Ketua IKAPI DIY: Minat Baca Masyarakat Indonesia Tidak Seburuk Survei

3 Min Read
Long table covered with books at an outdoor book fair, with people browsing and chatting nearby.
Masyarakat melihat koleksi buku bacaan fisik, dalam kegiatan Festival Sastra Yogyakarta (FSY) tahun 2024. (Foto: Dok. Azka Qintory)

Mabur.co – Di era yang sudah serba canggih seperti saat ini, banyak orang mulai meninggalkan bacaan buku fisik, dan lebih suka membaca sesuatu yang tersedia secara audiovisual di ponsel dan semacamnya.

Akibatnya, banyak buku bacaan yang kurang laku di pasaran, jarang dibaca (atau disentuh), dan hanya jadi pajangan di rak buku di dalam rumah, dan sebagainya.

Namun bagi Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY, hal itu tidak sepenuhnya tepat, khususnya jika melihat perkembangan di Yogyakarta dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Ketua IKAPI DIY, Wawan Arif Rahmat, minat baca masyarakat Indonesia tidak seburuk seperti yang digambarkan oleh banyak orang, termasuk dari survei internasional sekalipun.

Karena nyatanya, di tengah gempuran teknologi dan konten berbasis audiovisual yang bisa diakses dengan mudah setiap harinya, masyarakat tetap memiliki minat baca yang cukup tinggi sampai saat ini.

“Dalam beberapa tahun terakhir ini, kami sudah menghidupkan kembali event-event literasi buku, di mana dalam satu hari, kita bisa mendatangkan rata-rata mencapai ribuan pengunjung. Sekitar seribu sampai dua ribu. Bahkan dalam data kami, puncak keramaiannya itu bisa mencapai lima ribuan orang per hari, angka segitu untuk ukuran event buku itu tergolong sangat besar.

Dan menariknya lagi, 80% pengunjung itu rata-rata berasal dari Gen Z, dan jangan salah, mereka itu juga banyak memburu bahan-bahan bacaan yang variatif, termasuk salah satunya ke filsafat juga. Jadi kami tidak begitu mempercayai beberapa rilis yang konon berasal dari survei dan semacamnya, yang menyatakan bahwa minat baca masyarakat itu rendah, atau bahkan sudah digantikan sepenuhnya oleh gadget, dan sebagainya,” ungkap Kepala IKAPI DIY, Wawan Arif Rahmat, seperti dilansir dari kanal YouTube Paniradya Kaistimewan, Kamis (3/9/2026).

Ekosistem yang Masih Mendukung

Wawan menambahkan, faktor yang menghambat minat baca masyarakat itu bukan dari keengganan mereka membaca, melainkan lebih kepada sulitnya akses yang bisa diperoleh, untuk mendapatkan bacaan tersebut.

Apalagi di Jogja sendiri, masyarakat masih menaruh perhatian yang cukup tinggi terhadap budaya literasi maupun minat baca. Baik dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan, maupun yang menyertakan buku-buku bacaan sebagai sajian tambahan di tempat mereka.

“Memang ada sebuah penelitian internasional, yang mengungkapkan bahwa Indonesia itu berada di ‘zona degradasi’ (peringkat bawah) dalam konteks minat baca buku. Tetapi yang sebenarnya terjadi, khususnya di Jogja ini, yaitu akses bacaannya yang masih terkendala.

Buktinya kita ketahui juga bahwa di Jogja ini masih banyak toko buku di mana-mana, masih banyak event literasi di berbagai tempat, bahkan di sudut-sudut gang kecil juga ada coffee shop, yang di dalamnya juga ada kumpulan buku. Kita patut bersyukur, bahwa ekosistem di Jogja masih sangat mendukung (untuk pemenuhan budaya literasi), karena di kota lain belum tentu bisa seperti ini,” tambah Wawan.

Namun demikian, Wawan tak menampik kenyataan bahwa minat baca masyarakat memang harus terus dijaga sedemikian rupa, agar tidak lantas turun atau hilang begitu saja, yang dapat mengakibatkan penurunan tingkat literasi, dan seterusnya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar