Mengenal Rangkaian Pesta Adat Erau, Ritual Sakral Kesultanan Kutai Kartanegara 

6 Min Read
Crowd at a colorful festival featuring two large dragon costumes dancing among onlookers, with banners and participants taking photos.
Kemeriahan ritual mengulur naga dalam pesta adat Erau Kutai. (Foto: kukarpaper)

Mabur.co – Pesta Adat Erau Kutai 2026 kembali digelar di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, mulai awal pekan ini.

Festival Adat Erau Kutai merupakan salah satu festival budaya terbesar dan tertua yang ada di Indonesia. Pasalnya tradisi ini sudah ada sejak era kerajaan Kesultanan Kutai Kartanegara tahun 1300-an.

Baca Juga: https://mabur.co/budaya/festival-adat-erau-2026-resmi-dibuka-tradisi-kesultanan-kutai-yang-berusia-7-abad/

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bahkan menetapkan Erau Kartanegara sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2016 dalam domain adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan. 

Tak hanya itu, Festival Budaya Erau Adat Kutai 2026 juga telah resmi terpilih dan masuk ke dalam Top 100 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 oleh Kementerian Pariwisata. 

Tahun ini festival budaya Erau Kutai berlangsung pada 20–27 September 2026 di Tenggarong dan Kutai Lama, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Dikutip dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Kartanegara, Senin (21/9/2026), Erau 2026 ini mengusung tema “Raja Menjamu Rakyatnya”. 

Tema ini dipilih untuk menggambarkan hubungan antara Sultan, kerabat Kesultanan, dan masyarakat dalam sebuah perayaan yang tidak hanya bersifat adat, tetapi juga menjadi ruang pertemuan rakyat.

Rangkaian Ritual Pesta Adat Erau

1. Pendirian Pinang Ayu

Dalam Pesta Adat Erau ini rangkaian tradisi akan diawali dengan prosesi ritual pendirian Pinang Ayu digelar di halaman Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara atau Museum Mulawarman.

Pinang Ayu atau Tiang Ayu merupakan bagian penting dalam struktur ritual Erau. Tiang ini akan dihias dengan berbagai perlengkapan adat, termasuk janur dan kain berwarna kuning.

Dalam konteks Erau, keberadaan tiang ayu bukan sekadar dekorasi. Tiang tersebut menjadi pusat dari sejumlah rangkaian ritual berikutnya, termasuk Bepelas.

Pendirian Pinang Ayu juga menjadi simbol keterhubungan antara Kesultanan dan masyarakat. Pemerintah daerah menyebut Erau sebagai momentum pertemuan Sultan, kerabat Kesultanan, dan rakyat.

2. Beluluh

Setelah pembukaan, terdapat prosesi Beluluh yang menjadi salah satu ritual penting dalam Erau.

Secara adat, Beluluh berkaitan dengan pembersihan diri Sultan agar mendapatkan keselamatan, menghilangkan energi negatif dan membangkitkan energi positif.

Makna tersebut kemudian dikaitkan dengan tanggung jawab Sultan dalam menjalankan kepemimpinan, termasuk menjaga adat dan budaya.

Dengan demikian, Beluluh menjadi simbol harapan agar pemimpin mampu meninggalkan hal-hal negatif dan membawa nilai positif dalam kehidupan masyarakat.

3. Bepelas

Ritual berikutnya adalah Bepelas. Bepelas merupakan salah satu prosesi inti dalam rangkaian adat Erau. Ritual ini berkaitan erat dengan keberadaan Tiang Ayu dan posisi Sultan dalam struktur adat Kesultanan Kutai Kartanegara.

Dalam pelaksanaannya, Sultan menjalani prosesi Bepelas di sekitar Tiang Ayu. Karena itu, keberadaan Tiang Ayu yang telah didirikan sejak awal menjadi bagian penting dari rangkaian ritual ini.

Bepelas sendiri menggambarkan kuatnya simbol kekuasaan dan kepemimpinan Sultan dalam tradisi Kesultanan Kutai. Salah satu unsur yang menyertai Bepelas adalah Tari Ganjur.

Tari Ganjur ini merupakan tarian ritual Kesultanan Kutai Kartanegara yang menggambarkan para penarinya sebagai pasukan penjaga keamanan pangeran di sekitar Tiang Ayu. 

4. Mengulur Naga

Rangkaian Erau juga terdapat prosesi Mengulur Naga. Dalam prosesi ini, replika naga dari lingkungan Kesultanan dibawa menuju kawasan Kutai Lama yang menjadi ibukota Kerajaan Kutai sebelumnya. 

Berdasarkan penjelasan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, terdapat naga laki-laki dan naga bini yang kemudian dilabuh di Sungai Kutai Lama.

Kutai Lama sendiri memiliki kedudukan penting dalam sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara karena pernah menjadi pusat pemerintahan sebelum kemudian berpindah ke Tenggarong.

Prosesi naga tidak berhenti pada perjalanan simbolis. Setelah naga dilabuh, air yang berkaitan dengan prosesi tersebut, yang disebut Air Tuli, kemudian dibawa kembali ke keraton untuk digunakan dalam ritual berikutnya. 

Ritual Mengulur Naga sendiri digelar sebagai lambang kebaikan. Prosesi ini juga sekaligus memperlihatkan hubungan erat masyarakat Kutai dengan sungai. Yang merupakan bagian penting dari sejarah kehidupan dan kebudayaan masyarakat di sepanjang Mahakam.

5. Belimbur

Setelah rangkaian panjang ritual, Erau mencapai salah satu puncaknya melalui prosesi Belimbur. Belimbur dikenal sebagai prosesi penyiraman air kepada masyarakat. Tradisi ini memiliki makna simbolis sebagai penyucian diri.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyebut Belimbur sebagai simbol penyucian diri dan salah satu prosesi yang mengikat persaudaraan masyarakat Kutai. 

Air yang digunakan dalam rangkaian ini merupakan Air Tuli yang berasal dari Sungai Mahakam yang sebelumnya diambil dalam ritual Mengulur Naga. 

6. Merebahkan Pinang Ayu

Jika Mendirikan Pinang Ayu menjadi tanda dimulainya Erau, maka Merebahkan Pinang Ayu menjadi penanda berakhirnya rangkaian tersebut.

Pada Erau 2026, prosesi Merebahkan Pinang Ayu dijadwalkan berlangsung 28 September, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kota Tenggarong.

Prosesi ini menjadi penutup setelah rangkaian adat berlangsung selama beberapa hari.

Yang membuat Erau berbeda dari sekadar festival budaya adalah adanya pertemuan antara ritual Kesultanan dan keterlibatan masyarakat.

Pada Erau 2026, selain ritual adat, rangkaian acara juga diisi expo, bazar UMKM, pertunjukan seni, serta berbagai kegiatan kebudayaan dan masyarakat lainnya. 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar