‘Di Dalam Hutan di Bawah Layar’, Pengalaman Menonton Pameran Perupa Mandar dan Sumatra Utara (Bagian 1)

3 Min Read
Large textile artwork hangs from the ceiling in a gallery, featuring silhouettes of people in motion with yellow and dark blue borders as visitors look on.
Pengunjung sedang berkeliling dalam ruangan melihat objek yang dipamerkan. Foto: Dok. Cemeti

Memasuki ruang pameran Cemeti Institute, sebuah ruangan persegi empat memanjang, kita disuguhi satu bentangan kain berupa serat kayu memanjang, dengan gambar menyerupai beberapa manusia yang sedang bergotong royong, seperti saling bantu mengangkat sesuaatu atau mereka sedang menyelesaikan sebuah pekerjaan.

Karya itu berjudul “Hail the Sail” karya seni campuran menggunakan daun gebang tenun tangan dari Mandar Sulawesi Barat dan Kulon Progo Yogyakarta (daerah pesisir Jawa selatan) serta potongan-potongan sarung sutra tenun tangan Sulawesi Selatan dengan berbagai motif.

Row of small botanical prints hanging in a white-walled gallery along the left wall, each on pale panels and taped at the bottom.
Dua sisi dinding pameran dengan objek yang berbeda. Foto: Dok. Cemeti

Di sisi yang lain, terdapat sejumlah gambar dalam pigura, berukuran besar dan kecil berbaris menghiasi dinding, bergambar menyerupai lanskap potret bumi atau aliran sungai, laut, hutan, lembah, dan pegunungan.

Pada pigura-pigura kecil kita bisa menyaksikan bentuk-bentuk daun, tangkai, dan hal-hal yang bersumber dari pohon.

Kolaborasi Dua Seniman

Mungkin begitulah penonton awam akan mendeskripsikan pameran ini. Namun, apa sesungguhnya yang ingin diucapkan dan dipercakapkan Aliansyah Caniago dan Abdi Karya, dua seniman muda dari Pulau Sumatra dan Celebes (Sulawesi) ini.  

Pameran “Di Dalam Hutan di Bawah Layar” merupakan sebuah proposisi untuk membaca sejarah melalui kisah-kisah perjalanan, dari hutan di Barus Sumatra Utara, tempat pohon kamper tumbuh dalam kesunyian, dan dari pelabuhan Makassar, tempat layar-layar perahu Bugis menghadap laut lepas.

Pameran ini mengundang penonton untuk mengikuti jejak tersebut, bukan untuk mengulang romantisme kejayaan masa lalu, melainkan untuk membaca kembali hubungan yang terbentuk di sepanjang perjalanan.

Dalam karya Aliansyah Caniago, Barus di Sumatra Utara, hadir sebagai lanskap ingatan, sebuah tempat di mana pohon, tanah, manusia, dan sejarah saling terhubung.

Kamper yang tersembunyi di dalam tubuh pohon, dahulu keluar dari hutan, turun menuju pelabuhan, lalu menempuh perjalanan panjang ke pasar-pasar Asia.

Sedangkan dalam karya Abdi Karya, mengeksplorasi laut menjadi ruang ingatan yang menyimpan jejak pelayaran Bugis-Makassar, perjumpaan dengan masyarakat di seberang samudra, dan hubungan yang terbentuk melalui angin, arus, komoditas, dan waktu.

Sejarah yang Terus Bergerak

Dito Yuwono dan Mira Asriningtyas, Direktur Cemeti-Institute for Art and Society mengulas, pameran ini mempertemukan dua arah perjalanan, dari hutan menuju laut dan dari laut menuju dunia.

Yang tersisa setelah perjalanan panjang itu bukan hanya aroma kamper yang semakin samar atau laut yang menyimpan jejak pelayaran, tetapi juga pertanyaan tentang bagaimana kita memilih untuk mengingat sejarah yang terus bergerak. Pameran ini masih terus berlangsung bulan ini hingga akhir Oktober mendatang. (Bersambung)

TAGGED:
Share This Article
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar