Kunjungi Kedaton Tidore, Gunung Gamalama Jadi Saksi Pelayaran (Bagian 1)

3 Min Read
Coastal town built on a hillside with a main road running toward the sea, red-roofed houses and palm trees lining the street.
Melihat lanskap Tidore dari Bukit Benteng Tahula. Foto: Dok Pribadi

Mesin menderu di lambung kapal, tanda penyeberangan dan petualangan dimulai dari Ternate ke Tidore. Tali kapal dilepas dari tiang-tiang dermaga, Om Hilman, pemiliki kapal, segera merapikannya ke dalam lambung kapal dan berlari kembali ke belakang, memperbaiki posisi duduk di dekat mesin tempel (outboard motor) bensin.

Kapal ini biasanya menggunakan 2 hingga 3 unit mesin sekaligus per kapal. Kapasitas mesinnya rata-rata berkisar antara 40 PK hingga 200 PK per mesin. Kecepatannya sekitar 20-25 knot (37 – 46 km/jam).

Dengan begitu penyeberangan dari Ternate ke Tidore hanya membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit. Itu setara dengan kecepatan mobil dan motor di daratan antara 40-50 km per jam.

Boating scene: white wake and spray in the foreground, with a coastal town along the shore and a green mountain under a partly cloudy sky.
Berlayar ke Tidore, disaksikan Gunung Gamalama. Foto: Dok Pribadi

Dermaga menjauh dari kapal perlahan. Air beriak di bawah lambung kapal, berbusa memutih di belakang kapal, menciptakan gelombang kecil dan arus sepanjang pelayaran, menjadi jejak perjalanan saya hari itu seolah mengantarkan ke mimpi lama, berpetualang dari Ternate ke Tidore, disaksikan kemegahan Gunung Gamalama dari kejauhan.

Ya, akhirnya petualangan ini kumulai juga. Menyeberangi lautan biru menuju Pulau Tidore. Deburan ombak dan angin laut mengiringi pelayaran yang menawarkan pemandangan, gugusan pulau eksotis Maluku Utara.

Negeri Pala

Pelabuhan Bastiong telah jauh kami tinggalkan dan Pelabuhan Soasio menyambut kami di depan. Tali kapal segera dilemparkan dan dikatkan ke tiang-tiang dermaga, uhhh….udara menyeruak, asin laut dan aroma rempah menyambut kami pertama kali menjejalkan kaki di Negeri Pala ini. Sejarah seperti memutar waktu dan membisiki kami di  pelabuhan tua ini.

Tidore bukan sekadar pulau kecil, melainkan saksi kejayaan sebuah kesultanan besar. Eksplorasi dimulai dari Kelurahan Soasio, pusat Kesultanan Tidore, tempat berdiri megah Kedaton Kesultanan Tidore yang menyimpan berbagai artefak bersejarah para sultan.

Di sinilah jejak kejayaan rempah-rempah dunia bermula. Tak salah jika Spanyol, Portugis dan Belanda membidik pulau ini dan membangun benteng pertahanan di sini.

Dari Kedaton Kesultanan Tidore, tak lengkap rasanya jika tak menyingkap sisa pertahanan masa kolonial. Benteng Tahula dan Benteng Torre, yang berdiri kokoh di atas bukit karang, menawarkan panorama laut lepas yang memukau sekaligus menjadi saksi bisu pengaruh antara Portugis, Spanyol, dan Belanda.

Hari itu kami tutup dengan melanjutkan perjalanan menikmati senja di Pantai Rum sambil mencicipi kuliner khas seperti kasbi dan papeda. Sebab menjelajahi Tidore adalah menapaki sejarah, meresapi keindahan alam vulkanik yang dramatis, dan merasakan kehangatan budaya maritim yang abadi.

Perjalanan selanjutnya, saya akan mengitari Pulau Ternate, melihat dari dekat Pulau Maitara dan eksotika Ternate lainnya. (Bersambung)

Share This Article
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar