Mabur.co – Tradisi sedekah laut kembali digelar dengan nuansa yang lebih sakral dan sarat makna. Prosesi ini menyimpan filosofi mendalam tentang hubungan manusia, alam, dan Sang Pencipta yang terus dijaga oleh masyarakat pesisir.
Dilansir dari berbagai sumber, Rabu (16/9/2026), dalam tradisi Jawa pesisir, kerbau memiliki makna kuat sebagai lambang kekuatan, keteguhan, dan pengorbanan.
Melarung kepala kerbau ke laut dimaknai sebagai bentuk penyerahan diri manusia kepada kehendak Tuhan, sekaligus permohonan agar laut tetap bersahabat dengan para nelayan.
Prosesi ini juga menjadi simbol “tebusan” spiritual, harapan agar segala mara bahaya di laut dapat dijauhkan, serta hasil tangkapan ikan tetap melimpah.
Sesaji lain seperti bubur tolak bala, sego buceng, dan hasil bumi turut memperkaya makna. Semuanya melambangkan keseimbangan hidup antara kerja keras manusia dan restu alam yang tak bisa dipisahkan.
Bagi masyarakat pesisir, laut bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang sakral yang harus dihormati.
Tradisi sedekah laut menjadi cara untuk “berdialog” dengan alam mengungkapkan rasa syukur sekaligus menjaga harmoni.
Larung Kerbau
Pencarian terhadap 8 orang yang terdiri dari 5 jurnalis dan 3 orang lainnya (kru dan guide) yang hilang kontak di sekitar Gunung Anak Krakatau memasuki hari ketujuh, Senin (14/9/2026).
Di tengah proses pencarian, warga dan nelayan di Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, menggelar tradisi larung kerbau ke tengah laut. Tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar delapan orang yang hilang segera ditemukan.
Larungan dilakukan sekitar pukul 14.10 WIB. Belasan warga menggunakan perahu nelayan untuk membawa seekor kerbau yang telah disembelih ke tengah laut, kemudian dilarung.
Siin yang menjadi pemandu dalam prosesi tersebut mengatakan, larung kerbau merupakan bentuk ikhtiar sekaligus permohonan kepada Allah SWT melalui doa dan penghormatan kepada karuhun atau leluhur.
“Sebenarnya mah itulah kita hanya sareat ya, tetap kita hakikat, hanya Gusti Allah yang mengabulkan. Ini mah atas kita, mohon bantu sareat kepada karuhun-karuhun [leluhur] kita, kita kan semua punya karuhun,” katanya, dilansir Kumparan.com, Rabu (16/9/2026).
Siin menegaskan tradisi tersebut tidak dimaksudkan untuk mengesampingkan keyakinan kepada Allah SWT.
Menurutnya, segala sesuatu yang terjadi tetap atas kehendak Allah.
“Contoh kita para wali atau para nabi itu karuhun-karuhun kita ya, yang perlu kita pinta bantuan, tapi jangan kita menghilangkan atau meninggalkan atas rahmat hidayah dari Allah Subhanahu wa ta’ala.
Karena segala hal apa yang membuktikan atau mengabulkan rencana-rencana manusia atau cita-cita manusia, yang benar atau salahnya hanya Allah,” ujarnya. ***
