Danau Tolire: Lubang Raksasa di Kaki Gamalama yang Menelan Sebuah Dosa (Bagian 4)

3 Min Read
Vibrant green crater lake surrounded by dense forest and a blue sky with a distant volcanic peak.
Danau Tolire Ternate. Foto: Gusti A

Dari bibir tebing, Tolire terlihat seperti mangkuk raksasa yang dilubangi Tuhan. Dindingnya curam, hampir 50 meter jatuh vertikal, airnya hijau pekat, tidak ada jalan turun. Di Ternate, danau ini bukan sekadar wisata, ia adalah peringatan.

Baca Juga: https://mabur.co/rekreasi/pulau-maitara-bertengger-di-uang-seribu-bagian-3/

Secara geologi, Tolire adalah maar, danau kawah. Pada 5 September 1775 terjadi gempa tektonik, disusul erupsi besar Gunung Gamalama 7 September 1775 yang menenggelamkan sebuah kampung bernama Solea Takomi.

Baca Juga: https://mabur.co/kolom/catatan-yang-tercecer-dari-kedaton-kesultanan-tidore-dan-benteng-tahula-bagian-2/

Lubang itulah yang kini menjadi Tolire Besar, seluas 5 hektar, dan 200 meter jaraknya dari Tolire adalah adiknya, Tolire Kecil. Tapi masyarakat Ternate punya versi lain yang lebih diingat.

Baca Juga: https://mabur.co/kolom/kunjungi-kedaton-tidore-gunung-gamalama-jadi-saksi-pelayaran-bagian-1/

“Konon di situ dulu ada desa. Pemimpinnya menghamili anak gadisnya sendiri. Orang kampung mengutuk, lalu alam ikut menghukum. Gempa datang, desa itu terperosok jadi danau,” tutur juru kunci setempat, menceritakan legenda yang diturunkan dari mulut ke mulut.

Legenda Buaya Putih

Dalam legenda itu diceritakan, sang putri sempat melarikan diri ke pesisir, tapi tanah tempat ia pijak ikut ambles. Jadilah Tolire Kecil, simbol sang putri. Tolire Besar adalah simbol sang ayah. Dan seluruh penduduk desa yang diam melihat dosa itu, dikutuk menjadi penjaga.

“Kalau hati bersih baru bisa lihat. Buaya putih, panjangnya bisa 10 meter, kadang muncul pas mau Magrib. Kata orang-orang kampung dulu,” kata seorang penjual jasa batu lempar di area danau. Itulah buaya putih.

Man in a black shirt with a crossbody bag stands at a cliff, facing a green lake and dense forested mountains under cloudy skies.",
Seorang pengunjung menguji mitos lempar batu di Danau Tolire. Foto: WiyakBWL

Tak ada yang berani memancing, apalagi berenang ke dalam danau itu. Pernah ada wisatawan nekat turun, hilang tak berbekas, begitu cerita warga. Patung buaya putih sengaja diletakkan di dekat warung sebagai pengingat: jangan macam-macam dan harus ekstra hati-hati di sekitar danau.

Misteri Lempar Batu

Misteri kedua adalah lempar batu. Ini atraksi wajib. Warga menjual 5 batu seharga Rp 5.000.

“Coba saja lempar sekuat tenaga, tidak akan pernah dengar bunyi plung,” tantang seorang ibu penjual batu. Dan benar. Entah karena gravitasi, angin tebing, atau kekuatan gaib seperti yang dipercaya, batu yang dilempar sejauh apa pun akan jatuh di bibir tebing, atau hilang sebelum menyentuh air.

Seorang pemandu lokal mengaku, “Pernah ada bule bawa senapan, ditembakkan ke danau, pelurunya juga tidak sampai ke air”.

Tolire bukan tempat untuk ditaklukkan. Ia tempat untuk diingat, bahwa alam di Ternate selalu punya cara menyimpan rahasia dan moral. (Bersambung)

Share This Article
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar