan penting dalam tonggak sejarah Yogyakarta, maupun bangsa Indonesia secara umum.

Karena bangunan ini turut menjadi saksi bisu perjalanan panjang bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan, termasuk saat berusaha mempertahankannya, dengan menjadi ibu kota sementara selama tiga tahun, tepatnya pada 1946 hingga 1949.

Apalagi bangunan ini memang tidak banyak mengalami renovasi maupun pemugaran secara besar-besaran sejak saat itu. Sehingga ciri khas bangunan bergaya Eropa itu masih tetap eksis sampai sekarang dan bisa disaksikan oleh siapa pun yang berkunjung ke sana.

Tak salah memang, jika kemudian Gedung Agung Yogyakarta juga dinobatkan sebagai salah satu cagar budaya nasional, yang ditetapkan secara resmi oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) pada tahun 2011 lalu. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar