Literasi Aksara Jawa, Memahami Makna Asli Naskah Kuno Warisan Leluhur

5 Min Read
Exhibit panel titled 'Aksara Nusantara' showing a layout of multiple script samples with descriptive text on the left.
Saat penggunaan bahasa lokal kian minim di era mondial, semangat pelestarian aksara Jawa masih membara di Daerah Istimewa Yogyakarta. (Ilustrasi Foto: Istimewa)

Mabur.co – Saat penggunaan bahasa lokal kian minim di era mondial, semangat pelestarian aksara Jawa masih membara di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hanya saja, ibarat jika dulu dongeng Aji Saka sudah cukup menarik anak-anak belajar, kini upaya literasi didorong kian kreatif. 

Pejuang kelestarian aksara Jawa dan vokalis Genk Kobra, Joko Elysanto, mengatakan, sejarah aksara Jawa bukan sekadar deretan dua puluh huruf yang berawal dari Ha dan berakhir pada Nga.

Falsafah Hidup Jawa

Ia adalah manifestasi dari falsafah hidup masyarakat Jawa yang begitu kaya akan makna.

“Aksara Jawa atau Hanacaraka, memiliki akar yang merentang jauh hingga ke era aksara Brahmi di India. Berevolusi melalui aksara Kawi pada masa kejayaan Nusantara, hingga mencapai bentuk paling estetik di era Mataram Islam,” ucapnya, Kamis (3/9/2026), malam, usai mengisi bincang literasi Magisme Aksara Nusantara di Halaman Grhatama Pustaka, DPAD, DIY.

Person seated on stage speaking into a handheld microphone, with water bottles and boxed items on a table in front and a teal backdrop behind them.
Pejuang kelestarian aksara Jawa dan vokalis Genk Kobra, Joko Elysanto. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Menurut Joko, bentuk melengkung dan mengalun pada setiap huruf Jawa adalah prasasti identitas. Pengenalan sejarah ini menjadi fondasi yang kokoh, menanamkan rasa hormat dan kepemilikan terhadap warisan adiluhung sebelum para pembuatnya menyentuh pena.

“Bagi masyarakat modern yang terbiasa dengan kepraktisan alfabet Latin, merangkai aksara nglegena, pasangan, dan sandhangan sering kali dianggap momok yang rumit.

Aksara Jawa sebagai Laku Meditasi

Menulis aksara Jawa dengan tangan menjelma menjadi laku meditasi tersendiri. Yakni memaksa tangan untuk melambat, memikirkan bunyi sebelum menggoreskan makna di atas kertas, dan menghargai setiap lekukan huruf. Jika pembelajaran berhenti pada medium kertas dan tinta, aksara Jawa mungkin hanya akan bertahan di ruang-ruang arsip,” katanya.

Menurut Joko pula, membuat dan mengkonversi aksara Jawa ke musik menjadi tantangan menarik. Musik sendiri merupakan komponen budaya, bersifat universal. 

“Budaya dan musik adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Contoh sederhana saja, karena aku tinggal di Jawa terbiasa menggunakan bahasa Jawa. Jadi, aku juga sangat akrab dengan lagu-lagu berbahasa Jawa. Misalnya Gundul-gundul Pacul atau Suwe Ora Jamu,” katanya.

Joko menuturkan, aksara Jawa bukan sekadar sistem tulisan yang digunakan oleh masyarakat Jawa pada masa lampau.

“Di balik setiap bentuk huruf dan tata penulisannya, tersimpan nilai-nilai filosofis yang mencerminkan cara berpikir, sikap hidup, serta karakter masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi keselarasan dan tata krama,” ucapnya.

Konsep Hidup Warisan Leluhur

Joko menjelaskan, pemahaman terhadap aksara Jawa dapat membantu masyarakat mengenali berbagai konsep hidup yang diwariskan para leluhur.

“Banyak ajaran moral, etika, hingga pandangan hidup yang terdokumentasikan dalam naskah-naskah beraksara Jawa dan masih relevan untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan modern saat ini,” katanya.

Karakter orang Jawa selama ini, lanjut Joko, dikenal dengan sifat andhap asor, tepa selira, gotong royong, serta mengedepankan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut tidak lahir begitu saja, melainkan diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan maupun tulisan, termasuk melalui aksara Jawa.

“Ketika belajar aksara Jawa dan tata tulisnya, sesungguhnya tanpa disadari otak bawah sadar kita ditata dengan berbagai fondasi perilaku untuk membentuk karakter halus, indah dan luwes yang disebabkan oleh bentuk dan cara menuliskan aksara.

Selain itu, menjadikan seorang pendengar yang baik dan selalu berhati-hati karena dalam tata tulis aksara Jawa terdapat tanda-tanda vokal (taling) yang harus ditulis terlebih dulu sebelum aksaranya, dan juga ada aksara pasangan. Oleh sebab itu, kita harus mendengarkan kalimat yang utuh dulu agar kita bisa menuliskan penempatan sandhangan dan pasangannya secara tepat,” jelasnya.

Makna Asli Naskah Kuno

Joko menjelaskan, kemampuan membaca aksara Jawa memungkinkan generasi muda untuk memahami makna asli dari berbagai karya sastra dan naskah kuno. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengenal budaya Jawa dari permukaan, tetapi juga dapat menggali pesan-pesan mendalam yang terkandung di dalamnya.

“Ketika kita mempelajari aksara Jawa, sesungguhnya kita sedang mempelajari cara pandang orang Jawa terhadap kehidupan. Dari sana kita bisa memahami mengapa masyarakat Jawa memiliki karakter tertentu dalam berinteraksi, bermusyawarah, maupun menjaga hubungan sosial,” ujarnya.

Saat mempelajari aksara Jawa, lanjut Joko, akan menjadikan orang yang bijak dalam bersikap. Karena mengajarkan untuk selalu melihat sesuatu dalam konteks yang utuh, sebagaimana tulisan aksara Jawa yang bersambung (scriptio continua) dalam satu kalimat utuh.

Menjadi terbiasa melihat sebuah masalah dalam konteks yang utuh, tidak sepotong-potong, bahkan diajarkan menjadi orang yang sukar ditebak karena menyimpan gejolak rasa, dan pintar ber-sandhi menggunakan sanepan maupun pasemon.

“Masih banyak lagi sebenarnya perilaku Jawa yang bisa kita dulang dalam tata tulis aksara Jawa agar tidak menjadi wong Jawa sing ilang Jawane. Oleh sebab itu, belajar aksara Jawa menjadi sarana untuk mangasah mingising budi serta sumber perilaku Jawa,” terangnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar