Mabur.co – Warga Mojohuro, Sriharjo, Imogiri, Bantul, Yogyakarta, memproduksi mi instan dan mi cup berbahan baku tepung singkong atau mocaf.
Hal itu untuk menyadarkan pentingnya kesehatan dan meningkatkan perekonomian masyarakat. Sekilas orang melihat, kemasan mi ini tidak jauh berbeda dengan kemasan mi instan yang beredar di pasaran. Namun bila disimak lebih lanjut, akan terlihat perbedaannya pada mi ‘Srimi’ ini.
Inovasi Lokal
Salah satu produk dari Kalurahan Sriharjo, Bantul ini, berbahan dasar Mocaf. Produk inovasi lokal mi mocaf ini menjadi salah satu terobosan olahan pangan sehat dari salah satu kalurahan yang berada di Kapanewon Imogiri, Bantul, tersebut.
Seperti diketahui, mocaf atau Modified Cassava Flour merupakan produk tepung dari singkong yang termodifikasi.

Lurah Sriharjo, Titik Istiyawatun Khasanah, S.IP., mengatakan, Srimi, mi instan yang terbuat dari tepung mocaf, merupakan salah satu olahan dari BUMKal Sri Rejeki, Kalurahan Sriharjo, Imogiri.
“Mi ini berangkat dari idealisme bahwa masyarakat kita bergantung pada gandum, sehingga bagaimana kita mencari alternatif lain selain gandum yang ada di sekitar kita, yaitu ketela,” jelasnya, Kamis (3/9/2026).
Titik mengatakan, di tahap awal, ada lima warga yang dilibatkan dalam proses produksi. Kelima warga tersebut adalah ibu-ibu yang tergabung dalam PKK Kalurahan Sriharjo.
Kelima ibu-ibu tersebut bertugas untuk produksi mi, mulai dari mengubah singkong menjadi adonan dengan campuran (mocaf), terigu, dan tapioka.
Setelah itu adonan digiling menggunakan mesin hingga menghasilkan potongan mi. Potongan mi tersebut kemudian dikukus dan dikeringkan.
“Setelah itu baru tahap pengemasan. Ada tiga produk kemasan yang kami produksi, yakni mi instan, cup dan ekonomi,” terangnya.
Menurut Titik, untuk harga yang ditawarkan, ada tiga varian harga. Untuk Srimi dalam bentuk mi instan dibanderol Rp7.000 per pcs, Rp8.000 untuk kemasan cup, dan Rp6.000 untuk kemasan ekonomi.
Ada pun rasa yang ditawarkan ada baso dan ayam bawang.
“Khusus untuk varian ekonomi, tidak ada bumbunya. Hanya mi saja. Memang mahal, tapi kan ini kami menjual nilai kesehatannya. Kita tahu manfaat dari tepung mocaf ini kan bagus untuk diet,” jelasnya.
Bisa sebagai Camilan
Titik berharap ke depan, warga Sriharjo bisa mengoptimalkan Srimi sebagai bahan camilan yang bisa dibawa masyarakat saat acara kematian (takziah). Sebab, warga Sriharjo mempunyai budaya membawa mi instan saat melayat.
“Jadi nanti bisa kami modifikasi bahannya. Karena jika full memakai tepung mocaf tentu harganya mahal jika dibandingkan mi instan yang saat ini beredar,” katanya.
Titik menuturkan, harga untuk Srimi yang ditawarkan bagi warga yang ingin membawa mi ke takziah bisa lebih terjangkau.
Sejauh ini jumlah Srimi diproduksi sesuai dengan pesanan. Ke depan, pihaknya akan memproduksi secara massal dan menjualnya melalui offline maupun online.
“Kami sudah merancangnya. Untuk penjualan online, kami ada toko online, sedangkan untuk offline kami optimalkan gerai di rumah produksi ini,” ucapnya.
