Susilo Nugroho dan Teater Gandrik, Olah Spirit Teater Tradisional Bergaya Panggung Modern

3 Min Read
Crowd of elderly people seated outdoors at a shaded gathering, many with masks around their necks, some looking at papers or phones beneath a tree backdrop.
Sepnu Heryanto (ujung kiri) aktor Teater Gandrik yang juga pernah berperan sebagai Kuriman di acara serial TVRI Yogya 'Mbangun Desa'. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Teater Gandrik dibentuk 13 September 1983 oleh Jujuk Prabowo, Heru Kesawa Murti, Susilo Nugroho, Sepnu Heryanto, dan Novi Budianto. 

Salah satu pendiri Teater Gandrik, Sepnu Heryanto, menuturkan, kelompok ini berawal dari kontingen Kapanewon Mantrijeron yang mengikuti Festival Pertunjukan Rakyat Tingkat Provinsi 1983. Sebenarnya kontingen ini memang juga dibentuk Jujuk bersama para pegiat teater lain di Yogyakarta.

“Saat itu Camat Mantrijeron, Kasuharto, memuji penampilan mereka karena berhasil meraih Juara Pertama Festival Teater Tingkat Provinsi dengan lakon bahasa Jawa. ‘Gandrik tenan koe ki, Cah‘. (Mengejutkan sekali kalian ini). Semenjak itu, Gandrik menjadi nama kelompok teater,” ucapnya, Selasa (22/9/2026).

Kembangkan Gaya Guyon Parikena

Menurut Sepnu, lakon-lakon Teater Gandrik kemudian mengembangkan gaya guyon parikena dengan menggunakan pola kritik khas rakyat kecil di Jawa.

Banyak pengamat juga menilai, sebagai kelompok, Teater Gandrik kemudian lebih dikenal mengembangkan estetika sampakan.

Para aktor memain-mainkan karakter dalam lakon-lakonnya secara luwes tanpa adanya batasan yang jelas antara aktor sebagai pemain dengan watak yang dimainkannya.  

Pada era Orde Baru, lakon-lakon garapan Teater Gandrik menjadi medium untuk melakukan kritik sosial sekaligus katarsis politik.

Teater Gandrik pun diperkuat oleh kehadiran Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, dan Whani Darmawan, yang memang tumbuh dalam lingkungan tradisi (Jawa) yang kental.

“Lingkungan tradisi ini turut memberi warna dalam karya Teater Gandrik. Bahkan menjadi awal mula penemuan identitas estetik yang berbeda dari generasi sebelumnya,” ucapnya.

Sepnu kembali menjelaskan, kelompok teater kontemporer Indonesia ini pun mampu mengolah bentuk dan spirit teater tradisional dengan gaya pemanggungan modern.

Eksistensinya terbukti dalam lakon Para Pensiunan 2049 (2019) yang dipentaskan dalam rangka perayaan hari jadi Teater Gandrik ke-36 di Yogyakarta dan Jakarta.

Karya garapan Djaduk Ferianto itu bercerita tentang para pensiunan yang ingin menikmati masa tua dan menunggu akhir hidup dengan tenang.

Dari sisi keanggotaan Teater Gandrik pun cenderung fleksibel, sehingga sering terjadi pergantian personel. Namun, mereka tetap berupaya menjaga solidaritas kelompok dengan melakukan proses bersama dalam menemukan idiom-idiom teater yang relevan dan orisinal untuk pementasan selanjutnya.

“Mereka memiliki tradisi mbethethi atau diskusi, menggali, dan menginterpretasi naskah. Saat ini, Teater Gandrik berada di bawah naungan Yayasan Bagong Kussudiardja,” ucapnya.

Susilo Tipe Orang Senang Latihan Teater

Terkait meninggalnya Susilo Nugroho, Sepnu Heryanto, memaparkan, tentu merasa kehilangan sekali.

“Susilo itu orangnya sangat lucu dan senang latihan. Orangnya sangat konsisten dan bertanggung jawab,” ucapnya.

Menurut Sepnu, terakhir satu pentas dengan Susilo Nugroho pada 2016. Sehari-harinya ia memang kadang main ke rumahnya.

“Saya sangat terkejut sekali. Tidak mengira. Tahu-tahu ada kabar meninggalnya lewat medsos Butet. Bertuliskan sumangga gusti (Susilo Nugroho/Den Baguse Ngarso/Teater Gandrik). Saya kira itu produk atau repertoar Susilo yang baru. Saya kira itu. Ternyata itu kabar duka,” ucapnya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar