Inilah Para Pemenang Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan Kementerian Kebudayaan 2026

7 Min Read
Six panelists seated on a stage during a Jakarta event with a large banner behind about a film production competition or theme.
Pengumuman pemenang Lomba Film Kepahlawanan 2026. Foto: Kemenkebud

Mabur.co – Upaya memajukan ekosistem perfilman tanah air, membuat Kementerian Kebudayaan menyelenggarakan sayembara produksi film bernarasi tentang kepahlawanan.

Dalam rilis yang diterima mabur.co, Sabtu (5/9/2026), pada “Pengumuman Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan” yang digelar di Graha Utama, Kompleks Kementerian Kebudayaan, Jakarta, telah diumumkan 20 pemenang program ini.

Sebanyak tujuh pemenang ditetapkan dari kategori Film Panjang dan 13 pemenang dari kategori Film Pendek.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyampaikan bahwa Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan 2026 merupakan langkah afirmatif untuk memperkuat genre film kepahlawanan dalam ekosistem perfilman nasional.

Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan kembali berbagai peristiwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan melalui medium sinema yang lebih dekat dengan masyarakat.

“Genre film kepahlawanan membutuhkan afirmasi agar semakin berkembang dalam ekosistem perfilman Indonesia. Melalui film, peristiwa-peristiwa penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan pada 1945 hingga 1950 dapat dihadirkan secara lebih dekat dan menarik kepada masyarakat, sekaligus memperkuat nilai kepahlawanan, patriotisme, nasionalisme, dan keteladanan,” ungkap Menbud.

Pengumuman pemenang disampaikan setelah seluruh proposal mengikuti rangkaian proses seleksi yang meliputi pemeriksaan administrasi, penilaian proposal dan naskah, presentasi atau pitching, hingga rapat pleno dewan juri.

Sejumlah aspek penilaian proposal menjadi dasar pemilihan pemenang, antara lain kekuatan gagasan, kualitas dan relevansi cerita, kesiapan produksi, pendekatan sinematik, serta kesesuaian narasi dengan konteks peristiwa perjuangan bangsa Indonesia pada periode 1945–1950.

Selama proses pendaftaran Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan 2026 yang berlangsung pada 10 Juli hingga 10 Agustus 2026, Kementerian Kebudayaan menerima 143 proposal yang terdiri atas 54 proposal kategori Film Panjang dan 89 proposal kategori Film Pendek.

Proposal tersebut menghadirkan beragam gagasan dan perspektif mengenai perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia serta dinamika sosial dan kemanusiaan yang berlangsung pada periode 1945–1950.

Seluruh proposal kemudian mengikuti proses seleksi sesuai dengan ketentuan dan kriteria yang telah ditetapkan dalam pedoman program. Untuk menjaga proses penilaian berlangsung secara komprehensif.

Kementerian Kebudayaan melibatkan para sineas dan sejarawan sebagai dewan juri. Keterlibatan kedua unsur tersebut memberikan pertimbangan terhadap aspek artistik dan sinematik, kualitas penceritaan, kesiapan produksi, serta ketepatan dalam menggambarkan peristiwa dan konteks sejarah yang menjadi latar cerita.

Pada kategori Film Pendek, dewan juri terdiri atas sineas Putrama Pradjawasita, Perlita Desiani, dan Angkasa Ramadhan; bersama sejarawan Hasril Chaniago dan Mahpudi.

Sementara itu dewan juri kategori Film Panjang dari unsur sineas terdiri atas Tesadesrada Ryza, Salman Aristo, Tumpal Christian Pratama, Happy Salma, Nurman Hakim, Asaf Antariksa Riyanto, serta R.A.J. Siti N. Kusumastuti. Unsur sejarawan diwakili oleh M. Yuanda Zara dan G. Ambar Wulan.

Para Pemenang

Berdasarkan hasil rapat pleno dewan juri, tujuh pemenang kategori Film Panjang antara lain Barisan Penghibur dengan produser Nia Zulkarnaen, sutradara Ari Sihasale, dan penulis skenario Sugeng Wahyudi; Hoegeng: Yang Ada Tinggal Nama dengan produser Giovanni Rahmadeva, Axel Hadiningrat, dan Krisnadi Ramajaya Hoegeng, sutradara Loeloe Hendra Komara, serta penulis skenario Krisnadi Ramajaya Hoegeng dan Loeloe Hendra Komara; Rengasdengklok dengan produser Taufan Adryan, sutradara Farishad I. Latjuba, dan penulis skenario Ifan Ismail; serta Kapalselam Kalibayam dengan produser Dani Rachman Fauzi, sutradara Kuntz Agus, dan penulis skenario Tito Imanda.

Tiga pemenang lainnya dalam kategori Film Panjang adalah Sakura di Telawang dengan produser Hamonangan, sutradara Lola Amaria, dan penulis skenario Ni Ketut Yuni Suastini; Rai dengan produser Parama Adi Wirasmo, sutradara Rako Prijanto, dan penulis skenario Tamawal Frans M.; serta Pintu Tertutup dengan produser Wiendy Widasari, sutradara Hanny R. Saputra, dan penulis skenario Abdurrohman Syakbani Nasution.

Untuk kategori Film Pendek, pemenang terdiri atas Arang Kobar Juang dengan produser Dhiwangkara Seta, sutradara sekaligus penulis skenario Noel Pendawa; Belantara Raya dengan produser Rifqi Mardhani, sutradara Ilham Prajatama, dan penulis skenario Dafriansyah Putra; Buleun Purnama, di Nanggroe dengan produser Asmara Abigail dan Dani Huda, sutradara Dani Huda, serta penulis skenario Dani Huda, Chandra Cahyana, dan Raisa

Kamila; Darah Djoeang dengan produser Fanny Chotimah, sutradara Reni Apriliana, dan penulis skenario Ardhika Surya Adhi; serta Desing Peluru Tak Bertuan dengan produser Iqbal Mohammad Hamdan, sutradara sekaligus penulis skenario Sandi Akbar Paputungan.

Pemenang berikutnya adalah Ibu Raih dengan produser Theo Maulana, sutradara sekaligus penulis skenario Janice Angelica; Jam 7 Pagi (Makassar, 1947) dengan produser Ayu Kartika, sutradara sekaligus penulis skenario Zhaddam A. Nurdin; Menara Terakhir dengan produser Gerald A., sutradara Sarah Adilah, dan penulis skenario Mohammad Iqbal; serta Operasi Malino: Lembar yang Hilang dengan produser Muhammad Ilham Mustain Murda, sutradara Wahyu Mika, serta penulis skenario Wahyu Mika dan Muhammad Ilham Mustain Murda.

Empat pemenang lainnya adalah Seriboe Soedirman dengan produser Nisa F., sutradara Edy Wibowo, serta penulis skenario Tri Wahyudi dan Suharmono; Suara Republik dengan produser Muhammad Kholiq, sutradara BW Purbanegara, dan penulis skenario Luhki Herwanayogi; Timur 1950 dengan produser Andi Arfan Sabran, sutradara Muh. Ishak Iskandar, dan penulis skenario Andi Arfan Sabran; serta Yang Tenggelam Saat Fajar dengan produser Ronantikarunia, sutradara May Ramadhan, dan penulis skenario May Ramadhan dan Zydan Nabil.

Menbud Fadli Zon menilai karya-karya yang terpilih memiliki potensi untuk memperkaya khazanah perfilman Indonesia sekaligus membuka ruang kolaborasi antara sineas dan berbagai bidang keahlian yang terkait dengan sejarah dan kebudayaan.

“Kita ingin film-film ini selain kuat secara artistik dan sinematik, tetapi juga berbasis riset dan akurat secara historis. Lebih dari itu, film-film tersebut harus mampu menghidupkan kembali literasi kepahlawanan dan membuat generasi muda, khususnya milenial dan Gen Z, semakin dekat dengan sejarah serta nilai-nilai perjuangan bangsa,” tambah Menbud.

Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar